VakansiInfo – Pendidikan sebagai sarana sosialisasi merupakan kegiatan manusia yang melekat dalam kehidupan masyarakat, sehingga usia pendidikan hampir sama tuanya dengan usia manusia dalam kehidupan masyarakat dan berbagai rentang peradaban. Perjalanan panjang perkembangan pendidikan di Indonesia sebelum kemerdekaan dapat di telusuri sejak jaman Hindu dan Buddha pada abad ke-5. Dari perkembangannya sejak masa itu, di peroleh gambaran bahwa pendidikan telah berlangsung. Sesuai dengan tuntutan zaman yang berbeda-beda dengan penyesuaian pada ideologi, tujuan, serta sistem penyampaiannya.
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha. Pendidikan di pengaruhi oleh ajaran kedua agama tersebut sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat pada saat itu.
Demikian juga pada zaman permulaan masuk dan berkembangnya agama Islam, pendidikan dan pengajaran di laksanakan dalam rangka penyebaran agama Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan pendidikan dan pengajaran Islam. Mulai berpengaruh terhadap tumbuhnya pusat-pusat kekuasaan Islam di daerah pesisir sebagai pusat-pusat kekuasaan baru. Yang secara perlahan-lahan menggantikan pusat-pusat kekuasaan Hindu dan Buddha di pedalaman.
Pada masa Kolonial, sistem pendidikan di tanah air lebih banyak di sesuaikan dengan kepentingan penjajah dalam mempertahankan dan memperluas kekuasaannya.
Pemerintah Kolonial secara sistematis memasukkan paham mereka dengan menanamkan superioritas budaya Barat melalui pendidikan sekolah rakyat kepada penduduk pribumi, mendidik para calon tenaga terampil di bidang administrasi dan kejuruan yang di perlukan dalam menjalankan usahanya.
Menjelang berakhirnya masa Kolonial, pendidikan di gunakan oleh para perintis kemerdekaan untuk menanamkan kesadaran dan menumbuhkan semangst Kebangsaan Indonesia.
Pendidikan Masa Kolonial Belanda
Pada akhir abad ke-18 menjelang abad ke-19, VOC berangsur menuju kemunduran sampai akhirnya bangkrut dan akhirnya di bubarkan pada tahun 1799. Selanjutnya Pemerintahan di serahkan kepada Pemerintah Hindia Belanda yang mengatur masyarakat dan pemerintahan di daerah jajahannya.
Dalam perkembangan sampai dengan paruh pertama abad ke-19, kebijaksanaan pendidikan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda masih banyak berupa rencana daripada tindakan nyata. Dalam periode itu Pemerintah harus melakukan penghematan anggaran, biaya untuk memadamkan Perang Diponegoro (1825-1830) dan untuk pelaksanaan Cultuurstelsel.
Perkembangan pendidikan dan pengajaran ahir abad ke-19 di Hindia Belanda memperlihatkan kecendrungan yang di pengaruhi oleh politik pendidikan pada khususnya dan politik kebudayaan pada umumnya. Kecendrungan kecendrungan tersebut meliputi kecendrungan yang di pengaruhi oleh aliran Liberalisme, oleh politik bahasa dalam kerangka politik kebudayaan. Oleh kebutuhan praktis berkaitan dengan pekerjaan di berbagai bidang dan kejuruan. Dan berikut di pengaruhi kecendrungan yang memperlihatkan adanya gagasan kuat agar sekolah pribumi berakar pada lingkungan kebudayaan sendiri, maka bahasa pengantar yang di gunakan adalah bahasa daerah masing-masing.
Pada dasarnya, pendidikan masa Kolonial Belanda di bedakan menjadi tiga kategori pendidikan sekolah yang di dasarkan pada keturunan, ,bangsa, dan status sosial, yaitu :
- Sekolah dasar dan lanjutan di peruntukkan untuk golongan penduduk Eropa;
- Sekolah dasar negeri, dan sekolah raja untuk golongan penduduk pribumi, dan
- Sekolah kejuruan yang dapat di ikuti baik oleh golongan penduduk Eropa maupun pribumi
Sekolah Eropa dan Sekolah Bumiputera
A. Sekolah Eropa
Sekolah pertama yang di buka untuk anak anak Eropa (Belanda) ialah sekolah di Batavia, yang dibuka pada tanggal 24 Februari 1817, yang kemudian di perluas menjadi tujuh buah, yaitu dua di Batavia (Weltevreden dan Molenvliet), Cirebon, Semarang, Surakarta, Surabaya , dan Gresik.
