Sab. Agu 30th, 2025

Toxic Positivity, Ketika “Berpikir Positif” Menjadi Racun Emosional

Toxic Positivity, Ketika “Berpikir Positif” Menjadi Racun Emosional

VakansiInfo – Di era media sosial yang serba cerah, penuh kutipan motivasi dan ajakan untuk “selalu bahagia”, kita tanpa sadar dibombardir oleh dorongan untuk terus berpikir positif dalam segala situasi. Tapi tahukah kamu? Tidak semua bentuk pikiran positif itu sehat. Ketika keharusan untuk “bahagia terus” mulai menekan perasaan sebenarnya, kita mungkin sedang terjebak dalam fenomena toxic positivity.

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang terlalu menekankan sikap positif dan mengabaikan atau menolak emosi negatif secara tidak sehat. Alih-alih memberi ruang untuk bersedih, kecewa, atau marah, toxic positivity justru mendorong kita untuk menutup-nutupi perasaan tersebut dengan topeng kebahagiaan.

Contoh yang paling umum? Ucapan seperti:

  • “Ayo dong, jangan sedih terus!”
  • “Masih banyak yang lebih susah dari kamu.”
  • “Ambil hikmahnya aja, pasti ada pelajaran.”
  • “Positive vibes only!”

Kalimat-kalimat ini terdengar ringan, bahkan niatnya mungkin baik. Tapi jika di ucapkan pada orang yang sedang berjuang secara mental atau emosional, efeknya bisa jadi sangat merugikan.

Baca Juga  “Bukan Gila, Hanya Butuh Didengar”: Melawan Stigma Gangguan Mental di Sekitar Kita

Mengapa Berbahaya?

Menekan Emosi Sehat

  • Emosi negatif seperti sedih, takut, atau kecewa adalah bagian alami dari kehidupan. Menekannya terus-menerus bisa membuat seseorang memendam stres, bahkan meledak di kemudian hari.

Membuat Orang Merasa Bersalah karena Merasa

  • Saat seseorang sedang sedih lalu malah di minta “jangan galau”, ia bisa merasa bersalah hanya karena merasakan emosi yang manusiawi.

Memperparah Isolasi Emosional

  • Toxic positivity membuat orang enggan jujur tentang apa yang mereka rasakan, karena takut dianggap lemah atau terlalu drama.

Menghambat Proses Penyembuhan

  • Proses healing butuh kejujuran terhadap emosi. Jika semua ditutupi oleh “berpikir positif”, maka luka batin tidak akan pernah dihadapi, apalagi disembuhkan.

Lalu, Apa Bedanya dengan Positivity yang Sehat?

Berpikir positif bukan berarti menolak kenyataan pahit. Positivity yang sehat justru mengakui rasa sakit, menerima kondisi sulit, lalu memilih untuk tetap melangkah dengan harapan. Bukan dengan menyangkal, tapi dengan merangkul emosi sebagai bagian dari perjalanan.

Contoh respons sehat:

  • “Kamu berhak merasa kecewa, itu hal yang wajar.”
  • “Aku di sini kalau kamu butuh cerita.”
  • “Pelan-pelan ya, gak apa-apa kalau kamu belum kuat hari ini.”
Baca Juga  Jadi Telinga yang Tulus, Bukan Penghakim: Gerakan P3LP untuk Kesehatan Mental Sejak Dini

Cara Menghindari Toxic Positivity

  1. Jangan memaksakan orang lain (atau diri sendiri) untuk cepat-cepat pulih.
  2. Berikan ruang untuk semua emosi—bahagia, marah, kecewa, lelah.
  3. Dukung tanpa menyela perasaan orang.
  4. Ganti “paksaan positif” dengan empati yang tulus.

Merasa Itu Manusiawi

Hidup tidak selalu terang dan bahagia. Dan itu tidak apa-apa. Menerima emosi—baik maupun buruk—adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Jangan biarkan “semangat palsu” menghilangkan ruang kita untuk benar-benar sembuh. Ingat, tidak semua yang positif itu sehat. Kadang, menerima kesedihan justru adalah bentuk keberanian yang paling besar.

(Ati)

Related Post