
Bukan Protes Biasa! Warga Kompak Tolak Penutupan TPST: Ini Soal Hidup Mereka
VakansiInfo, Bekasi ā Bayangkan jika tempat pembuangan sampah tiba-tiba ditutup. Bukan hanya bau yang hilang, tapi juga solusi. Itulah yang kini dirasakan warga Desa Sriamur, Kabupaten Bekasi.
Di tengah rencana penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST), suara warga justru menggema: jangan ditutup.
Bagi mereka, TPST bukan sekadar tempat sampah. Ini adalah āpenyelamatā dari kekacauan lingkungan yang bisa terjadi kapan saja.
āKalau tidak ada TPST, kami harus buang sampah ke mana?ā ujar salah satu tokoh masyarakat dengan nada penuh kekhawatiran.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Selama ini, TPST Sriamur menjadi titik utama pengelolaan sampah warga. Tanpanya, ancaman sampah berserakan di jalan, sungai, hingga pemukiman bukan lagi sekadar kemungkinanātapi hampir pasti terjadi.
Warga pun kompak menolak penutupan. Mereka khawatir, keputusan tersebut justru memicu masalah baru yang lebih besar: pencemaran lingkungan dan krisis kebersihan.
Namun di balik dukungan itu, warga juga tidak menutup mata. Mereka meminta pengelolaan TPST diperbaiki. Tumpukan sampah yang menggunung dan bau yang menyengat tetap menjadi keluhan yang harus segera diatasi.
āBukan ditutup, tapi dibenahi,ā tegas warga lainnya.
Tak hanya soal lingkungan, TPST juga punya dampak sosial yang nyata. Fasilitas ini membuka lapangan kerja bagi warga sekitarāmemberi penghasilan bagi mereka yang menggantungkan hidup di sana.
Menutup TPST, bagi sebagian warga, bukan hanya soal sampah. Tapi juga soal kehilangan harapan.
Kini, warga berharap pemerintah tidak sekadar mengambil keputusan cepat, tetapi juga mendengar suara dari lapangan. Karena bagi mereka, solusi terbaik bukan menghilangkan TPSTāmelainkan memperbaiki dan mengembangkannya.
Di tengah polemik ini, satu hal menjadi jelas:
bagi warga Sriamur, TPST bukan masalah⦠tapi bagian dari solusi. (Eff)