Dengan jelas dapat di lihat sejak pertengahan abad ke-19, sebagian besar anak penduduk Eropa dapat menikmati pendidikan dasar. Meskipun jumlah sekolah dapat memenuhi harapan, tetapi sampai pertengahan abad ke-19 sekolah rendah Eropa atau Europeesche Lagere School (ELS) untuk anak anak Eropa di anggap belum memiliki mutu yang di harapkan pada saat itu.
B. Sekolah Bumiputera
Sekolah Bumiputera adalah sekolah yang di peruntukkan bagi penduduk pribumi, yaitu sekolah dasar negeri dan sekolah raja.
Berdasarkan Keputusan Raja Belanda Tanggal 28 September No.44 (Stbl.1893 No.125) Pasal 1 Sekolah Dasar Bumiputera dbagi menjadi dua kategori, yaitu :
- Sekolah Dasar Kelas Pertama (de scholen der eerste klasse), yaitu sekolah yang di peruntukkan bagi anak tokoh tokoh terkemuka pribumi, bangsawan atau ningrat dan penduduk kaya/berada.
- Sekolah Dasar Kelas Kedua (de scholen der tweede klasse), yaitu sekolah bagi anak penduduk pribumi pada umumnya.
Sekolah Raja
Sekolah ini di dirikan di ibu kota karesidenan, kabupaten, kawedanaan atau yang sederajat. Dan di kota kota yang menjadi pusat perdagangan dan kerajinan atau di tempat tempat yang di pandang perlu. Sekolah jenis ini pula di tujukan untuk lapisan atas masyarakat pribumi. Yaitu golongan bangsawan dan di arahkan untuk memenuhi kebutuhan administrasi pemerintahan, perdagangan , dan perusahaan.
Sejalan dengan kebutuhan pemerintah kolonial untuk memperoleh tenaga terdidik dari golongan bangsawan pribumi yang akan di libatkan dalam pekerjaan administrasi pemerintahannya, maka di dirikan Sekolah Raja di Tondano pada tahun 1865 dan 1875. Sekolah itu kemudian didirikan juga di Bandung, Magelang, dan di Probolinggo pada tahun 1875. Bahasa Pengantarnya adalah Bahasa Melayu dan Bahasa Belanda.
Pendidikan KejuruanPendidikan Kejuruan di laksanakan melalui sekolah yang di ciptakan untuk menguasai keterampilan dan kemahiran, yang terdiri dari sekolah pertukangan, sekolah guru , sekolah gadis dan sekolah dokter.
Selain di kenal adanya Pendidikan Kejuruan, pada masa Kolonial Belanda tercatat Sekolah Pertukangan atau di sebut Ambachschool, yang di usahakan oleh swasta dan di buka tahun 1856 di Batavia. Adapun sekolah pertukangan pertama yang di usahakan oleh Pemerintah di buka pada tahun 1860 di Surabaya.
Pendidikan Masa Kolonial Menjelang Abad ke-20
Pada abad ke-20, hampir di di seluruh dunia terjadi perubahan dan pembaharuan yang menyeluruh pada aspek aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya, di mana pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam perubahan tersebut. Demikian pula dengan perusahaan perusahaan Belanda/ Eropa di Indonesia mengalami kemajuan pesat, sehingga membutuhkan para pekerja terdidik dan memiliki keahlian tertentu. Selain itu penduduk pribumi mulai bangkit kesadarannya untuk memperbaiki status sosialnya sebagai warga negara kelas dua melalui pendidikan.
