Rupakala 2026: Seni, Teknologi, dan Ruang Dialog dengan Masyarakat
3 mins read

Rupakala 2026: Seni, Teknologi, dan Ruang Dialog dengan Masyarakat

VakansiInfo, Bogor – Perkembangan seni kontemporer tidak hanya berlangsung melalui penciptaan karya, tetapi juga melalui pertemuan antara seniman, gagasan, dan masyarakat. Ruang pertemuan tersebut dihadirkan melalui Pekan Seni Media Rupakala 2026 yang berlangsung di Gedung Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada 26 Oktober hingga 1 November 2026.

Pameran ini menghadirkan lebih dari 40 seniman dari berbagai daerah, termasuk Bogor, Bandung, dan Jakarta. Karya yang ditampilkan mencakup seni berbasis teknologi, audio visual, seni video, seni bunyi, seni cetak, seni lukis, hingga patung.

Keberagaman medium tersebut memperlihatkan bagaimana praktik seni kontemporer dapat berkembang melalui berbagai pendekatan. Teknologi menjadi salah satu medium ekspresi, sementara bentuk seni lainnya turut membuka kemungkinan dialog mengenai cara masyarakat melihat dan memahami karya.

Memetakan perkembangan seni berbasis teknologi

Salah satu kurator Pekan Seni Media Rupakala 2026, Robby Ocktavian, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memetakan perkembangan seni berbasis teknologi di Indonesia.

Menurut Robby, pameran tidak hanya berfokus pada karya seni media dan teknologi. Kehadiran seni lukis dan patung juga menjadi bagian dari upaya membangun dialog dengan perkembangan seni kontemporer saat ini.

“Pengunjung bisa melihat berbagai karya seni video, seni bunyi, bahkan karya seni cetak. Semuanya sangat menarik dan dirancang untuk membangun interaksi serta dialog dengan para pengunjung,” ujarnya.

Baca Juga  Dari Sampah Jadi Seni! ARTCYCLE 2026 Hadirkan Pengalaman Imersif di Jakarta

Pendekatan tersebut menempatkan pameran bukan sekadar sebagai ruang untuk memajang karya. Pengunjung juga diajak mengalami beragam bentuk ekspresi dan menemukan perspektif berbeda melalui karya yang disajikan.

Kembali setelah vakum sejak 2017

Pekan Seni Media Rupakala terakhir diselenggarakan pada 2017. Setelah sempat vakum, kegiatan ini kembali digelar pada 2026 dan dijadwalkan berlangsung di tiga kota, yaitu Kabupaten Bogor, Padang, dan Pontianak.

Kabupaten Bogor menjadi kota pertama dalam rangkaian tersebut. Kehadiran pameran ini membuka ruang bagi masyarakat setempat untuk bertemu dengan beragam praktik seni kontemporer tanpa harus bergantung pada ruang pamer di kota-kota besar.

Partisipasi seniman dari berbagai daerah juga menghadirkan peluang pertukaran gagasan dan pendekatan artistik. Dalam ruang seperti ini, perbedaan medium dan latar belakang seniman dapat memperluas cara masyarakat memahami perkembangan seni.

Membuka akses seni bagi generasi muda

Pameran seni juga memiliki peran dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengalaman artistik, terutama bagi generasi muda.

Annisa, siswa SMPN 1 Citeureup, mengaku senang dapat menyaksikan karya-karya yang dipamerkan secara langsung. Ia menilai pameran tersebut menarik, kreatif, dan interaktif.

“Menurut saya, yang menarik dari pameran ini adalah gambar-gambarnya yang keren dan karya-karyanya bagus. Kesan saya selama berada di sini sangat seru dan menyenangkan. Pameran ini juga sangat kreatif dan interaktif,” ungkap Annisa.

Baca Juga  Voyage of Becoming: Pameran Sakde Oka Hadir di ARTOTEL Thamrin Jakarta

Ia berharap Pekan Seni Media Rupakala dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang agar lebih banyak masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal dan mengapresiasi seni.

Pengalaman pengunjung seperti ini menunjukkan pentingnya ruang seni yang dapat diakses masyarakat dengan latar belakang dan usia yang beragam. Pameran bukan hanya tempat melihat karya, melainkan juga kesempatan untuk membangun rasa ingin tahu dan mengenal cara-cara baru dalam berekspresi.

Seni sebagai ruang pertemuan

Pekan Seni Media Rupakala 2026 menghadirkan seni sebagai ruang pertemuan antara kreativitas, teknologi, dan pengalaman masyarakat. Berbagai karya yang ditampilkan membuka kemungkinan dialog mengenai medium, gagasan, serta cara seni berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Keberlanjutan kegiatan seperti ini menjadi penting untuk memperluas akses terhadap seni kontemporer sekaligus memberi ruang bagi seniman dari berbagai daerah untuk memperkenalkan karyanya.

Melalui pameran tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari proses pemaknaan karya. Interaksi inilah yang dapat membuat seni semakin dekat dengan publik dan membuka ruang bagi pertukaran gagasan yang lebih luas. (Mur)

MURSYID