
VakansiInfo, Jakarta – Usus buntu atau apendisitis merupakan peradangan pada apendiks, yaitu organ kecil berbentuk kantong yang menempel pada usus besar di bagian kanan bawah perut. Meski sering dianggap sepele, kondisi ini bisa berbahaya jika tidak segera ditangani secara medis.
Menurut dr. Desak Ketut N.S. Pramegia, Sp.B, Dokter Spesialis Bedah Umum RS Premier Bintaro, apendisitis umumnya terjadi akibat adanya penyumbatan di dalam apendiks. “Penyumbatan dapat disebabkan oleh tinja yang mengeras, infeksi, pembesaran jaringan limfoid, hingga benda asing. Kondisi ini membuat bakteri berkembang cepat dan memicu peradangan,” jelasnya.
Gejala paling umum dari usus buntu adalah nyeri perut yang awalnya terasa di sekitar pusar, lalu berpindah ke perut kanan bawah dan semakin bertambah parah. Keluhan ini sering disertai mual, muntah, penurunan nafsu makan, demam ringan, perut kembung, serta kesulitan buang gas atau buang air besar. Pada anak-anak dan lansia, gejala bisa tidak khas sehingga kerap terlambat dikenali.
“Jika nyeri perut kanan bawah semakin hebat dan tidak membaik, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mencegah komplikasi seperti pecahnya apendiks,” tambah dr. Desak.
Diagnosis usus buntu dilakukan melalui pemeriksaan fisik yang dikombinasikan dengan tes darah, tes urine, serta pemeriksaan pencitraan seperti USG atau CT scan. Penanganan utama apendisitis adalah operasi pengangkatan apendiks atau apendektomi, baik dengan metode laparoskopi maupun operasi terbuka, tergantung kondisi pasien.
Dengan penanganan yang cepat dan tepat, sebagian besar pasien usus buntu dapat pulih dengan baik tanpa komplikasi jangka panjang. (Eff)