Arah Etis menjadi landasan dan langkah langkah dalam penyelenggaraan pendidikan di Hindia Belanda.Meskipun langkah langkah yang di ambil tampaknya menguntungkan penduduk pribumi, pada dasarnya Arah Etis ditujukan untuk kepentingan Pemerintah Hindia Belanda. Berdasarkan arah etis, corak dan sistem pendidikan persekolahan di Hindia Belanda pada abad ke-20 di tempuh melalui :
1. Pendidikan dan pengetahuan Barat bagi golongan penduduk pribumi, sehingga bahasa Belanda di jadikan bahasa pengantar di sekolah.
2. Pendidikan Rendah bagi golongan pribumi di sesuaikan dengan kebutuhan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tenaga menengah dan rendah yang berpendidikan.
3. Pendidikan Menengah.
Pendidikan Menengah atau Pendidikan Lanjutan (Middelbaar Onderwijs), terdapat satu jenis sekolah menengah, yang menurut sistem persekolahan Belanda di golongkan dalam sekolah rendah, yaitu Sekolah Rendah yang di perluas (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO). Sekolah yang merupakan kelanjutan dari sekolah rendah tersebut menggunakan pengantar bahasa Belanda dengan lama belajar antara tiga sampai empat tahun. Sekolah yang pertama didirikan pada tahun 1914 dan di peruntukkan bagi golongan Pribumi dan Timur Asing.
4. Pendidikan Kejuruan
Pendidikan Kejuruan (Vakonderwijs) adalah sekolah menengah yang bertujuan untuk memberikan pendidikan pertukangan, teknik, dagang, pertanian, dan kewanitaan.
- Sekolah Pertukangan Pengantar Bahasa Daerah.
- Sekolah Poertukangan Pengantar Bahasa Belanda.
- Pendidikan Teknik Pengantar Bahasa Belanda
- Pendidikan Dagang
- Pendidikan Pertanian.
- Pendidikan Kejuruan Kewanitaan.
Sekolah Keguruan
Sekolah Keguruan (Kweekschool) adalah lembaga pendidikan keguruan tertua. Yang sudah ada sejak permulaan abad ke-19. Sekolah ini mula mula berupa kursus yang di dirikan oleh kalangan zending dan missie. Sekolah Guru Negeri yang pertama di dirikan pada tahun 1851 di Surakarta. Pada waktu waktu sebelumnya, Pemerintah telah menyelenggarakan kursus kursus guru yang di beri nama Normaal Cursus yang di persiapkan untuk menghasilkan guru Sekolah Desa
Pada akhir abad ke-20, sejalan dengan perkembangan dan kemajuan di bidang pendidikan. Pendidikan guru mengalami perkembangan sehingga terdapat tiga jenis sekolah guru. Yaitu :
- Normaalschool adalah sekolah guru yang menggunakan pengantar bahasa daerah dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima tahun.
- Kweekschool adalah sekolah guru dengan lama belajar empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar berbahasa pengantar Belanda.
- Hollandsch Inlandsche Kweekschool yaitu sekolah guru yang menggunakan pengantar bahasa Belanda dengan masa pendidikan enam tahun dan bertujuan menghasilkan guru HIS/HCS.
Pendidikan Pertanian (Lanbouw Onderwijs)
Pendidikan Pertanian bertujuan memenuhi keperluan penduduk asli sebagai masyarakat agraris. Dan untuk memenuhi keperluan perusahaan perkebunan Eropa yang mempergunakan pekerja dan pengawas pribumi. Pada tahun 1903 didirikan Sekolah Pertanian (Landbouwschool), yang menerima lulusan sekolah dasar yang berbahasa pengantar Belanda. Selanjutnya pada tahun 1911 didirikan Sekolah Pertanian (Cultuurschool) yang terdiri dari dua jurusan pertanian dan kehutanan. Lama belajar adalah tiga sampai empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar yang berbahasa pengantar Belanda. Sekolah tersebut bertujuan untuk menghasilkan pengawas pengawas pertanian dan kehutanan (Landbouw Opzichter). Di samping itu di dirikan Sekolah Pertanian Menengah Atas (Middelbaar Landbouwschool) dengan lama belajar tiga tahun yang menerima lulusan MULO atau HBS. Pada tahun 1920 di dirikan Sekolah Tani (Landbouw Bedrijfsschool) yang menerima lulusan sekolah dasar lima tahun. Dengan lama belajar dua tahun dan berbahasa pengantar bahasa daerah
