“Beauty, Brain, Behavior”: Cerita Kolaborasi yang Menguatkan Perempuan Indonesia
2 mins read

“Beauty, Brain, Behavior”: Cerita Kolaborasi yang Menguatkan Perempuan Indonesia

👁️ 16 views

VakansiInfo, Jakarta – Pagi itu Jumat (17/4/2026), suasana di kawasan Mangga Dua terasa sedikit berbeda. Bukan karena hiruk-pikuk perdagangan yang biasanya ramai, tapi karena ada semangat baru yang sedang dirajut—tentang perempuan, tentang mimpi, dan tentang keberanian untuk melangkah lebih jauh.

Di salah satu ruangan di Eljohn Academy, sebuah kolaborasi sederhana namun penuh makna resmi dimulai. Bersama Perempuan Tionghoa Indonesia Emas (PTIE), mereka menandatangani sebuah komitmen yang bukan hanya soal kerja sama, tapi tentang masa depan perempuan Indonesia.

Bukan rahasia lagi, banyak perempuan hebat di luar sana yang sebenarnya punya potensi besar. Pintar, punya ide, bahkan punya mimpi. Tapi sering kali, satu hal yang menghambat adalah rasa ragu pada diri sendiri.

Dan di titik itulah kolaborasi ini menemukan maknanya.

Elisabeth Majuyetty—atau yang akrab disapa Emma—berbicara dengan penuh keyakinan. Bagi dirinya, perempuan Indonesia bukan hanya harus bisa bersaing, tapi juga harus berani tampil. Bukan sekadar hadir, tapi juga didengar.

Di sisi lain, Jimmy Tjoa dari Eljohn Academy melihat hal yang sama dari sudut pandang berbeda. Bahwa kepercayaan diri, cara berbicara, hingga etika profesional bukanlah bakat bawaan—melainkan sesuatu yang bisa dilatih, dipelajari, dan dibentuk.

Konsep “Beauty, Brain, Behavior” pun hadir bukan sekadar slogan. Tapi sebagai pengingat bahwa perempuan kuat tidak hanya soal penampilan, melainkan juga tentang cara berpikir dan cara bersikap.

Bayangkan seorang perempuan yang dulunya ragu berbicara di depan umum, perlahan mulai berani menyampaikan ide. Atau seseorang yang sebelumnya merasa “tidak cukup”, kini mulai menyadari bahwa dirinya punya nilai.

Perubahan itu mungkin terlihat kecil. Tapi dampaknya bisa besar.

Karena ketika satu perempuan berani melangkah, ia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri—tapi juga bisa menginspirasi orang di sekitarnya.

Kolaborasi ini mungkin baru dimulai dari satu ruangan di Mangga Dua. Tapi harapannya, gaungnya bisa sampai lebih jauh—ke perempuan-perempuan lain di seluruh Indonesia yang sedang mencari ruang untuk berkembang.

Dan siapa tahu, dari sini akan lahir lebih banyak perempuan yang tidak hanya sukses, tapi juga membawa perubahan.

Karena pada akhirnya, menjadi perempuan hebat bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tentang berani bertumbuh, satu langkah kecil setiap harinya. (Eff)

About The Author