VakansiInfo – Rumah pasang suami istri (pasutri) Said (71) dan Nur (60) yang beralamat di RT 002/005 Kelurahan Kebon Pedes Kecamatan Tanah Sareal sudah sangat memprihatikan dan tak layak huni.
Kondisi rumah Said sudah selayaknya mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah. Ketika Radar Bogor menyambangi rumah Said, betapa kagetnya. Pasalnya. rumah yang ukuran 5X5 itu mulai dari atap yang sudah rapuh bahkan sebagian sudah tidak bergenteng. Atap plafon sudah ambruk, kamar tidur hanya beratapkan di tutupi terpal warna biru.
“Kalau hujan semua pada basah karena air masuk”, ucap Said dengan nada sedih, Rabu (24/9/2025).
Said yang sehari-harinya jualan koran ini tak mampu untuk merenovasi, ia hanya mengharapkan perhatian dan bantuan dari pemerintah.
“Sudah hampir dua tahun rumah seperti ini, saya hanya jualan koran dengan berjalan kaki dan istri saya jualan lontong, Alhamdulillah ada buat makan sehari-hari mah”, ujarnya
Said menceritakan bahwa dari pihak pemerintahan sudah pernah menyambangi rumahnya, tapi sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya.
“Dari Kelurahan, kecamatan, BPBD dan dinsos sudah pernah datang, nanya-nanya, foto dan sebagainya, tapi sampai sekarang belum ada kepastian”, terangnya.
Nur menambahkan dengan kondisi rumah seperti ini, ia sudah tak menempatinya karena takut rubuh.
“Setiap malam saya nginep di rumah kontrakan anak saya, paling suami saya yang tidur di sini, saya takut rumah ini rubuh, apalagi dengan cuaca sekarang ini”, katanya dengan nada tersedu-sedu.
Nur yang sudah sakit-sakitan ingin merasakan rumah yang layak seperti orang pada umumnya.
“Saya sudah sakit komplikasi, saya ingin punya rumah yang layak”, ujar Nur sambil menangis.
Ia berharap pemerintah dengan dinas terkait segera memberikan bantuan untuk rumah layak huni.
Sementara, kasi ekonomi dan pembangunan ( ekbang) Kelurahan Kebon Pedes, Sari mengatakan bahwa kondisi rumah Said sudah di ajukan ke Dinas perumahan dan permukiman (Disperumkim) kota Bogor.
“Atas nama Bu Nur istri bapak Said sudah kita ajukan dinas permukiman, itu pernah kita survey juga. Sudah ada permohonannya, BSTT nya (Bantuan Sosial Tak Terencana, red) rekomnya sudah turun, tapi pas ada kebijakan dari permukiman nya sudah masuk DTKS apa belum”, jelasnya.
Menurut Sari, pihak kelurahan selalu konfirmasi ke dinas perumahan dan permukiman.
“Pihak kelurahan sudah konfirmasi-konfirmasi lagi dengan pihak perumkim, permohonan ada ga tindak lanjutnya, tapi belum juga ada jawaban”, tegasnya.
Ia berharap semua pengajuan ke dinas perumahan dan permukiman kota Bogor termasuk pengajuan kondisi rumah Said segera di realisasikan.
“Intinya Kita sudah berupaya memfasilitasi, tapi semua kebijakan ada di Dinas”, pungkasnya.
(Eff)



