Sab. Agu 30th, 2025

Dark AI Mengancam Asia Pasifik, Kaspersky Peringatkan Serangan Siber Semakin Canggih

Dark AI Mengancam Asia Pasifik, Kaspersky Peringatkan Serangan Siber Semakin Canggih

VakansiInfo – Dunia maya di Asia Pasifik kini menghadapi ancaman baru: Dark AI atau AI gelap. Menurut laporan Kaspersky dalam APAC Cyber Security Weekend 2025, teknologi ini digunakan pelaku kejahatan siber untuk membuat serangan yang lebih canggih, sulit terdeteksi, dan berpotensi menghancurkan.

Sejak ChatGPT populer pada 2023, penggunaan AI untuk hal positif memang meningkat, mulai dari pembuatan video hingga deteksi ancaman siber. Namun, AI gelap hadir sebagai sisi berlawanan yang memanfaatkan large language model (LLM) untuk tujuan ilegal, tidak etis, dan berbahaya.

“AI adalah perisai, dan Dark AI adalah pedangnya,” kata Sergey Lozhkin, Kepala Tim Riset & Analisis Global Kaspersky untuk META dan APAC.

Apa Itu Dark AI?

Dark AI adalah penerapan LLM yang beroperasi di luar kendali keamanan dan kepatuhan standar. Teknologi ini di gunakan untuk:

  • Menulis kode berbahaya
  • Merancang email phishing yang persuasif
  • Membuat deepfake suara dan video
  • Mendukung operasi Red Team untuk peretasan

Beberapa contoh black hat GPT yang populer di dunia kejahatan siber antara lain WormGPT, DarkBard, FraudGPT, dan Xanthorox.

Baca Juga  Pro Industri 4.0, Wamenperin: Teknologi AI Wujudkan "Smart Manufacturing"

Tren Baru: Negara Ikut Memanfaatkan Dark AI

Kaspersky juga menemukan indikasi bahwa aktor negara-bangsa mulai memanfaatkan LLM untuk kampanye siber mereka. OpenAI bahkan mengaku telah menghentikan lebih dari 20 operasi terselubung yang mencoba menyalahgunakan AI generatif.

Ancaman ini meliputi:

  • Pembuatan persona palsu yang meyakinkan
  • Respons real-time terhadap target
  • Konten multibahasa untuk menembus filter keamanan

Kaspersky: Saatnya Perkuat Pertahanan Siber

Lozhkin menegaskan, seiring semakin mudahnya akses ke teknologi Dark AI, organisasi dan individu harus:

  1. Memperkuat higiene keamanan siber
  2. Berinvestasi dalam deteksi ancaman berbasis AI
  3. Memahami cara Dark AI dieksploitasi

“Di Asia Pasifik, ancaman ini nyata. Kita harus siap menghadapi serangan siber generasi baru,” pungkasnya.

(Fai)

Related Post