Neil Peart Sang Profesor Drum dari Rush yang Mengubah Wajah Musik Rock

Neil Peart Sang Profesor Drum dari Rush yang Mengubah Wajah Musik Rock

VakansiInfo – Dalam dunia musik rock, nama Neil Peart bukan sekadar di kenal—ia di hormati, di pelajari, dan di jadikan panutan oleh ribuan drummer di seluruh dunia. Julukan “The Professor” melekat bukan tanpa alasan. Sebagai drummer dan penulis lirik utama dari Rush, band progresif asal Kanada. Neil Peart membawa permainan drum ke tingkat intelektual dan emosional yang tak biasa. Ia bukan hanya menghentak drum, ia menceritakan kisah lewat setiap pukulan.

Drummer dengan Kecerdasan Luar Biasa

Neil Peart dikenal karena pendekatannya yang hampir ilmiah terhadap drumming. Ia memadukan teknik klasik, jazz, dan rock progresif menjadi sebuah gaya yang khas dan sangat kompleks. Di balik set drum raksasanya—yang sering kali mengelilingi dirinya 360 derajat. Terdapat detail dan perhitungan matematis dalam setiap pattern, fill, dan transisi yang ia mainkan.

Lebih dari sekadar teknikal, Peart adalah seorang pemikir. Ia membaca, menulis, dan mengeksplorasi filosofi, politik, dan sains, lalu menuangkannya ke dalam lirik-lirik lagu Rush yang reflektif dan mendalam. Karyanya dalam lagu seperti Tom Sawyer, Subdivisions, atau Spirit of Radio tidak hanya mencerminkan keahlian musikal, tetapi juga kecerdasan sosial dan kultural.

Baca Juga  Kurt Cobain, Suara Pemberontakan yang Tak Pernah Mati

Perjalanan Panjang dan Dedikasi Tanpa Henti

Peart bergabung dengan Rush pada tahun 1974, menggantikan drummer sebelumnya, John Rutsey. Dari situ, ia membawa perubahan besar dalam identitas band. Bersama Geddy Lee dan Alex Lifeson, Peart mengantar Rush ke dalam era kejayaan dengan album-album ikonik seperti 2112, Moving Pictures, dan Permanent Waves.

Namun, karier Peart tidak bebas dari cobaan. Di akhir 1990-an, ia kehilangan anak perempuannya dalam kecelakaan mobil, dan istrinya tak lama kemudian karena kanker. Ia pun sempat mundur dari dunia musik dan melakukan perjalanan ribuan kilometer mengelilingi Amerika Utara dengan sepeda motor—sebuah perjalanan yang ia dokumentasikan dalam buku Ghost Rider: Travels on the Healing Road.

Namun, semangat Neil tak padam. Ia kembali ke panggung bersama Rush, menciptakan karya baru, dan membuktikan bahwa musik bisa menjadi jalan pemulihan dan kebangkitan.

Warisan Abadi

Neil Peart meninggal dunia pada Januari 2020 karena kanker otak, meninggalkan duka mendalam bagi dunia musik. Namun warisannya tetap hidup—dalam setiap rekaman Rush, dalam video edukasi drum, dalam jutaan tangan yang menirukan pukulan-pukulannya, dan dalam jiwa setiap drummer yang ingin lebih dari sekadar memainkan ritme—tapi ingin menyampaikan makna.

Baca Juga  Ian Curtis, Sosok Jenius yang Terlalu Cepat Pergi, Pionir Joy Division yang Mengubah Musik Dunia

Neil Peart tidak hanya bermain drum. Ia mengajar dunia bagaimana menjadi seorang seniman yang berpikir.

(Fai)

About The Author

Pilihan Redaksi

Toxic Positivity, Ketika “Berpikir Positif” Menjadi Racun Emosional

Toxic Positivity, Ketika “Berpikir Positif” Menjadi Racun Emosional

suasana festival halal HaKa 2025 Jakarta

Belanja, Belajar, Berjejaring di HaKa 2025: Event Halal Terbesar untuk Muslim Urban