Kupas Gerakan Pramuka, Sawala Dasa Wacana ke-5 Tekankan Urgensi Pramuka

VakansiInfo – Kegiatan Sawala Dasa Wacana ke-5 dengan tema “Menimbang Gerakan Pramuka sebagai garda depan pendidikan karakter bangsa” sukses di gelar pada Jumat, 10 Oktober 2025, di Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kp. Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Acara ini di hadiri sekitar 20 peserta dari berbagai unsur. Seperti Dewan Kerja Ranting (DKR) Cijeruk, pegiat Kwartir Ranting Cijeruk, relawan Daya Putra Bangsa, dan KPJ Merdeka Bogor. Diskusi yang di pandu oleh Heri Cokro ini menghadirkan pembicara Ahmad Kosasih (Sekretaris Kwarcab Kabupaten Bogor), Mohammad Sulaiman (Pengurus Kwaran Cijeruk), serta Rahmat Iskandar (Daya Putra Bangsa) sebagai penanggap.

Gerakan Pramuka sebagai Pilar Pendidikan Karakter

Dalam sambutannya, Heri Cokro menegaskan bahwa Gerakan Pramuka merupakan satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Dan struktur keorganisasian lengkap dalam menjalankan pendidikan karakter anak bangsa, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

“Pertanyaannya, apakah Pramuka mampu menjadi garda depan dalam membentuk manusia paripurna yang berkarakter unggul dan berintegritas?” ujarnya membuka diskusi.

Baca Juga  Daya Putra Bangsa Gelar Balakecrakan Sambut Ramadhan, Pererat Silaturahmi

Sawala Dasa Wacana ke-5

Nilai dan Keunikan Seorang Pramuka

Pembicara pertama, Mohammad Sulaiman atau Kang Sule, menekankan bahwa Gerakan Pramuka memiliki keterpaduan antara teori dan praktik kehidupan nyata.

Menurutnya, kecakapan yang di peroleh dari berbagai pelatihan Pramuka membentuk pribadi yang berkarakter kuat.

“Setiap Pramuka harus memiliki unique value person, yaitu kelebihan pribadi yang membedakannya dari orang lain. Pola pikir dan target pencapaian hidup inilah yang menjadi daya tarik dan nilai plus seorang Pramuka,” jelasnya.

Pendidikan Pramuka: Belajar Sambil Melakukan

Sementara itu, Ahmad Kosasih (Kak Kos) memaparkan sejarah dan filosofi pendidikan kepanduan yang berakar dari gagasan Baden Powell hingga sistem pelatihan Pramuka di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan Pramuka merupakan pendidikan nonformal yang berorientasi pada prinsip dasar kepramukaan dan metode pembelajaran aktif di alam terbuka.

“Kegiatan seperti camping, smapore, dan tali-temali bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk membentuk karakter generasi muda yang berjiwa tangguh, berwawasan luas, dan cinta tanah air,” tegasnya.

Menumbuhkan Kembali Semangat Membaca

Sebagai penanggap, Rahmat Iskandar (75) membagikan pengalamannya saat masih aktif di kepanduan sebelum terbentuknya Gerakan Pramuka.

Baca Juga  Bangun Budaya Baca, Vidya Sanggraha Serahkan Donasi Buku Untuk Taman Baca Putra Bangsa

Menurutnya, budaya membawa dan membaca buku menjadi kebiasaan penting yang kini mulai memudar di era gawai.

“Pramuka harus bisa kembali menumbuhkan semangat membaca agar kita tidak kehilangan generasi muda yang cerdas dan berwawasan,” ungkapnya.

Pramuka Sebagai Benteng Moral Generasi Muda

Menyoroti fenomena kenakalan remaja saat ini, Kak Kosasih mengingatkan bahwa gerakan kepanduan sejak awal berdiri juga dilatarbelakangi keprihatinan serupa.

“Melalui kegiatan positif dan pembinaan karakter, kepanduan terbukti mampu menyelamatkan anak muda dari perilaku negatif,” ujarnya.

Dari diskusi tersebut, para peserta menyimpulkan bahwa Gerakan Pramuka memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang tangguh, unggul, dan berintegritas. Diperlukan dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah agar Pramuka terus berperan sebagai garda depan pendidikan karakter bangsa.

(Ckr03)

About The Author

Author

vakansiinfooffcial@gmail.com

Related Posts