Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil? Waspadai Gejala Pembesaran Prostat
4 mins read

Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil? Waspadai Gejala Pembesaran Prostat

👁️ 1 views

VakansiInfo, Jakarta – Banyak pria menganggap sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar seiring bertambahnya usia. Padahal, kebiasaan tersebut bisa menjadi salah satu tanda adanya gangguan kesehatan prostat yang membutuhkan perhatian lebih serius.

Salah satu kondisi yang paling sering terjadi adalah pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). Gangguan ini dialami sekitar 50 persen pria berusia di atas 50 tahun dan prevalensinya meningkat hingga 80–90 persen pada pria berusia 80 tahun ke atas.

Karena gejalanya muncul secara perlahan, tidak sedikit pria yang memilih mengabaikannya. Akibatnya, banyak pasien baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah semakin mengganggu aktivitas sehari-hari atau bahkan menimbulkan komplikasi.

Menurut dr. Elita Wibisono, Sp.U, Dokter Spesialis Urologi di Primaya Hospital Kelapa Gading, pembesaran prostat menjadi salah satu masalah kesehatan pria yang paling sering ditemukan, namun masih kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.

“Banyak pasien menganggap pancaran urine yang mulai melemah atau sering terbangun malam hari untuk buang air kecil sebagai sesuatu yang wajar karena faktor usia. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal pembesaran prostat yang perlu dievaluasi,” ujar dr. Elita.

Bukan Sekadar Gangguan Berkemih

Pembesaran prostat terjadi ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kemih. Kondisi ini menyebabkan berbagai keluhan, mulai dari pancaran urine yang melemah, rasa tidak tuntas setelah buang air kecil, hingga urine yang masih menetes setelah selesai berkemih.

Baca Juga  Fakta Tentang Nokturia Yang Harus Kamu Ketahui

Salah satu gejala yang paling sering dirasakan adalah nokturia, yaitu kondisi ketika seseorang harus terbangun berulang kali di malam hari untuk buang air kecil.

Meski terdengar sederhana, dampaknya bisa cukup besar terhadap kualitas hidup. Tidur yang terus-menerus terganggu dapat membuat tubuh lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga menurunkan produktivitas sehari-hari.

“Bayangkan jika seseorang harus bangun tiga hingga lima kali setiap malam. Tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang optimal sehingga kualitas tidur menurun dan berdampak pada aktivitas keesokan harinya,” jelas dr. Elita.

Bisa Memengaruhi Keharmonisan Pasangan

Tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, gangguan prostat juga dapat memengaruhi kondisi emosional dan hubungan dengan pasangan.

Kurang tidur dalam jangka panjang dapat memicu perubahan suasana hati, meningkatkan rasa frustrasi, hingga menurunkan kepercayaan diri. Bahkan, gangguan tidur yang dialami pasien sering kali turut dirasakan oleh pasangan yang tidur di sampingnya.

“Kesehatan prostat sebenarnya sangat berkaitan dengan kualitas hidup secara keseluruhan. Ketika gejala terus mengganggu aktivitas sehari-hari, rasa percaya diri dapat menurun dan berpengaruh terhadap hubungan interpersonal maupun kehidupan seksual,” tambahnya.

Gaya Hidup Sehat Bisa Membantu

Meski faktor usia menjadi salah satu penyebab utama pembesaran prostat, penerapan gaya hidup sehat dapat membantu menjaga kesehatan prostat dalam jangka panjang.

Baca Juga  Tak Perlu ke Luar Negeri, Pengobatan Kanker Prostat dengan Teknologi Robotik Kini Hadir di Eka Hospital MT Haryono

Aktif berolahraga, menjaga berat badan ideal, memperbanyak konsumsi sayuran hijau, serta mengonsumsi makanan kaya likopen seperti tomat dapat menjadi langkah sederhana untuk mendukung kesehatan prostat.

Sebaliknya, konsumsi berlebihan daging merah olahan dan gaya hidup sedentari sebaiknya mulai dikurangi.

Penanganan Kini Lebih Modern dan Minim Nyeri

Kabar baiknya, perkembangan teknologi medis membuat penanganan pembesaran prostat kini semakin nyaman bagi pasien.

Berbagai prosedur minimal invasif seperti TURP maupun Rezum dapat dilakukan tanpa sayatan besar pada perut sehingga proses pemulihan berlangsung lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Karena itu, pria disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter apabila mulai mengalami perubahan pola berkemih, pancaran urine melemah, merasa tidak tuntas saat buang air kecil, terbangun lebih dari dua kali setiap malam untuk berkemih, atau muncul nyeri serta darah saat buang air kecil.

“Jangan menunggu hingga terjadi komplikasi atau bahkan tidak bisa buang air kecil sama sekali. Gangguan prostat bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja sebagai bagian dari penuaan. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, pria tetap bisa menjaga kualitas hidup, produktivitas, dan keharmonisan bersama pasangan,” tutup dr. Elita. (Iyank)

About The Author