Bournemouth Membantah Dominasi, Liverpool Tumbang di Vitality Stadium

Bournemouth Membantah Dominasi, Liverpool Tumbang di Vitality Stadium

VakansiInfo – Sejak peluit awal dibunyikan di Vitality Stadium, arah permainan terlihat jelas. Liverpool datang dengan kepercayaan diri tinggi—menguasai bola, mengatur tempo, dan perlahan menekan ke wilayah lawan. Di sisi lain, AFC Bournemouth memilih pendekatan yang jauh lebih tenang. Mereka tak terpancing untuk berebut dominasi, tak tergesa mengikuti ritme, dan fokus menunggu momen.

Liverpool membangun serangan dengan sabar. Aliran bola rapi, tekanan dilakukan bertahap, seolah laga ini hanya soal waktu. Bournemouth membaca situasi itu dengan disiplin. Mereka bertahan rapat, menutup ruang, dan menyimpan energi untuk satu tujuan: memaksimalkan peluang sekecil apa pun.

Dan peluang pertama langsung berbuah hasil.

Pada menit ke-26, Bournemouth membuka keunggulan lewat Evanilson. Tanpa rangkaian umpan panjang, tanpa dominasi bola—cukup satu celah dan satu penyelesaian bersih. Vitality Stadium pun bergemuruh. Liverpool tetap menguasai permainan, seakan skor tak lebih dari gangguan kecil.

Namun gangguan itu berubah menjadi peringatan serius. Tujuh menit berselang, Jiménez menggandakan keunggulan tuan rumah pada menit ke-33. Dua peluang, dua gol. Liverpool masih dominan dalam permainan, tetapi papan skor mulai berbicara berbeda.

Baca Juga  Liverpool Lolos dari Barnsley, Piala FA Masuk Fase Paling Berbahaya

Menjelang turun minum, Liverpool akhirnya menemukan celah. Situasi bola mati dimanfaatkan dengan baik oleh Virgil van Dijk pada menit ke-45. Gol tersebut menjaga asa tetap hidup dan menutup babak pertama dengan skor 2–1. Secara permainan, Liverpool unggul. Secara hasil, Bournemouth masih memimpin.

Babak kedua berjalan dengan pola serupa. Liverpool menaikkan intensitas serangan, Bournemouth semakin dalam bertahan. Statistik terus berpihak pada tim tamu—penguasaan bola, tekanan, hingga sepak pojok. Namun efektivitas tetap menjadi milik tuan rumah.

Saat Dominik Szoboszlai mencetak gol penyeimbang pada menit ke-80, momentum terasa mulai berayun. Skor berubah menjadi 2–2. Sekilas, laga tampak kembali ke skenario yang sudah sering terjadi: Liverpool bangkit, lawan tertekan, dan waktu terlihat berpihak pada The Reds.

Namun malam itu punya cerita lain.

Di masa injury time, Bournemouth tidak bermain untuk mempertahankan hasil imbang. Mereka menunggu satu kesempatan terakhir—dan ketika celah itu muncul, mereka tak ragu. Pada menit 90+5, Amine Adli menyelesaikan serangan penentu. Vitality Stadium pun meledak. Skor berubah menjadi 3–2, dan Liverpool tak lagi punya waktu untuk membalas.

Baca Juga  Manchester City Menang atas Wolves, Tenang hingga Peluit Akhir

Kemenangan ini terasa semakin spesial jika melihat catatan pertemuan kedua tim. Sebelum laga ini, Bournemouth hanya mampu meraih dua kemenangan dari lebih dari 20 pertemuan melawan Liverpool. Bahkan, lima laga terakhir selalu berakhir dengan kekalahan.

Liverpool datang ke Vitality Stadium membawa dominasi sejarah. Bournemouth menjawabnya dengan hasil yang berbeda.

Skor akhir 3–2 bukan sekadar memutus tren buruk, tetapi juga menjadi penanda bahwa—setidaknya untuk satu malam—Bournemouth berhasil keluar dari bayang-bayang lawan yang terlalu sering mengalahkan mereka.

Di papan skor, Bournemouth tercatat sebagai pemenang.
Di sejarah pertemuan, satu angka bergeser.
Dan di Vitality Stadium, Liverpool akhirnya tumbang. (Acil)

About The Author

Pilihan Redaksi

Mobil Terperosok di Jalur Bomang Tajurhalang, Damkar Kabupaten Bogor Evakuasi Dini Hari

Mobil Terperosok di Jalur Bomang Tajurhalang, Damkar Kabupaten Bogor Evakuasi Dini Hari

Aero Astra Akademia Terima Sertifikat Apresiasi dari Mercure Hotel Karawang

Aero Astra Akademia Terima Sertifikat Apresiasi dari Mercure Hotel Karawang