VakansiInfo, Bogor – Bagaimana sebenarnya wajah perempuan Sunda hari ini? Apakah masih lekat dengan citra tradisional, atau justru sudah menjelma menjadi sosok modern yang mandiri dan berdaya?
Sejak dulu, perempuan Sunda dikenal memiliki posisi terhormat dalam kehidupan sosial dan budaya. Dalam cerita-cerita lama, sosok seperti Dewi Sri menjadi simbol kehidupan dan kesuburan, sementara tokoh seperti Dyiah Pitaloka dan Dayangsumbi menggambarkan kecerdasan, keteguhan, serta harga diri perempuan. Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa perempuan Sunda sejak awal tidak pernah berada di posisi yang lemah.
Namun seiring perjalanan waktu, berbagai pengaruh seperti feodalisme, budaya patriarki, hingga kolonialisme turut mengubah cara pandang terhadap perempuan. Peran perempuan mulai dibatasi pada ranah domestik—dikenal dengan istilah macak, manak, masak—sementara ruang publik lebih banyak didominasi laki-laki.
Kini, di era modern dan serba digital, tantangan yang dihadapi perempuan Sunda semakin kompleks. Di satu sisi, mereka dituntut untuk mandiri, berpendidikan tinggi, dan aktif berkarier. Di sisi lain, masih ada tekanan sosial dan stigma yang melekat, terutama bagi perempuan yang dianggap “berbeda” dari norma—baik dalam pilihan hidup, profesi, maupun cara berekspresi.
Citra “Mojang Priangan” yang anggun, ceria, dan stylish memang masih populer. Namun di balik itu, tersimpan tekanan standar kecantikan yang kian dipengaruhi tren global dan media sosial. Belum lagi persoalan nyata seperti beban ganda antara pekerjaan dan keluarga, kesenjangan kesempatan, hingga isu kekerasan berbasis gender yang masih terjadi.
Melihat kondisi ini, penting untuk kembali merumuskan citra perempuan Sunda yang lebih utuh. Bukan sekadar memilih antara tradisional atau modern, tetapi mampu menggabungkan keduanya. Perempuan Sunda masa kini dapat tetap berpegang pada nilai luhur seperti silih asah, silih asuh, dan silih asih, sekaligus berani melangkah maju menghadapi tantangan zaman.
Melalui Sawala Dasa Wacana #11, diskusi ini hadir sebagai ruang refleksi dan dialog terbuka. Harapannya, perempuan Sunda tidak lagi sekadar menjadi objek dari berbagai konstruksi sosial, melainkan tampil sebagai subjek yang sadar, mandiri, dan berdaya—tanpa kehilangan akar budayanya.
Perempuan Sunda hari ini tengah “mengayuh cita” di tengah arus perubahan. Pertanyaannya, ke arah mana mereka akan berlabuh? Diskusi ini mencoba mencari jawabannya bersama. (Ckr03/red)


