Gaungkan Rejuvenasi Budaya, Angklung Gubrag Bergema di Goa Gudawang Cigudeg
5 mins read

Gaungkan Rejuvenasi Budaya, Angklung Gubrag Bergema di Goa Gudawang Cigudeg

👁️ 7 views

VakansiInfo, Bogor – Di tengah suasana sejuk kawasan Goa Gudawang, Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, denting bambu tua kembali bergema. Bukan sekadar alunan musik tradisional, suara yang terdengar itu merupakan napas panjang warisan budaya yang telah bertahan selama lebih dari enam abad: Angklung Gubrag.

Pada Sabtu, 13 Juni 2026, Goa Gudawang menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, budaya, pendidikan, dan harapan masa depan melalui kegiatan Workshop Angklung Gubrag Dogdog Lojor yang mengangkat tema rejuvenasi atau regenerasi seni tradisi khas Kabupaten Bogor tersebut.

Memilih Goa Gudawang sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Situs alam yang diperkirakan berusia sekitar lima juta tahun itu menjadi simbol kuat tentang bagaimana warisan alam dan warisan budaya dapat berjalan beriringan. Di satu sisi terdapat goa purba yang menjadi saksi perjalanan zaman, sementara di sisi lain bergema suara Angklung Gubrag yang telah diwariskan turun-temurun selama sekitar 600 tahun.

Bagi masyarakat Kampung Cipining, Desa Argapura, Angklung Gubrag bukan sekadar pertunjukan seni. Kesenian ini lahir dari tradisi agraris masyarakat Sunda dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial, spiritual, serta budaya masyarakat setempat.

Workshop yang digagas Komunitas SEBA ini menghadirkan berbagai unsur pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, seniman, komunitas budaya, hingga masyarakat umum. Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi penegasan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara masyarakat, pemerintah, dan dunia pendidikan.

Salah satu sosok penting yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ki Jawir atau Ariansyah, pelestari Angklung Gubrag generasi ke-12. Di pundaknya tersimpan tanggung jawab besar untuk memastikan warisan leluhur tersebut tetap hidup dan dimainkan sesuai pakem yang diwariskan para pendahulu.

Baca Juga  Babakti Tugu Kujang 2026 Teguhkan Identitas Budaya Sunda di Hari Jadi Bogor ke-544

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya populer global, keberadaan Ki Jawir menjadi simbol ketahanan budaya yang luar biasa. Ia terus menjaga agar suara bambu yang menjadi identitas masyarakat Cigudeg tidak tenggelam oleh perubahan zaman.

Dalam diskusi workshop, Ki Jawir berdialog dengan budayawan dan penggiat seni Kang Ade Suarsa yang dikenal aktif mengembangkan kemasan seni tradisi agar lebih dekat dengan generasi muda. Diskusi tersebut menghadirkan satu benang merah penting, yakni bagaimana seni tradisi dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan ruh dan nilai-nilai sakral yang menjadi identitasnya.

“Eksplorasi estetika diperbolehkan untuk kebutuhan panggung di luar ranah ritual, namun tidak menabrak esensi dasar dari seni tradisi leluhur itu,” ujar Kang Ade Suarsa.

Tantangan terbesar saat ini adalah regenerasi. Di era media sosial dan budaya digital, generasi muda cenderung lebih akrab dengan budaya populer global dibandingkan seni tradisi daerahnya sendiri. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih kreatif agar warisan budaya seperti Angklung Gubrag tetap relevan dan menarik bagi generasi masa kini.

Melalui workshop ini, para peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai sejarah dan filosofi Angklung Gubrag, tetapi juga berkesempatan mempraktikkan langsung teknik dasar memainkan instrumen tersebut. Mereka diajak memahami bahwa Angklung Gubrag bukan hanya alat musik tradisional, melainkan representasi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Sunda.

Ketua pelaksana kegiatan dari Komunitas SEBA, Jurasep, menegaskan bahwa pelestarian budaya harus dibangun melalui ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.

“Melalui workshop ini, kami ingin menyampaikan bahwa Angklung Gubrag memiliki nilai-nilai luhur yang masih sangat relevan hingga saat ini. Apalagi Goa Gudawang memiliki potensi besar menjadi ruang kolaborasi budaya sekaligus menghidupkan kembali potensi wisata yang pernah berjaya pada masanya,” ujarnya.

Baca Juga  Ruang Riung Reang Karinding #2 Jadi Ruang Kolaborasi Budaya dan Lingkungan di Bogor

Selain menjadi ruang transfer pengetahuan, workshop ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis untuk mendukung rejuvenasi Angklung Gubrag. Salah satunya adalah mendorong masuknya materi Angklung Gubrag ke dalam muatan lokal sekolah-sekolah di Desa Argapura sebagai wilayah asal kesenian tersebut.

Para peserta juga mendorong adanya program kunjungan rutin sekolah-sekolah di Kabupaten Bogor ke Goa Gudawang agar generasi muda dapat mengenal langsung warisan budaya daerahnya. Pelibatan seniman lokal dalam aktivitas wisata budaya serta kerja sama antara sekolah dan komunitas seni juga dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan regenerasi pelaku seni tradisi.

Momen yang paling mengharukan terjadi saat sejumlah siswa SMP Pelita Cendikia mengikuti sesi praktik memainkan Angklung Gubrag. Jemari-jemari muda yang perlahan mencoba mengikuti ritme Ganjring dan Kurulung menghadirkan harapan baru bahwa tradisi ini masih memiliki masa depan.

Di tengah kesunyian Goa Gudawang, denting bambu yang dimainkan para generasi muda seolah menjadi pesan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan jembatan yang menghubungkan manusia dengan akar identitasnya.

Workshop ini menjadi pengingat bahwa di bawah tanah Cigudeg tersimpan sejarah purba yang berusia jutaan tahun, sementara di atasnya hidup warisan budaya yang harus terus dijaga. Angklung Gubrag bukan hanya milik masyarakat Argapura atau Kabupaten Bogor, tetapi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang layak diwariskan kepada generasi mendatang.

Karena pada akhirnya, menjaga budaya bukan hanya tentang melestarikan masa lalu, melainkan memastikan masa depan tetap memiliki akar yang kuat untuk tumbuh dan berkembang. (Ckr03)

About The Author