
VakansiInfo, Bogor – Dinamika gerakan pemuda di Kota Bogor kembali menjadi sorotan. Tak lagi sekadar identik dengan aksi demonstrasi atau kritik sosial di jalanan, generasi muda dinilai memiliki peran yang jauh lebih luas dalam mendorong perubahan dan pembangunan daerah secara nyata dan berkelanjutan.
Isu tersebut akan dibahas secara mendalam dalam forum diskusi Sawala Dasa Wacana #9 bertema “Quo Vadis Gerakan Pemuda Bogor dan Kontribusinya terhadap Pembangunan Daerah”, yang diselenggarakan oleh Daya Putra Bangsa pada 10 Februari 2026 di Saung Putra Bangsa, Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin Tonggoh, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.
Dalam perspektif akademik, pemuda dikenal memiliki Tri Peran Pemuda sebagai agent of change, social control, dan moral force. Artinya, generasi muda bukan sekadar pelaku aksi, melainkan penggerak transformasi sosial sekaligus penjaga nilai moral di tengah masyarakat.
Secara sosiologis, gerakan pemuda hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari partisipasi sosial, advokasi kebijakan publik, pelestarian seni dan budaya, hingga penguatan UMKM dan ekonomi kreatif. Meski demikian, meningkatnya aksi unjuk rasa kaum muda di Bogor memunculkan pertanyaan kritis: sejauh mana aksi tersebut benar-benar berkontribusi konstruktif terhadap pembangunan daerah dan perubahan jangka panjang.
Di sisi lain, tak sedikit pemuda Bogor yang justru aktif menjadi pelopor usaha kreatif, pegiat seni, hingga penggerak komunitas budaya. Kontribusi ini dinilai memberi dampak nyata terhadap pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi lokal, meski sering kali belum mendapat sorotan sebagai bagian dari gerakan kepemudaan.
Pembina Daya Putra Bangsa, Heri Cokro, menegaskan bahwa pemuda perlu melampaui aksi simbolik dan menghadirkan solusi konkret.
“Pemuda jangan hanya dikenal karena turun ke jalan, tetapi juga karena karya dan solusi yang mereka ciptakan. Demonstrasi penting sebagai kontrol sosial, tetapi dampak terbesar justru hadir dari inovasi, UMKM, dan gerakan budaya yang menguatkan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, forum Sawala Dasa Wacana dirancang sebagai ruang dialog sekaligus refleksi bersama.
“Kami ingin gerakan pemuda Bogor lebih transformatif, bukan sekadar ekspresif. Ada gagasan, ada aksi, dan ada dampaknya bagi daerah,” tambah Heri.
Melalui diskusi ini, penyelenggara berharap lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai arah atau quo vadis gerakan pemuda Bogor, dengan menghubungkan aktivisme sosial, pelestarian budaya, serta kepeloporan ekonomi kreatif dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
Masyarakat, komunitas, mahasiswa, dan pemuda lintas organisasi diundang untuk hadir dan berpartisipasi aktif dalam forum ini sebagai ruang bertukar ide dan memperkuat kolaborasi demi kemajuan Bogor. (Mur)
