Toxic Leadership: Ketika Pemimpin Malah Jadi Beban Mental

Toxic Leadership: Ketika Pemimpin Malah Jadi Beban Mental

VakansiInfo – Di dunia kerja atau organisasi, pemimpin idealnya menjadi kompas—sosok yang bisa mengarahkan, mengayomi, dan memotivasi. Tapi kenyataan nggak selalu seindah itu. Kita sering menemukan tipe pemimpin yang justru bikin suasana kerja makin berat. Inilah yang di sebut toxic leadership: gaya kepemimpinan yang lebih fokus pada ego dan kepentingan pribadi, bukan pada perkembangan tim.

Dampaknya nggak main-main. Secara mental, anggota tim biasanya jadi yang paling dulu merasakan efeknya. Pemimpin yang suka menyalahkan, meremehkan, mengintimidasi, atau memanipulasi menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan. Orang-orang yang bekerja di bawahnya bisa mengalami stres berkepanjangan, kehilangan motivasi, mood berantakan, bahkan sulit tidur karena terus memikirkan interaksi negatif yang terjadi. Jika di biarkan terlalu lama, kondisi ini bisa mengarah pada burnout, dan tak jarang juga berdampak pada kesehatan fisik.

Di level organisasi, toxic leadership juga merusak banyak hal. Ketika suasana kerja tidak aman, anggota tim jadi enggan menyampaikan pendapat atau melaporkan masalah. Padahal masukan seperti itu sangat penting untuk inovasi dan perbaikan. Akhirnya, energi tim habis hanya untuk menghindari konflik atau menjaga perasaan pemimpin yang sensitif. Produktivitas turun, kolaborasi melemah, dan keputusan penting jadi lambat. Tak heran kalau angka resign meningkat—talenta terbaik biasanya memilih pergi untuk mencari lingkungan yang lebih sehat.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Langkah pertama adalah mengenali batasan. Sadari bahwa perilaku toksik mereka bukan cerminan nilai diri kita. Bedakan mana kritik yang benar-benar berguna dan mana yang hanya serangan pribadi. Tetap profesional sambil membuat jarak emosional bisa membantu menjaga kesehatan mental. Jangan lupa untuk mencari dukungan, baik dari rekan kerja yang bisa di percaya maupun dari profesional.

Jika semua cara sudah di coba tapi situasi tak kunjung membaik, mempertimbangkan pindah posisi atau mencari tempat baru adalah pilihan yang valid. Kesehatan mental jauh lebih penting di banding bertahan dalam lingkungan yang terus menguras energi.

Sebagai calon pemimpin di masa depan, situasi ini bisa menjadi pengingat penting: kekuasaan seharusnya digunakan untuk mendukung dan menguatkan, bukan untuk menjatuhkan. Pemimpin yang sehat akan membuat tim bertumbuh, bukan tenggelam.

(Ati)

About The Author

Pilihan Redaksi

Hotel Ciputra Jakarta Sambut Natal dengan “Season of Sparkles”

Hotel Ciputra Jakarta Sambut Natal dengan “Season of Sparkles”

Komunikasi: Kunci Berinteraksi dan Memahami Satu Sama Lain

Komunikasi: Kunci Berinteraksi dan Memahami Satu Sama Lain