VakansiInfo – Sekitar akhir tahun 1992, hidup kami seperti diambil alih oleh satu keputusan yang kelihatannya sederhana, tapi ternyata berdampak jauh. Orang yang membuat keputusan itu adalah Pak Karna—sosok yang dulu sering aku anggap jenius setengah jadi. Beliau bukan tokoh utama dalam film hidup orang lain, tapi dalam cerita kami, dia tokoh dengan ide-ide aneh yang terlalu sering jadi kenyataan.
Dengan sedikit bonus dari kantornya—dan entah campur tangan apa dari langit—Pak Karna memutuskan untuk angkat kaki dari Jatinegara. Kota yang ramai, penuh suara klakson dan gorengan pinggir jalan, diganti dengan desa sunyi entah di mana, yang bahkan di peta pun harus dicari pakai niat.
Kami tak ramai-ramai. Hanya keluarga inti: Pak Karna yang selalu tampak serius meski sering bingung sendiri; Emak Yan—perempuan paling cantik yang entah kenapa selalu bisa menertawakan hidup, dan kadang juga menertawakan kami; Ucrit, kakak perempuanku yang cerewetnya sudah seperti warisan turun-temurun; dan aku, si bontot dengan sebutan aneh: Robot Gedeg.
Waktu itu umurku tiga tahun. Terlalu kecil untuk paham arti kata “pindahan”, apalagi “hidup baru”. Tapi menurut cerita Emak—yang selalu berapi-api tiap mengulang kenangan—aku termasuk bawaan paling lucu dalam rombongan itu. Putih, bersih, pipi tembam, jalan miring kayak tokoh kartun. Sering dikira anak cewek, dan langganan diciumin kakak-kakak tetangga.
“Liat tuh, anak bule nyasar,” kata mereka.
Padahal mah gue cuma bocah kampung biasa, yang belum bisa bilang ‘r’ dan lebih sering ngomong pakai iler.
Emak bilang, cara jalanku waktu itu aneh. Kaku, miring-miring, mirip teko tua diseret ke pasar. Dari sanalah julukan “Robot Gedeg” lahir, terinspirasi dari robot absurd di film Warkop yang jalannya nyusahin tapi tetep ngotot maju.
Ada satu foto yang masih tersimpan sampai sekarang. Aku berdiri sendiri, senyum lebar, pakai baju polkadot dan sepatu kecil merah. Kaki tegap, dada dibusungkan, seolah-olah siap ikut lomba jalan cepat. Tapi yang paling terasa dari foto itu bukan gayaku… melainkan rasa: betapa aku bukan hanya anak kecil waktu itu, tapi juga simbol dari permulaan yang belum kami tahu ke mana arahnya.
Rumah Pojok dan Hutan yang Berbisik
Rumah yang kami tempati di desa itu pun bukan rumah biasa. Letaknya paling pojok. Paling jauh dari jalan utama. Paling dekat dengan sepi.
Setengah bata, setengah kayu. Dari luar tampak biasa, tapi buat kami, itu istana. Bukan karena besar, tapi karena segalanya terasa baru. Setiap sudutnya seakan sedang menunggu cerita.
Pak Karna memilih rumah itu bukan karena strategi besar atau rencana matang. Mungkin cuma karena rumah itu yang paling murah. Tapi entah kenapa, semuanya terasa cocok.
Pagar kayunya masih kasar, tapi punya ukiran melingkar seperti akar yang tumbuh pelan. Kata beliau, itu hasil barter sama tukang ukir dari Cirebon. Setiap pagi, cahaya matahari menyelinap dari celah ukiran itu dan jatuh ke tanah basah, membentuk bayangan yang bergerak perlahan seperti lukisan hidup.
Kadang aku berdiri di sana, tangan di pinggang, gaya sok jagoan. Dalam imajinasiku, aku penjaga gerbang istana. Tapi lebih sering, aku malah kelihatan kayak teko yang lagi ngambek.
Di sisi rumah, berdiri hutan bambu yang rindangnya seperti pelukan. Kalau sore angin datang, daun-daunnya berbunyi lirih—srek, srek, srek—seperti bisikan dari waktu yang belum kita jalani. Emak pernah bilang, di balik bambu itu ada jalan setapak kecil menuju sungai. Tapi beliau juga bilang, jangan main ke sana sendirian.
“Berbahaya,” katanya.
Tapi justru karena itu… menarik.
Dan saat itu, meski langkahku masih miring-miring dan kata-kataku belum jelas, aku tahu: suatu hari, aku akan jalan ke sana. Lewatin jalan setapak itu. Sendirian. Atau ditemani rasa penasaran.
Dunia Kecil, Kisah Besar
Begitulah dunia kecil kami dimulai. Rumah pojok, pagar kayu penuh cerita, dan hutan bambu yang seolah jadi pintu ke petualangan masa kecil. Tempat yang sederhana, tapi cukup untuk melahirkan kisah besar.
Dan di tengah semuanya—di antara suara bambu dan sinar matahari pagi—aku berdiri.
Si Robot Gedeg.
Pemeran utama yang belum tahu, naskah hidupnya bakal seabsurd apa nanti.
(Acil)