
Tak Cukup Stabil! Ini Warning Keras Ekonom soal Masa Depan Ekonomi Indonesia
VakansiInfo, Jakarta – Pujian dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan investor global yang menyebut Indonesia sebagai “bright spot” ekonomi dunia memang terdengar membanggakan.
Tapi di balik pujian itu, ada pertanyaan besar yang mulai mengemuka: cukupkah stabilitas untuk bertahan di tengah badai global?
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengingatkan bahwa tantangan ekonomi hari ini sudah naik level.
Bukan lagi sekadar menjaga stabilitas.
“Sekarang pertanyaannya: apakah kita punya ‘mesin uang’ yang cukup kuat untuk membiayai ambisi pertumbuhan ke depan?” tegasnya.
Selama ini, Indonesia memang dipuji karena disiplin fiskal—defisit dijaga di bawah 3 persen, rasio utang relatif aman. Tapi menurut Fakhrul, pasar global tidak lagi puas hanya dengan angka-angka rapi.
Investor ingin tahu satu hal krusial: cerita besar di balik pendanaan Indonesia.
Bagaimana pertumbuhan akan dibiayai? Dari mana sumber dananya? Seberapa tahan terhadap guncangan global?
Tanpa jawaban jelas, kepercayaan bisa goyah.
Fakhrul menyebut, pemerintah harus segera mengubah cara bermain. Dari sekadar “ikut aturan” menjadi lebih strategis dan transparan.
Bukan hanya bicara batas defisit—tapi membuka peta besar pembiayaan: siapa investornya, dari mana likuiditas datang, dan bagaimana risiko dikendalikan.
Di tengah kondisi global yang makin tidak pasti, kejelasan arah bukan lagi nilai tambah—tapi kebutuhan.
Masalahnya, tekanan juga datang dari sisi lain: biaya pendanaan berbasis dolar yang semakin mahal.
Ketergantungan pada mata uang kuat kini bisa menjadi bumerang.
Karena itu, Indonesia didorong untuk mencari jalan keluar—mulai dari diversifikasi sumber dana hingga memperkuat skema transaksi mata uang lokal.
Salah satu opsi yang mulai dilirik adalah pemanfaatan offshore renminbi (CNH), yang dinilai bisa menekan biaya sekaligus memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi bilateral.
Namun, Fakhrul menegaskan: kerja sama internasional tidak boleh berhenti di level “pencitraan”.
Harus ada hasil nyata—akses pendanaan baru, likuiditas segar, dan perluasan jaringan investor global.
Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, negara yang punya strategi pendanaan jelas akan melesat.
Yang tidak? Siap tertinggal.
“Stabilitas itu penting, tapi itu baru titik awal. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kita membiayai pertumbuhan dan memperkuat kedaulatan ekonomi,” tutupnya.
Pesannya keras: tanpa strategi pendanaan yang solid, pujian dunia bisa berubah jadi tekanan. (Mur)



