Sering Terbangun karena Tangan Kesemutan? Kenali Penyebabnya
2 mins read

Sering Terbangun karena Tangan Kesemutan? Kenali Penyebabnya

VakansiInfo, Jakarta – Tangan kesemutan, kebas, atau terasa seperti tertusuk-tusuk pada malam hari sering dianggap sebagai keluhan ringan akibat posisi tidur. Padahal, jika terjadi berulang atau mulai mengganggu aktivitas, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pada saraf.

Dua kondisi yang dapat menyebabkan keluhan serupa adalah Carpal Tunnel Syndrome (CTS) dan gangguan saraf yang berasal dari leher atau radikulopati servikal.

Menurut dr. Puspasari, Sp.N, FIOM, FEEG, FPSG, F.Neurosomnologi, FEMG, KHS, CTS terjadi ketika saraf yang melewati pergelangan tangan mengalami tekanan.

“Keluhan CTS biasanya berupa kesemutan atau kebas pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis. Keluhan ini sering lebih terasa pada malam hari dan bahkan dapat membuat pasien terbangun dari tidur,” jelasnya.

Pada kondisi yang lebih lanjut, penderita dapat mengalami kelemahan tangan, kesulitan melakukan gerakan halus, atau lebih mudah menjatuhkan benda.

Namun, sumber kesemutan juga bisa berasal dari leher. Pada radikulopati servikal, saraf yang keluar dari tulang belakang di area leher mengalami iritasi atau tekanan.

“Jika sumber gangguan berasal dari leher, keluhan dapat berupa nyeri yang berawal dari leher kemudian menjalar ke bahu, lengan, hingga jari-jari tangan,” ujar dr. Puspasari.

Menentukan penyebab kesemutan tidak cukup hanya berdasarkan lokasi keluhan. Dokter dapat melakukan pemeriksaan saraf dan, bila diperlukan, merekomendasikan EMG/NCS.

Pemeriksaan NCS membantu menilai penghantaran sinyal listrik melalui saraf, sedangkan EMG mengevaluasi aktivitas listrik pada otot. Pemeriksaan tersebut dapat membantu mengetahui lokasi dan tingkat gangguan saraf.

Selain EMG/NCS, dokter pada kondisi tertentu juga dapat menggunakan MRI. Keduanya memiliki fungsi berbeda. MRI melihat struktur tubuh, sementara EMG/NCS menilai fungsi saraf dan otot.

“Pada kondisi tertentu, pemeriksaan klinis, MRI, dan EMG/NCS dapat saling melengkapi. Tujuannya bukan hanya menemukan kelainan, tetapi memahami apakah kelainan tersebut sesuai dengan keluhan pasien,” tambah dr. Puspasari.

Kesemutan yang terjadi sesekali setelah tangan tertindih saat tidur dapat membaik setelah posisi diubah. Namun, pemeriksaan sebaiknya dilakukan apabila kesemutan berulang, semakin sering, membuat terbangun pada malam hari, tidak membaik, disertai nyeri menjalar atau kelemahan tangan, maupun mulai mengganggu aktivitas.

Bethsaida Hospital Gading Serpong melalui Neuroscience Center menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan gangguan saraf secara terintegrasi, termasuk pemeriksaan EMG/NCS sesuai kebutuhan medis pasien.

“Gangguan saraf tidak selalu dapat dipahami hanya dari satu hasil pemeriksaan. Kami berkomitmen menghadirkan layanan neurologi yang terintegrasi, karena setiap keluhan memiliki penyebab dan kebutuhan penanganan yang dapat berbeda pada setiap pasien,” ujar dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong. (Fai)

About The Author