Pendidikan Kejuruan Kewanitaan (Meisjes Vakonderwijs)
Adalah Pendidikan Kejuruan termuda yang pendiriannya di ilhami oleh gagasan R.A. Kartini. Pemerintah memberikan perhatian kepada bidang kejuruan tersebut dan melalui partisipasi dan kepeloporan usaha swasta. Pada tahun 1918 di dirikan Sekolah Kepandaian Puteri (Lagere Nijverheidschool voor Meisjes). Sekolah sejenis yang di dirikan oleh swasta di namakan Sekolah Rumah Tangga (Huishoudschool) dengan lama belajar tiga tahun dan menerima lulusan HIS, HCS, Sekolah Peralihan (Schakelschool), di samping itu, terdapat Sekolah van Deventer yang menerima lulusan ELS dan bertujuan untuk memberikan pendidikan keputerian yang berorientasi Eropa/Belanda. Menariknya sekolah ini juga memberikan pendidikan untuk guru Pendidikan Taman Kanak-kanak ( Frobel Onderwijs)
5. Pendidikan Tinggi
Pada dasa warsa kedua abad ke-20 di kalangan penganjur politik etis terdapat gagasan untuk mendirikan pendidikan tinggi bagi golongan pribumi. Pada tahun 1910 di dirikan Perkumpulan Universitas Hindia (Indische Universiteit Vereeniging) yang bertujuan untuk mendirikan perguruan tinggi baik melalui pemerintah atau swasta. Pengambil inisiatifnya semula dari kalangan Indo-Eropa, tetapi kemudian di dukung oleh orang pribumi dn Belanda.
Pada masa itu Perguruan Tinggi yang telah di dirikan meliputi beberapa disiplin ilmu yaitu Kedokteran, Hukum, Teknik, Sastra & Filsafat.
Pendidikan Tinggi Kedokteran.
Pendirian lembaga pendidikan tinggi ini di mulai dari Sekolah Dokter Jawa yang di dirikan pada tahun 1851 dengan lama belajar dua tahun. Sekolah yang menerima lulusan Sekolah Rendah lima tahun ini menggunakan pengantar bahasa Melayu. Pada tahun 1902, Sekolah Dokter Jawa itu di ubah menjadi STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen) ; sekolah yang menggunakan pengantar bahasa Belanda dengan lama belajar tujuh tahun ini menerima lulusan ELS. Dalam waktu waktu selanjutnya, syarat penerimaan STOVIA di tingkatkan menjadi lulusan MULO. Pada tahun 1913 di samping STOVIA di Jakarta di dirikan pula NIAS(Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya yang syarat syaratnya dan lama belajarnya sama. Pada tahun 1927 di Jakarta di dirikan Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hogeschool) yang menerima lulusan AMS atau HBS dan dengan lama belajar enam tahun.
Pendidikan Tinggi Hukum.
Adalah lembaga pendidikan yang mulai di dirikan dengan nama Sekolah Hukum(Rechtsschool) pada tahun 1909. Sekolah ini menerima lulusan ELS termasuk yang telah terintegrasi dengan Sekolah Raja. Sekolah Hukum ini menggunakan pengantar bahasa Belanda dengan lama belajar tiga tahun. Pada tahun 1924 di buka Sekolah Tinggi Hukum (Rechtkundige Hogeschool,) yang menerima lulusan AMS-HBS, dengan lama belajar lima tahun. Terdapat pula sekolah hukum yang lebih mengkhususkan pada pendidikan Pangreh Praja dan Jaksa Sekolah ini di dirikan pada tahun 1900 bernama OSVIA (Opleiding School voor Indische Ambtenaren). Lama pendidikan lima tahun, dan menerima lulusan ELS, khususnya yang terintegrasi dengan Sekolah Raja, dan di sediakan untuk kaum bangsawan. Pada tahun 1927 OSVIA di reorganisasikan setingkat sekolah menengah atas sehingga menjadi MOSVIA(Middlebaar Opleiding School voor Indische Ambtenaren), dengan lama belajar tiga tahun dan menerima lulusan MULO.
Pendidikan Tinggi Teknik.
