Vakansiinfo – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), melalui Pusat Penguatan Karakter, bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP), menyelenggarakan Gelar Wicara bertajuk “Berdaya Hadapi Batasan” pada Kamis, 27 Juni 2024. Acara ini bertujuan menunjukkan peran strategis perempuan dalam mewujudkan kebinekaan global, toleransi, dan kedamaian.
Perempuan sering kali menjadi kelompok yang paling rentan saat terjadi konflik, namun mereka juga bisa menjadi inspirasi dalam penanganan konflik. Gelar Wicara ini mengangkat praktik baik dan kiprah nyata perempuan Indonesia dalam mengimplementasikan karakter kebinekaan global. Khususnya promosi kolaborasi lintas budaya, menolak prasangka, dan membantu kelompok dengan identitas berbeda.
Acara yang di laksanakan secara luring di Ruang Auditorium Perpustakaan Nasional ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama menghadirkan Franka Makarim dan Cinta Laura Kiehl. Sementara sesi kedua menghadirkan Ayu Kartika Dewi dan Kusumawati. Kedua sesi dimoderatori oleh Zackia Arfan dan di pandu oleh komika Zahra Shafiyah.
Kepala Pusat Penguatan Karakter, Rusprita Putri Utami, menjelaskan bahwa. Gelar Wicara ini merupakan forum dialog untuk menggagas kolaborasi lintas budaya serta mempromosikan sikap gotong royong dan solidaritas sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. “Acara ini merupakan ikhtiar kita bersama untuk membentuk generasi muda yang kritis, toleran, dan menghargai perbedaan, selaras dengan nilai-nilai Pancasila.” Ujarnya.
Ketua Umum DWP, Franka Makarim, yang aktif dalam mempromosikan pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Mengungkapkan bahwa perempuan memiliki nilai yang selalu di pegang teguh untuk mengatasi keterbatasan. Franka juga mengingatkan pentingnya menjadi pribadi yang otentik dan bersahabat dengan diri sendiri. “Kita adalah versi terbaik kita saat ini dan hal itu cukup untuk bekal kita dalam menjalankan peran di hidup kita,” tambahnya.
Ketangguhan tersebut membuat kaum perempuan memiliki daya juang dan tetap berkarya dalam berbagai himpitan dan keterbatasan. “Kaum perempuan memiliki peran untuk menciptakan dunia yang toleran dan damai,” ungkap Franka.
Hadir pula aktris Cinta Laura Kiehl, pendiri Yayasan Soekarseno Peduli, yang bertujuan merehabilitasi sekolah-sekolah rusak di Bogor, dan telah membantu lebih dari empat ratus anak sejak tahun 2006. Ia menceritakan pengalamannya sebagai korban perundungan saat awal meniti karir. “Saya mengalami perundungan selama hampir dua tahun, namun saya bangkit dan menunjukkan bahwa saya individu yang tangguh dan berprestasi. Kini saya ingin terus melakukan kegiatan yang membawa dampak positif untuk orang lain,” tutur Cinta.
Staf Khusus Presiden sekaligus Co-founder Sabang Merauke, Ayu Kartika Dewi, menceritakan bahwa pertolongan bisa datang dari siapapun tanpa memandang suku, agama, ras, maupun golongan. Ia menekankan pentingnya kebinekaan global dalam kehidupan. “Ketika studi di Duke University, Amerika Serikat, saya belajar memahami pentingnya toleransi beragama. Kala itu saya berbaur dan berteman dengan mahasiswa lain dari beragam agama,” ujarnya.
Turut hadir mahasiswi inspiratif peserta program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Sukmawati, dari Universitas Cokroaminoto Palopo yang menjalani program tersebut di Kota Malang, Jawa Timur. Sukma menceritakan pengalamannya ketika menjalani program Pertukaran Mahasiswa Merdeka. “Awalnya saya pikir sulit untuk berinteraksi, tapi setelah mengikuti program ini, berinteraksi dengan suku lain ternyata menyenangkan,” ungkapnya.
Gelar Wicara ini dihadiri oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Bidang Isu-Isu Strategis, Fiona Handayani; Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar; perwakilan dari Staf Khusus Mendikbudristek Bidang Komunikasi dan Media, serta diikuti oleh 180 peserta yang berasal dari mahasiswa dan jaringan masyarakat sipil.
(Eff)