
5 Cara Mengajarkan Anak Mengelola Uang, dari Uang Saku hingga Investasi
VakansiInfo, Jakarta – Mengajarkan anak mengelola uang bukan sekadar soal menabung atau menghindari pemborosan. Lebih dari itu, orang tua juga perlu membekali anak dengan pemahaman tentang tanggung jawab, perencanaan keuangan, dan nilai-nilai keluarga yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pemahaman tersebut tidak terbentuk dalam satu percakapan. Anak perlu belajar secara bertahap, mulai dari mengatur uang saku, menentukan tujuan menabung, hingga memahami investasi dan tanggung jawab terhadap aset keluarga ketika beranjak dewasa.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, melalui materi edukasi Sun Life menyoroti pentingnya membangun pemahaman tentang legacy atau warisan sejak anak masih kecil. Warisan dalam konteks ini tidak hanya berkaitan dengan kekayaan materi, tetapi juga mencakup pendidikan, tradisi, dan nilai-nilai keluarga.
Pendekatan tersebut sejalan dengan temuan Studi Sun Life Asia 2026 bertajuk Meneruskan Warisan: Ketika Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan. Dari 506 responden di Indonesia, kesempatan pendidikan dan kekayaan sama-sama masuk dalam tiga prioritas warisan teratas bagi 65 persen responden. Sementara itu, tradisi keluarga dipilih oleh 47 persen responden.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa mempersiapkan generasi penerus tidak harus menunggu hingga orang tua memiliki rencana pembagian warisan. Prosesnya dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
5 Cara Mengajarkan Anak tentang Uang dan Legacy Sesuai Usia
1. Usia sekolah dasar: Belajar mengatur uang saku
Uang saku dapat menjadi langkah awal untuk mengenalkan anak pada pengelolaan keuangan. Orang tua bisa mengajak anak membagi uang yang diterima untuk kebutuhan, tabungan, dan berbagi.
Daripada sekadar melarang anak menghabiskan uang, orang tua sebaiknya menjelaskan bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Dengan begitu, anak mulai memahami bahwa uang dapat digunakan untuk berbagai tujuan dan perlu dikelola dengan bijak.
2. Menjelang remaja: Biasakan membuat target menabung
Ketika keinginan anak semakin beragam, orang tua dapat mulai mengenalkan pentingnya menetapkan tujuan keuangan.
Ajak anak menentukan barang atau pengalaman yang ingin dicapai, seperti membeli buku, perangkat belajar, atau mengikuti kegiatan tertentu. Setelah itu, bantu mereka membuat target tabungan dan memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya.
Cara ini membuat anak memahami bahwa memenuhi keinginan membutuhkan perencanaan, kesabaran, dan konsistensi.
3. Masa remaja: Ceritakan perjalanan keuangan keluarga
Memasuki usia remaja, anak mulai dapat memahami bahwa kondisi ekonomi keluarga terbentuk melalui proses panjang. Orang tua bisa berbagi cerita tentang perjuangan membangun karier, menjalankan usaha, melewati masa sulit, hingga memperbaiki keputusan keuangan.
Cerita tersebut tidak harus berisi angka atau rincian keuangan yang sensitif. Hal terpenting adalah memperlihatkan nilai di balik perjalanan keluarga, seperti kerja keras, kehati-hatian, tanggung jawab, dan kemampuan belajar dari kesalahan.
Dengan memahami proses tersebut, anak diharapkan dapat melihat bahwa keberhasilan finansial bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang keputusan dan kebiasaan yang dibangun selama bertahun-tahun.
4. Menjelang dewasa: Kenalkan dasar perencanaan keuangan
Saat anak mulai memikirkan pendidikan lanjutan, pekerjaan, dan penghasilan, orang tua dapat memperluas pembelajaran ke aspek perencanaan keuangan.
Beberapa hal yang bisa diperkenalkan meliputi pengelolaan arus kas, dana darurat, tabungan, investasi yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko, serta perlindungan finansial sesuai kebutuhan.
Pada tahap ini, anak perlu memahami bahwa setiap pilihan keuangan memiliki pertimbangan dan risiko. Perencanaan yang baik juga harus memperhitungkan kemungkinan perubahan kondisi, sehingga keputusan tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada kesiapan menghadapi ketidakpastian.
5. Dewasa muda: Libatkan dalam diskusi keluarga
Ketika anak mulai memiliki penghasilan dan tanggung jawab sendiri, percakapan tentang keuangan dapat berkembang ke topik yang lebih luas, seperti karier, investasi, aset keluarga, dan peran setiap generasi dalam menjaga keberlanjutan keluarga.
Orang tua tidak harus membuka seluruh informasi sekaligus. Pembicaraan dapat dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kesiapan anak dan situasi keluarga.
Keterlibatan tersebut membantu anak memahami latar belakang keputusan keluarga sekaligus mempersiapkan mereka untuk menjalankan tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.
Warisan Bukan Hanya tentang Harta
Membangun legacy keluarga merupakan proses jangka panjang yang dimulai dari kebiasaan sederhana. Anak yang terbiasa mengelola uang saku, menetapkan tujuan, memahami nilai kerja keras, dan berdiskusi tentang keuangan memiliki kesempatan untuk belajar bertanggung jawab secara bertahap.
Rumah, uang, dan bisnis mungkin dapat diwariskan pada satu waktu. Namun, pemahaman tentang tanggung jawab, cara mengambil keputusan, dan nilai-nilai yang dipegang keluarga perlu ditanamkan sejak dini.
Karena itu, mengajarkan anak tentang warisan bukan hanya mempersiapkan apa yang akan mereka terima, melainkan juga membangun bekal agar mereka mampu mengelola dan meneruskan tanggung jawab tersebut. (Eff)



