VakansiInfo, Bandung – Di sudut Jalan Klenteng, Bandung, berdiri sebuah bangunan tua yang seolah menolak dilupakan waktu. Fasadnya masih sama seperti puluhan tahun lalu—sebuah rumah heritage yang menyimpan cerita kolonial, peranakan Tionghoa, dan Indonesia tempo dulu. Kini, di balik dinding itu, hidup sebuah ruang bernama Madam Hoek.
Bangunan ini tercatat resmi sebagai bangunan heritage. Saat proses pengajuan PBG, satu hal tak bisa ditawar: wajah luarnya harus tetap sama. Keterbatasan itu justru menjadi awal cerita. Nama Hoek, yang berarti sudut dalam bahasa Belanda, diambil dari posisi bangunan. Sementara Madam lahir dari panggilan akrab yang terasa hangat dan personal—seperti rumah.

Masuk ke dalam, nuansa vintage langsung menyambut. Biru mendominasi, warna yang dahulu membuat bangunan ini dikenal sebagai “Toko Biru”. Barang-barang jadul, sepeda tua, dan ornamen lawas mengisi ruang, sebagian berasal dari koleksi pribadi dan komunitas. Bahkan toilet pun menjadi ruang cerita, dihiasi foto hitam putih yang menunggu kurasi tematik berikutnya.

Soal makanan, Madam Hoek menolak satu menu andalan. Yang dijual adalah rasa pulang. Dari nasi ayam taliwang, ifu mie siram peranakan, hingga nasi cumi cabai ijo, semua lahir dari lidah, bukan tren. Evolusi menu terjadi tanpa menghilangkan jati diri.
Live music jazz setiap Kamis malam memperkuat peran Madam Hoek sebagai ruang sosial. Musik, makanan, dan obrolan menyatu. Di tengah bangunan, sebuah pohon tumbuh rindang—inner court yang membuat orang betah berlama-lama.
Madam Hoek tak berisik menawarkan diri. Ia hadir pelan, lewat rasa, ruang, dan kenangan. Dan mungkin, itulah alasan orang selalu ingin kembali. (Mur)



