Sab. Agu 30th, 2025

Robot Gedeg Bocah 3 Tahun, 1 Misi, dan Sekawanan Domba Tak Berdosa

Robot Gedeg Bocah 3 Tahun, 1 Misi, dan Sekawanan Domba Tak Berdosa.
Acilo mungkin belum bisa ngomong jelas, tapi dia tahu pasti: rebahan di antara pagar adalah langkah pertama menuju dunia yang lebih besar.

VakansiInfo – Semua tampak asing di mata si Robot Gedeg. Sebaris rumah berjajar hening, seperti masih terlelap meski matahari sudah mengintip dari balik bukit.

Pagi itu, Pak Karna dan Emak Yan duduk bersisian di ruang tengah. Mereka berbicara dengan nada lembut tapi serius, membahas masa depan Ka Ucrit, yang sebentar lagi akan masuk SD. Aku, bocah tiga tahun yang belum paham soal sekolah atau masa depan, hanya tahu satu hal: cuaca cerah, dan dunia luar terlalu menarik untuk dilewatkan.

Pintu rumah dibiarkan setengah terbuka. Cahaya pagi masuk membentuk garis-garis terang di atas lantai keramik yang dingin dan licin. Di sanalah si Robot Gedeg—aku sendiri, Acilo—berdiri. Satu tangan menggenggam pinggiran pintu, satu kaki kecil mulai melangkah keluar.

Krekok, Krekok, Krekok.

Langkahku berat dan pelan. Jalanku belum stabil. Tapi tekad bocah tiga tahun tidak bisa diremehkan. Dengan gaya robot yang sedikit oleng, aku mendekati pagar kayu yang berdiri kokoh seperti raksasa penjaga di depan rumah.

Langkah terhenti.
Bruk!
Si Robot Gedeg terjatuh di antara pagar tembok dan kayu, dengan gaya dramatis khasnya.

Pak Karna, Emak Yan, dan Ka Ucrit menoleh serentak. Sekejap hening. Tapi si Robot Gedeg hanya menengadah, tersenyum santai, seolah jatuh itu bagian dari rencana.

Baca Juga  Seminar Merajut Nusantara - BAKTI Kemkominfo RI “Literasi Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat”
“Tenang, ini cuma akting. Lagi pengin rebahan aja, kok.”

Aku terduduk di celah sempit antara pagar tembok dan ukiran kayu yang masih baru, masih tampak segar dan bersih. Mataku menatap ke depan—jalan kosong yang membentang di samping rumah. Tapi di mataku, itu terlihat seperti gerbang menuju petualangan besar.

Lalu perlahan, aku menoleh ke belakang.

Mbee… mbee… kluthuk… kluthuk…

Suara gemerisik terdengar dari arah hutan bambu. Cahaya matahari menembus batang-batang bambu, membentuk siluet gerombolan domba yang muncul entah dari mana—seperti pasukan rahasia dari negeri dongeng.

Si Robot Gedeg melongo. Matanya membulat.

Domba-domba itu—gemuk, lucu, dan tampak tak berdosa—langsung menyerbu tanaman yang ditanam dengan penuh cinta oleh sang Insinyur Bodoh, alias Pak Karna.

Emak Yan yang tadinya khusyuk mengobrol sontak berdiri, mengibas-ngibaskan sapu lidi:

“Huss! Huss! Kambing siapa sih ini, songong banget! Baru juga taneman numbuh!”

Domba-domba itu kabur dengan ekspresi cuek, seolah tak merasa bersalah sama sekali. Emak Yan kembali duduk, masih mengomel kecil. Percakapan keluarga berlanjut seperti tak terjadi apa-apa—hanya jeda iklan sinetron.

Si Robot Gedeg terpukau. Ia berdiri, bersiap mengejar.

Satu langkah, dua langkah…
Bruk!

Baca Juga  Perpustakaan Jakarta Hadirkan Pengalaman Literasi Digital Imersif di TIM

Jatuh lagi.

Emak Yan hanya menoleh sekilas, lalu balik mengobrol.

Yah… jatuh lagi, padahal udah hampir.

Tapi rasa penasaranku tak luntur. Aku duduk sebentar, lalu menatap arah jejak domba yang mulai menjauh.

Langkah-langkah kecil kembali berirama:

Krekok… krekok… krekok…

Sampai akhirnya… aku tiba.

Sebuah jembatan kayu kecil membentang di atas sungai bening. Di ujungnya, air terjun mini bergemericik lembut. Hutan bambu melingkar seperti pelindung alami. Ikan-ikan kecil berenang riang, memantulkan cahaya pagi.

Mataku membelalak. Ini surga. Ini petualangan. Ini… mungkin tempat yang selama ini hanya ada dalam mimpi.

Tiba-tiba dari kejauhan…

“Ya ampuuun! Jangan main di situ! Nanti keceempluuuung!”

Teriakan seorang wanita muda menggema. Ia berlari kecil sambil menggendong anak. Rambutnya terikat, wajahnya panik. Mungkin tetangga baru. Atau… peri penjaga sungai dalam versiku yang bocah.

Suasana mendadak riuh. Emak Yan keluar dari rumah, menghampiriku dan langsung menggendong.

“Dasar anak ini… bisa-bisanya ngilang!”

Tapi dalam pelukannya, aku hanya menunjuk ke arah sungai. Dengan mata penuh tekad, aku bilang:

“Aja ican… aja ican…”

Dan di situlah, untuk pertama kalinya, dunia kecil si Robot Gedeg terasa begitu besar.
Dan mungkin… itulah awal dari semua kenakalan dan petualangan berikutnya.

(Acil)

Related Post