Sawala Dasa Wacana #11 Angkat Citra Perempuan Sunda, Dorong Generasi Muda Raih Cita dan Jaga Budaya
4 mins read

Sawala Dasa Wacana #11 Angkat Citra Perempuan Sunda, Dorong Generasi Muda Raih Cita dan Jaga Budaya

VakansiInfo, Bogor – Lingkar Diskusi Sawala Dasa Wacana #11 yang diselenggarakan oleh Daya Putra Bangsa kembali digelar untuk ke-11 kalinya di Kompleks Edukasi Putra Bangsa pada Jumat 10 April 2026. Mengangkat tema “Membincang Citra Perempuan Sunda (Nusantara): Mengayuh Cita di Antara Kultur Patriarki, Stigmatisasi, dan Emansipasi”, kegiatan ini menjadi wadah refleksi sekaligus sumber inspirasi bagi generasi muda, khususnya kalangan pelajar yang mendominasi peserta.

Momentum bulan April yang lekat dengan semangat perjuangan perempuan Indonesia turut memperkuat makna diskusi ini. Nilai-nilai perjuangan dari R.A. Kartini dan Dewi Sartika dijadikan landasan dalam membahas kesetaraan dan emansipasi perempuan.

Hadir sebagai pembicara, Halimah Munawir, Monika Maya Dora, serta Titik Sumarti, yang masing-masing menyampaikan pandangan secara inspiratif kepada para peserta.

Dorongan Pendidikan dan Jati Diri Sunda

Pada sesi pertama, Halimah Munawir menegaskan bahwa pendidikan merupakan kunci utama bagi perempuan Sunda untuk meraih impian sekaligus meningkatkan kualitas diri. Ia juga mengingatkan pentingnya memahami identitas sebagai urang Sunda.

“Entong ngaku urang Sunda lamun teu apal kana jati dirina,” ujarnya.

Ia turut memaparkan makna kata “Sunda” secara etimologis yang berarti terang, bercahaya, dan subur—sebuah filosofi yang mencerminkan peran perempuan sebagai sumber kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya.

Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk menuliskan cita-cita mereka yang nantinya akan dihimpun menjadi buku oleh Obor Sastra. Meskipun sempat diguyur hujan deras disertai angin kencang, semangat peserta tetap tinggi. Bahkan, Halimah memberikan apresiasi berupa buku karyanya kepada lima peserta yang paling cepat menyelesaikan tulisan.

Baca Juga  Kemkomdigi Dorong Generasi Muda Jadi Duta Digital Kesehatan Lewat Workshop “SOHIB Berkelas”

Sawala Dasa Wacana #11 Angkat Citra Perempuan Sunda, Dorong Generasi Muda Raih Cita dan Jaga Budaya

Mengayuh Cita di Tengah Tantangan Zaman

Memasuki sesi kedua yang dipandu oleh Heri Cokro, pembahasan semakin fokus pada realitas yang dihadapi perempuan masa kini. Perempuan Sunda digambarkan sedang “mengayuh cita” di tengah perubahan zaman yang cepat—mulai dari upaya menjaga budaya, tekanan patriarki, stigma sosial, hingga tuntutan emansipasi.

Menanggapi hal tersebut, Monika Maya Dora mengajak generasi muda untuk terus mencintai budaya lokal, termasuk mengenakan kebaya sebagai bagian dari identitas perempuan Indonesia.

“Kebaya jangan sampai punah. Kita harus menjaganya bukan hanya dengan retorika, tetapi dengan tindakan nyata,” tegasnya.

Ia juga menyinggung pentingnya pengakuan kebaya sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan sebagai identitas bangsa.

Memahami Patriarki, Stigma, dan Emansipasi

Sementara itu, Titik Sumarti memaparkan konsep patriarki, stigmatisasi, dan emansipasi dengan cara yang mudah dipahami oleh generasi muda. Ia menjelaskan bahwa patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan dalam berbagai aspek kehidupan.

Sedangkan stigmatisasi atau stereotipe, menurutnya, merupakan bentuk pelabelan yang sering kali melemahkan posisi perempuan, misalnya anggapan bahwa perempuan bekerja hanya sebagai tambahan sehingga layak menerima upah lebih rendah.

Baca Juga  Yayasan EL JOHN Indonesia Lepas Dwi Guna Pradnyaniswari ke Miss Tourism International 2025 Malaysia

“Bila pelabelan menyebabkan diskriminasi, maka harus kita sanggah,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa emansipasi merupakan upaya untuk memperjuangkan hak, tanggung jawab, dan kesempatan yang setara bagi perempuan dalam mengembangkan diri, sebagai mitra sejajar laki-laki dalam membangun negeri.

“Bangun kekuatan diri, rajin belajar, miliki keterampilan, dan suara, serta kohesi sosial. Tetap jaga nilai budaya Sunda yang baik, namun tinggalkan hal-hal yang merugikan perempuan,” pesannya.

Antusiasme Peserta dan Penutup

Hingga menjelang sore hari, para peserta tetap antusias mengikuti jalannya diskusi, aktif mengajukan pertanyaan, serta terlibat dalam dialog yang dinamis. Kegiatan yang berakhir sekitar pukul 17.00 WIB ini ditutup dengan kesimpulan bahwa semangat perjuangan tokoh perempuan harus terus diwariskan.

Melalui momentum bulan Kartini, para peserta diajak untuk tetap berpegang pada jati diri bangsa, melestarikan budaya, serta terus berkembang dalam semangat kesetaraan. Nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh menjadi landasan penting dalam menghadapi tantangan masa depan, khususnya bagi perempuan Sunda dan Nusantara. (Ckr03/red)

About The Author