AI Diprediksi Berdampak pada 80 Juta Pekerja ASEAN, ILO: Belum Ada Gelombang PHK Besar
3 mins read

AI Diprediksi Berdampak pada 80 Juta Pekerja ASEAN, ILO: Belum Ada Gelombang PHK Besar

VakansiInfo, Jakarta – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence/GenAI) diperkirakan akan membawa perubahan besar terhadap dunia kerja di kawasan ASEAN. Meski demikian, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti terjadinya kehilangan pekerjaan secara besar-besaran akibat adopsi teknologi tersebut.

Temuan tersebut tertuang dalam laporan terbaru ILO berjudul “Generative AI and Labour Markets in ASEAN: Significant Exposure, Limited Disruption, Uneven Preparedness” yang mengkaji dampak GenAI terhadap pasar kerja di 11 negara anggota ASEAN.

Berdasarkan estimasi ILO untuk tahun 2025, sekitar 22,9 persen pekerja di ASEAN, atau hampir 80 juta orang, berada pada jenis pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap GenAI di atas ambang minimal.

Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 3,3 persen angkatan kerja, atau sekitar 11,7 juta pekerja, yang berada pada kategori pekerjaan dengan tingkat paparan tertinggi. Sementara itu, sekitar 67 persen pekerja masih berada pada jenis pekerjaan yang belum teridentifikasi memiliki paparan terhadap teknologi AI generatif.

Baca Juga  Infinix Luncurkan Laptop INBOOK Y2 Plus, Intip Spesifikasinya!

Di kawasan ASEAN, Singapura menjadi negara dengan proporsi pekerja yang paling banyak terpapar GenAI, yakni mencapai 42,2 persen. Posisi berikutnya ditempati Filipina (28,1 persen), Indonesia (21,7 persen), Vietnam (20,8 persen), dan Thailand (20,6 persen).

Laporan tersebut juga mencatat bahwa jumlah pekerjaan dengan tingkat paparan tinggi terhadap AI terus meningkat. Namun, perubahan tersebut masih lebih banyak berupa transformasi cara bekerja dibandingkan penggantian tenaga kerja secara langsung.

Pemanfaatan GenAI hingga kini masih terkonsentrasi pada sektor-sektor yang intensif teknologi. Sementara itu, penggunaan AI pada pekerjaan administrasi dan perkantoran yang sebenarnya memiliki tingkat paparan tinggi masih berlangsung secara terbatas.

Selain itu, studi ILO menunjukkan bahwa pekerja muda berusia 15–24 tahun memiliki tingkat paparan AI yang relatif sama dengan pekerja dewasa. Namun, terdapat kesenjangan gender yang cukup mencolok. Perempuan memiliki peluang lebih dari dua kali lipat dibanding laki-laki untuk bekerja pada pekerjaan dengan tingkat paparan tinggi terhadap GenAI, terutama karena dominasi mereka pada pekerjaan administratif, kesekretariatan, dan profesi profesional.

Baca Juga  POCO dan AURA Perkenalkan Line Up Pro-player Terbaru Dari AURA Esports Untuk Hadapi Season Selanjutnya

Laporan ini juga mengidentifikasi adanya kesenjangan kesiapan yang cukup besar di antara negara-negara ASEAN. Singapura dinilai sebagai negara dengan ekosistem AI paling matang berkat dukungan infrastruktur digital, ketersediaan talenta, serta strategi nasional AI yang terintegrasi.

ILO menilai manfaat AI hanya dapat dirasakan secara optimal apabila dibarengi dengan kebijakan yang tepat, termasuk pengembangan keterampilan melalui program upskilling dan reskilling, penguatan perlindungan sosial, dukungan bagi UMKM dalam mengadopsi AI, serta tata kelola AI yang berpusat pada manusia.

“Memanfaatkan manfaat GenAI membutuhkan lebih dari sekadar akses terhadap teknologi. Peningkatan produktivitas bergantung pada investasi dalam modal manusia dan perlindungan sosial. Pada akhirnya, masa depan pasar kerja akan lebih ditentukan oleh pilihan kebijakan yang membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, serta institusi dibandingkan hanya oleh tingkat paparan terhadap AI semata,” ujar Christian Viegelahn. (Mur)

About The Author