Perjalanan jatuh bangun seorang hotelier sejati yang membangun kepemimpinan melalui keseimbangan, adaptasi, dan ketangguhan menghadapi perubahan zaman.
Vakansiinfo, Bandung – Di balik sosok tenang Aditya Maulana, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu lurus, tidak selalu nyaman, namun penuh pelajaran. Obrolan yang mengalir santai bersamanya terasa seperti membuka lembar demi lembar jurnal kehidupan seorang hotelier yang benar-benar ditempa oleh proses.
Pak Adit—begitu ia akrab disapa—bukan nama baru di dunia hospitality. Ia adalah tipe profesional yang “lahir dan besar” di industri ini. Kariernya dimulai jauh dari tanah air, lewat pengalaman magang di Belanda. Dari sana, langkahnya berlanjut menjadi seorang butler, posisi yang menuntut presisi, empati, dan standar pelayanan tinggi. Bahkan, pernah ada momen di mana tip yang ia terima bernilai ribuan dolar—bukan sekadar angka, tetapi simbol kepercayaan dan kepuasan tamu.
Namun hidup membawanya ke tikungan tak terduga. Dari dunia hotel yang elegan, Pak Adit justru masuk ke industri yang sama sekali berbeda: pabrik baja. Ia mengelola ribuan karyawan, ratusan hektare lahan, serta tanggung jawab besar terkait keamanan dan infrastruktur. Dunia yang keras, teknis, dan penuh tekanan. Di sanalah ia belajar bahwa kepemimpinan tidak mengenal sekat industri. Mengelola manusia, sistem, dan krisis memiliki benang merah yang sama—apa pun bidangnya.
Ketika akhirnya kembali ke hospitality, perspektifnya sudah jauh lebih kaya. Bagi Pak Adit, menjadi General Manager bukan soal otoritas, melainkan keseimbangan. Ia percaya bahwa pemimpin tidak harus selalu keras, apalagi kaku. Adaptasi adalah kunci, terutama dalam menghadapi Generasi Z. Pendekatan personal, memahami karakter, dan membuka ruang dialog jauh lebih efektif daripada sekadar instruksi satu arah.
Menariknya, ia juga tidak merasa pemimpin harus selalu punya jawaban. Justru sebaliknya, ia lebih suka memberi opsi, mendorong tim berpikir, lalu membiarkan mereka memilih solusi. Filosofi ini ia pelajari dari para mentor—salah satunya Pak Ardi Wilson—bahwa kepemimpinan sejati bersifat kontekstual, selalu case by case.
Dalam mengelola hotel, Pak Adit melihat perbedaan jelas antara menghadapi customer dan owner. Masalah dengan tamu, baginya, relatif bisa diselesaikan—dengan empati, pelayanan ekstra, atau kompensasi. Namun dengan owner, taruhannya jauh lebih besar: kepercayaan atas aset bernilai miliaran rupiah. Prinsipnya sederhana tapi tegas—kerjakan dulu, buktikan, baru berbicara. Kepercayaan tidak lahir dari perdebatan, melainkan dari konsistensi tindakan.
Ia juga tidak menutup mata terhadap masa-masa terberat dalam hidupnya. Fase jobless, kondisi keuangan minus saat Lebaran, tekanan mental yang datang bertubi-tubi—semuanya pernah ia rasakan. Justru dari titik terendah itulah lahir resiliensi dan rasa syukur. Pengalaman di pabrik baja semakin menguatkan keyakinannya bahwa skill hospitality, seperti general affairs dan facility management, sejatinya relevan di hampir semua sektor.
Kini, sebagai General Manager Vue Palace Hotel Bandung, tantangan datang dari berbagai arah. Usia bangunan, persaingan dengan ratusan hotel baru, hingga proses recovery manajemen yang telah berjalan empat tahun. Namun semua dijalani dengan satu keyakinan sederhana: hidup adalah proses dan sirkulasi.
Kejujuran dan komunikasi menjadi fondasi kepemimpinannya. Tapi yang membuatnya bertahan adalah keseimbangan—mengetahui kapan harus tegas, kapan harus merangkul. Kisahnya yang “terpaksa” memahami proyek batu jong-jong, membaca RAB bangunan, hingga terjun ke urusan teknis di luar latar belakang hospitality menjadi bukti bahwa pemimpin hebat adalah pembelajar cepat.
Dan dari perjalanan Pak Adit, satu hal terasa jelas: kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, dan tetap rendah hati di setiap fase kehidupan. (Red)



