Sab. Agu 30th, 2025

Operasi Rahasia: Menyelamatkan Kaucrit dari Penculikan Jemputan

Operasi Rahasia: Menyelamatkan Kaucrit dari Penculikan Jemputan
Sayang, operasi gagal di langkah pertama: gue nggak pake celana.

VakansiInfo – Petualangan sepeda biru kemarin itu ternyata cuma latihan.
Pagi ini misi sebenernya datang: nyelametin Kaucrit dari mobil misterius.
Tapi sebelum gue bergerak, Emakyan udah gendong gue sambil bilang,
“Itu jemputan sekolah, bukan penculik…”

Hari-hari berlalu seperti angin yang ogah menepi.
Dan pagi itu angin membawa satu kabar besar untuk si Robot Gedeg: Kaucrit mulai sekolah.

Kaucrit, sang penjaga dunia kecilnya, si penjaga cemilan, si satpam pagar depan, si pelapor segala gerak-gerik—kini resmi terikat seragam dan jadwal sekolah.

Dan bagi Acilo, si Robot Gedeg: ini artinya kebebasan.

Bebas berenang di kali, jalan-jalan ke Warung Galaxy, manjat pagar, manjat pohon bambu, atau manjat harapan jadi ninja.

“Siapa juga yang hobinya sekolah?” pikirnya.
“Hobi tuh berenang, naik genteng, guling-guling di tanah, bukan duduk diem sambil nyatet!”

Walau begitu, ia belum sepenuhnya yakin bisa hidup tanpa penjaga itu.
Masih sering celingak-celinguk, seolah ada tatapan yang mengawasi dari balik gorden.
Tapi itu cuma angin. Atau rasa kangen yang nyempil sebentar.

Pagi itu, suara ayam jago dari rumah sebelah pecah:
“KUKURUYUUUUK!!”
Disusul suara ayam lain yang kecetit keserempet ember,
“Kreeeekk… tek… PETEEEK!!!”
Panci dari dapur nyaring dipukul-pukul, bunyi sepatu diseret di lantai, dan… suara tivi menyala tapi belum ada yang nonton.

Di antara hiruk pikuk itu, di atas kasur kapuk dengan dipan kayu yang kalau gerak dikit langsung bunyi “krek krek krek”, si Robot Gedeg terbangun.
Pagi-pagi, bantalnya sudah menyerap hasil kerja keras malam itu: ngompol.

Baca Juga  Seminar Merajut Nusantara - BAKTI Kemkominfo RI “Literasi Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat”
Ngompol kok doyan?
Ya doyan lah.
Karena nidurin ompol tuh… ada sensasi dingin-dingin gimanaaa gitu. Hahahaha.

Ia bangkit dari kerajaan putra mahkota, matanya masih setengah buka.
Raba-raba nyari lantai, “Kok nggak nyampe-nyampe ya bawahnya?”
Lalu pelan-pelan ia merayap ke arah tembok seperti cicak-cicak di dinding.
Begitu sampai ruang tengah, ia melihat Teddy Bear setia—yang selalu mojok di samping tivi, pura-pura jadi penonton setia dunia manusia.

Mata Acilo menyapu sekeliling.
“Mungkin ini jam berapa sih?” pikirnya. “Kok orang-orang udah pada sibuk banget…”

Emakyan sedang sibuk menguncir rambut Kaucrit, sambil memakaikan kaus kaki putih bersih.

“Liat tuh, Mah… si Raja Ngompol udah bangun,” kata Kaucrit sambil nyengir.
“Sial… pantesan ini celana rasanya berat ya…”

Emakyan hanya menoleh sekilas. Si Robot Gedeg langsung pasang jurus andalannya:
senyum pasrah.

“Kakak, Mamah sama Acilo nggak nganterin sekolah, ya. Nanti ada jemputan nungguin di depan. Semua bekalnya udah Mamah taruh di tas,” kata Emakyan.
“Kakak hapalin ya mobil jemputannya. Kalo pulang jangan ke mana-mana dulu. Tunggu di tempat jemputan.”
“Baik, Mah,” jawab Kaucrit, sambil menenteng tas dan semangat.

Si Robot Gedeg hanya memandangi mereka dengan tatapan lelet penuh rasa ingin tahu.
Satu kata bikin telinganya gatel: mobil jemputan.

Ia mendekat, mencoba nimbrung ke dalam percakapan yang bukan dunianya.
“Huba bibu… bubu baba…” yah, bahasa alien khas bocah balita yang lagi latihan komunikasi.
Mereka tertawa. Kaucrit mencubit pipi adiknya sambil berkata,
“Kamu diem di rumah ya. Jangan main jauh-jauh. Nanti dikejar beruang…”
“Beruang?!” pikir Acilo. Matanya langsung nyari-nyari ke bawah meja.

Baca Juga  Peran Penting Pemuda Sebagai Penggerak Literasi Digital

Tapi dalam hatinya, ia tertawa:
“Asik! Nggak ada lagi yang maksa aku pake bando atau kunciran aneh-aneh di kepala!”

Tiiintin… Tiiintin…
Klakson mobil jemputan terdengar dari luar.
Seorang pemuda berperawakan besar datang. Ia berbincang sebentar dengan Emakyan, lalu menggandeng Kaucrit ke arah mobil yang terparkir di depan gang.

Acilo menonton semuanya dari balik pintu.
Perlahan matanya berkaca-kaca.
Lalu…
“Uwaaaaaa!!!”

Tangisnya meledak. Ia lari keluar rumah, kakinya kecil tapi semangatnya besar.
Ia menyusuri teras, melewati karung beras yang dijemur, terus lari sampai pagar rumah Pakrendra—tempat mobil jemputan berhenti sebentar.
Tangannya terangkat, seolah ingin ikut… atau paling nggak, ngucapin dadah.

Tapi belum juga sempat bersuara, Emakyan sudah sigap menggendongnya.
“Dah, jangan ikut-ikutan… itu buat anak sekolah,” katanya, setengah ketawa, setengah gemes.

Mobil jemputan itu perlahan menjauh, membawa Kaucrit…
Dan membawa serta separuh ketenangan rumah.

Yang nggak aku sangka, beberapa menit setelah itu… aku malah yakin lihat sesuatu gerak di bawah meja.
Kalau itu bukan beruang… berarti itu pocong kecil nyamar jadi guling.

(Acil)

Related Post