
VakansiInfo, Jakarta – Banjir kembali merendam SMAN 99 Jakarta pada Sabtu (21/3/2026) yang lalu, seakan mengulang cerita lama yang tak kunjung usai. Bagi sekolah ini, genangan air bukan sekadar peristiwa musiman, melainkan masalah berulang yang telah terjadi sejak tahun 1994.
Beruntung, banjir kali ini datang di tengah masa libur Hari Raya Idul Fitri, sehingga tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar secara langsung. Namun di balik itu, kerugian material tetap menjadi beban yang tidak ringan.
Air menggenangi sejumlah fasilitas penting sekolah, mulai dari ruang kelas hingga perlengkapan belajar. Meja, kursi, serta berbagai inventaris administrasi turut terdampak. Kerusakan ini berpotensi menambah beban anggaran perbaikan yang harus ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Meski belum ada angka resmi, kerugian akibat banjir diperkirakan cukup besar. Apalagi, jika dihitung secara akumulatif sejak lebih dari tiga dekade terakhir, biaya pemulihan yang terus berulang tentu bukan angka kecil.
Di tengah kondisi tersebut, langkah cepat dilakukan oleh jajaran Kelurahan Cibubur. Bahkan pada hari Lebaran, tim pemadam kebakaran bersama petugas PPSU langsung turun tangan membersihkan lumpur dan memulihkan kondisi sekolah.
Lurah Cibubur, Rony Abdullah, juga terlihat hadir langsung di lokasi bersama kepala sekolah, guru, hingga pengurus OSIS. Kehadiran mereka menjadi simbol kepedulian sekaligus upaya gotong royong dalam mengembalikan kondisi sekolah seperti semula.
Namun, peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan besar: sampai kapan masalah ini akan terus berulang?
Sejumlah pihak menilai, penanganan pascabanjir saja tidak cukup. Dibutuhkan solusi jangka panjang yang lebih komprehensif, mulai dari pembenahan sistem drainase, peninggian bangunan, hingga kemungkinan relokasi sekolah jika memang diperlukan.
Perbandingan dengan SMAN 8 Jakarta pun mencuat. Pada era 1990-an, kedua sekolah ini sama-sama terdampak banjir. Namun, berkat penanganan yang lebih terstruktur, SMAN 8 kini relatif terbebas dari ancaman serupa.
Hal ini menjadi bukti bahwa masalah banjir bukanlah sesuatu yang tidak bisa diselesaikan. Dengan komitmen kuat, perencanaan matang, dan eksekusi yang konsisten, persoalan yang telah berlangsung puluhan tahun seharusnya dapat diakhiri.
Kini, harapan kembali disuarakan. Masyarakat ingin agar pengalaman masa lalu tidak terus terulang, dan SMAN 99 Jakarta bisa menjadi tempat belajar yang aman, tanpa bayang-bayang banjir setiap musim hujan datang. (Eff)
