
AI Dinilai Mampu Perkuat Layanan Kesehatan Indonesia Tanpa Menggantikan Tenaga Medis
VakansiInfo, Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan. Di Indonesia, teknologi ini dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan medis, terutama di wilayah terpencil.
Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam forum kebijakan bertajuk “Intersectionality in Action: A Deep Dive with Policymakers & Practitioners on AI, Health Workforce, and Serving Vulnerable Indonesian Workers” yang diselenggarakan oleh Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) di Jakarta, Selasa (24/6/2026).
Forum tersebut mempertemukan para pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, akademisi, perwakilan pekerja dan pengusaha, hingga mitra pembangunan untuk membahas dampak AI terhadap dunia kesehatan dan ketenagakerjaan di Indonesia.
Teknologi AI kini mulai digunakan dalam berbagai aspek layanan kesehatan, mulai dari alat diagnosis penyakit, sistem pemantauan kesehatan masyarakat, perencanaan kebutuhan tenaga medis, hingga otomatisasi administrasi rumah sakit.
Meski menawarkan banyak manfaat, penggunaan AI juga memunculkan sejumlah tantangan baru terkait masa depan pekerjaan di sektor kesehatan, perlindungan data, hingga kesenjangan akses teknologi.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, melalui Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Kesehatan, Eko Sulistijo, menegaskan bahwa AI dapat menjadi salah satu pendorong transformasi sistem kesehatan nasional.
Menurutnya, pemerintah saat ini tengah menyusun kerangka kebijakan penggunaan AI di sektor kesehatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dokter, akademisi, dan praktisi kesehatan.
“Seiring transformasi kesehatan yang sedang berjalan, teknologi harus mampu mendukung pemerataan layanan kesehatan dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.
AI Membantu, Bukan Menggantikan Dokter
Peneliti Senior Departemen Riset ILO di Jenewa, Janine Berg, memaparkan hasil studi terkait penggunaan model bahasa besar atau Large Language Models (LLM) dalam membantu proses pengambilan keputusan klinis oleh dokter.
Penelitian yang dilakukan di Indonesia, Kenya, dan Belanda menunjukkan bahwa AI dapat menjadi alat pendukung yang efektif bagi tenaga kesehatan tanpa menggantikan peran mereka.
“AI mampu memperkuat layanan kesehatan dan membantu proses pengambilan keputusan klinis. Namun implementasinya harus disertai pelatihan yang memadai, validasi yang ketat, serta pengawasan yang melibatkan tenaga kesehatan,” jelas Berg.
Tantangan Kesehatan Indonesia
Forum ini digelar di tengah upaya pemerintah mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional yang mencakup penguatan layanan primer, sistem rujukan, ketahanan kesehatan, pembiayaan, sumber daya manusia kesehatan, dan teknologi kesehatan.
Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kekurangan tenaga kesehatan di sejumlah daerah, distribusi tenaga medis yang belum merata, meningkatnya kebutuhan layanan akibat perubahan demografi dan populasi lanjut usia, hingga kesenjangan akses layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh, menilai masa depan AI di sektor kesehatan sangat bergantung pada tata kelola dan implementasinya.
“AI harus diposisikan sebagai alat yang mendukung tenaga kesehatan, bukan menggantikannya. Tantangannya adalah memastikan teknologi ini mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus memperkuat kondisi kerja yang layak,” katanya.
Perlindungan Pekerja Rentan Jadi Sorotan
Diskusi juga menghadirkan berbagai praktisi kesehatan yang membahas pemanfaatan AI untuk meningkatkan efisiensi layanan, distribusi sumber daya kesehatan, pengelolaan klaim kesehatan, hingga memperluas akses layanan bagi masyarakat di daerah terpencil.
Meski demikian, para peserta forum mengingatkan adanya risiko baru yang perlu diantisipasi, seperti bias algoritma, perlindungan data pribadi, kesenjangan akses teknologi, serta dampaknya terhadap kondisi kerja kelompok rentan.
Lebih dari 100 peserta dari berbagai sektor mengikuti forum ini. Melalui dialog tersebut, ILO berharap pemanfaatan AI tidak hanya memperkuat sistem kesehatan nasional, tetapi juga mampu menciptakan pekerjaan yang layak, lingkungan kerja yang aman, serta akses layanan kesehatan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. (Mur)