Pada tahun 1920 sejumlah perusahaan yang bergabung dalam Koninklijk Instituut voor Hoge Technisch Onderwijs in Nederlandsch Indie mendirikan pendidikan tinggi teknik bernama Technische Hogeschool di Bandung. Sekolah yang berada di bawah manajemen swasta sampai tahun 1924 ini kemudian di ambil alih tanggung jawabnya oleh Pemerintah Belanda, bertepatan dengan di bukanya Recht Hogeschool di Jakarta. Lembaga teknik inilah yang sekarang di kenal sebagai Institut Teknologi Bandung.
Pendidikan Tinggi Sastra dan Filsafat.
Usaha untuk mendirikan sebuah fakultas sastra di Indonesia sudah ada sejak tahun 1920-an. Pada waktu kaum terpelajar Belanda dan kaum Nasionalis Indonesia telah mempunyai cita cita ke arah itu.
Kaum terpelajar Belanda bermaksud meneliti dan mempelajari kebudayaan Indonesia secara lebih ilmiah agar dapat menunjang keberhasilan politik kolonialnya Sedangkan golongan Nasionalis Indonesia bermaksud meneliti dan mempelajari kebudayaan Indonesia dengan tujuan untuk menanamkan dan mengobarkan semangat kebangsaan Indonesia.
Usaha mendirikan Fakultas Sastra dan Fisafat (Fakulteit der Literren en Wijsbegeerte) ini baru terlaksana pada tanggal 4 Desember 1940 di Jajarta. Pendirian Fakultas Sastra dan Filsafat ini berkaitan dengan erat dengan rencana pembentukan Universitas Hindia-Belanda.
Pendidikan Masa Kolonial Belanda dan Relevansinya dengan Saat Ini
Sangat menarik paparan pendidikan yang telah di toreh oleh Pemerintah Hindia Belanda di Nusantara. Walaupun ada kesan bahwa awal mula pendidikan dan pengajaran yang di rancang, adalah demi kepentingan dan kebutuhan Penjajah. Namun tentu banyak hikmahnya pula yang bisa kita petik sekaligus kita tiru dan mafaatkan.
Namun yang patut kita garis bawahi adalah betapa lengkapnya Pemerintah Hindia-Belanda membangun sistem pendidikan dari lingkup guru Taman Kanak-kanak. Pertukangan kayu dan besi sampai menjadi tukang dalam klasifikasi seorang mandor.
Jejak dunia pendidikan yang mengambil kurun waktu dari awal abad ke-18 hingga abad ke-20 itu tidak hanya meninggalkan konsep pengajaran. Tentang ilmu ilmu terkait dengan lingkungan alam dan unsur-unsur budaya setempat, Nusantara. Juga mengetengahkan alam budaya dan filsafat Barat, khususnya Belanda dan Eropa.
Tak bisa di sangkal bahwa jejak Belanda yang begitu lengkap. Mulai dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Sekolah Kejuruan, Sekolah Kepandaian Puteri dan Sekolah Kewanitaan.
Pendirian Perguruan Tinggi yang terdiri atas Ilmu Kedokteran, Ilmu Hukum, Ilmu Pertanian dan Sastera serta Filsafat di Hindia Belanda antara tahun 1850-1920. Yaitu di bukanya Pendidikan Dokter dan Keinsinyuran Teknik merupakan cikal bakal kedua bidang ilmu tersebut yang hingga kini masih sangat jelas jejak dan tapaknya.
Di dalam ilmu keteknikan Belanda telah mewariskan etika merancang rekayasa teknologi tak hanya dari ilmu dasarnya yaitu aspek kekuatan. Namun secara moral telah banyak menyumbang dalam segala hal menyangkut tanggung jawab, kejujuran, nilai akhir sebuah karya teknik dan pemanfaatan secara lebih menyeluruh bagi masyarskat pengguna.
Di tengah tengah krisis moral (?) yang melanda dunia pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi di Indonesia saat ini. Warisan pendidikan masa Kolonial adalah ibarat angin segar yang meluluhkan ketidak jujuran, kemelut, penyimpangan dan ketimpangan dalam dunia pendidikan dan pengajaran di Nusantara.
(Ckr03)