
MBG Kembali Bergulir, Harapan Peternak Unggas Ikut Bangkit Seiring Harga Ayam dan Telur Mulai Menguat
VakansiInfo, Jakarta – Setelah sempat menghadapi tekanan akibat turunnya permintaan pasar, peternak unggas mulai melihat secercah harapan. Harga ayam broiler dan telur ayam di tingkat peternak perlahan bergerak naik seiring kembali bergulirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan dimulainya kembali aktivitas belajar di sekolah.
Perbaikan harga tersebut menjadi kabar baik bagi ribuan peternak rakyat yang beberapa waktu terakhir harus menghadapi penurunan harga jual akibat kombinasi faktor musiman dan berkurangnya permintaan selama masa libur sekolah.
Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, Parjuni, mengatakan momen bulan Suro di wilayah Jawa serta penghentian sementara Program MBG selama libur sekolah menjadi penyebab utama melemahnya permintaan terhadap produk unggas.
“Permintaan memang sempat turun. Harga telur yang sebelumnya berada di kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram kini mulai naik menjadi sekitar Rp20.000 sampai Rp21.000 per kilogram. Artinya sudah ada pertumbuhan,” ujarnya.
Meski demikian, ia berharap tren positif tersebut terus berlanjut hingga mampu mencapai Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.
Program Bantuan Dinilai Mampu Menjaga Pasar
Parjuni menilai pemerintah dapat kembali mempertimbangkan penyaluran bantuan pangan berupa telur ayam dan daging ayam karkas sebagaimana pernah dilakukan pada 2023 dan 2024.
Saat itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama ID FOOD menyalurkan bantuan pangan kepada 1,4 juta keluarga dalam program percepatan penurunan stunting.
Program tersebut tidak hanya membantu masyarakat penerima manfaat, tetapi juga menjadi pasar bagi ribuan peternak rakyat.
Tercatat sebanyak 8.778 peternak dari berbagai daerah terlibat dalam rantai pasok program tersebut, terdiri atas peternak ayam petelur maupun ayam broiler.
MBG Mulai Dongkrak Harga di Tingkat Peternak
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pemerintah masih menunggu keputusan terkait kemungkinan penyaluran kembali bantuan pangan telur dan daging ayam.
Namun ia memastikan, dampak positif Program MBG mulai terlihat di tingkat peternak.
Menurutnya, kembali beroperasinya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah meningkatkan kebutuhan bahan pangan sehingga serapan ayam dan telur mulai membaik.
“Setelah MBG kembali berjalan dan aktivitas sekolah dimulai lagi, harga mulai bergerak naik. Kami berharap peternak dapat menikmati harga yang semakin mendekati harga acuan,” ujarnya.
Harga Ayam dan Telur Berangsur Pulih
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan rata-rata harga ayam broiler hidup di tingkat peternak meningkat 5,53 persen hanya dalam satu minggu.
Harga yang sebelumnya berada di angka Rp20.878 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp22.032 per kilogram.
Sementara harga telur ayam di tingkat peternak juga meningkat sekitar 2,2 persen, dari Rp22.495 per kilogram menjadi Rp22.989 per kilogram.
Meski demikian, kondisi harga di setiap daerah masih bervariasi.
Di Sulawesi Utara, harga telur telah melampaui HAP, sedangkan di sejumlah wilayah lain seperti Banten masih berada di bawah harga acuan.
MBG Dorong Ekonomi Peternak Rakyat
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menilai Program MBG bukan hanya mendukung pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menciptakan permintaan yang stabil bagi peternak.
Menurutnya, setiap dapur MBG membutuhkan sekitar 1,86 ton telur setiap bulan, sehingga keberadaan program ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan terhadap sektor peternakan rakyat.
“Para peternak sangat terbantu dengan adanya Program MBG karena memberikan kepastian serapan hasil produksi sekaligus menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” katanya.
Bagi peternak, stabilitas harga bukan sekadar angka di pasar.
Harga yang sehat berarti keberlangsungan usaha, kemampuan meningkatkan produksi, hingga menjaga pasokan pangan nasional.
Dengan permintaan yang kembali tumbuh, harapan peternak pun ikut menguat bahwa sektor unggas dapat kembali bergerak menuju kondisi yang lebih stabil. (Eff)



