
VakansiInfo, Sleman – Suasana hangat terasa di Desa Wisata Pentingsari saat pelaku UMKM, pengelola desa wisata, hingga perwakilan pemerintah berkumpul dalam sebuah program pemberdayaan yang berbeda dari biasanya.
Melalui kolaborasi antara Haisawit Indonesia dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), masyarakat diajak melihat potensi baru dari kelapa sawit—bukan hanya sebagai komoditas industri, tetapi juga peluang ekonomi kreatif di desa wisata.
Dalam kegiatan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga inspirasi nyata. Beragam produk turunan sawit diperkenalkan, mulai dari lilin aromaterapi, sandal, hingga kerajinan taplak meja yang bisa digunakan di homestay atau dijual sebagai suvenir khas desa.
Direktur Haisawit Indonesia, M. Danang MRQ, menjelaskan bahwa pihaknya ingin membuka akses lebih luas bagi UMKM untuk berkembang.
Menurutnya, Haisawit bukan hanya platform informasi, tetapi juga ruang promosi, pengembangan karier, hingga kolaborasi industri sawit melalui program seperti Palm Oil Career Expo dan forum internasional.
“UMKM di berbagai daerah sudah mulai menghasilkan produk turunan sawit seperti sabun dan kerajinan rumah tangga. Kami juga mempertemukan mereka dengan sektor industri dan perhotelan agar peluang pasarnya semakin luas,” ujarnya.
Sementara itu, Helmi Muhansyah dari Badan Pengelola Dana Perkebunan menegaskan bahwa dana dari industri sawit dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program, mulai dari peremajaan sawit rakyat, beasiswa, hingga pemberdayaan UMKM.
Ia juga menyoroti pentingnya kemitraan antara UMKM dan koperasi petani agar rantai pasok lebih terintegrasi—dari bahan baku hingga pemasaran.
“Dengan kemitraan yang kuat, UMKM tidak hanya berkembang, tapi juga memberi dampak langsung pada kesejahteraan petani,” jelasnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Perwakilan Dinas Pariwisata Sleman, Erny Maryatun, menyebut bahwa Kabupaten Sleman kini memiliki 81 desa wisata, dengan Pentingsari sebagai salah satu yang telah mandiri dan mencatat sekitar 32 ribu kunjungan wisatawan sepanjang 2025.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Werdiningsih yang mengungkapkan bahwa lebih dari 100 ribu pelaku UMKM di Sleman terus didampingi melalui berbagai program, termasuk klinik UMKM.
Bagi pengelola desa, manfaat kegiatan ini terasa langsung. Ketua Desa Wisata Pentingsari, Ciptaningtias, menilai pelatihan seperti ini membuka peluang baru bagi warga.
“Produk seperti sandal dan taplak meja dari turunan sawit bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan homestay sekaligus dijual ke wisatawan,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini membawa dua pesan utama: pentingnya kolaborasi antara UMKM dan petani melalui rantai pasok yang kuat, serta peningkatan pemahaman masyarakat tentang manfaat kelapa sawit dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan, program seperti ini diharapkan tidak hanya memperkuat ekonomi desa wisata, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal. (Eff)
