Sering Nyeri Pinggang? Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
4 mins read

Sering Nyeri Pinggang? Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih

VakansiInfo, Jakarta – Rasa nyeri hebat di bagian pinggang sering kali dianggap sebagai akibat kelelahan atau aktivitas fisik yang berlebihan. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda adanya batu saluran kemih, penyakit yang hingga kini masih menjadi salah satu kasus urologi paling banyak ditemukan dan memiliki risiko kekambuhan cukup tinggi.

Seiring berkembangnya teknologi kedokteran, penanganan batu saluran kemih kini tidak lagi identik dengan operasi besar. Berbagai prosedur minim invasif memungkinkan pasien mendapatkan terapi yang lebih nyaman, masa pemulihan lebih cepat, serta risiko komplikasi yang lebih rendah.

Hal tersebut disampaikan dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U., FICS, Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dalam Media Gathering bertema “Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih” yang digelar di Jakarta.

Menurut dr. Teguh, batu saluran kemih terbentuk akibat endapan mineral di ginjal maupun saluran kemih. Penyebabnya beragam, mulai dari kurang minum air putih, gangguan metabolisme, pola makan tinggi garam dan protein tertentu, infeksi saluran kemih, hingga faktor keturunan.

Penyakit ini lebih banyak dialami laki-laki dibanding perempuan, terutama pada usia 40 hingga 50 tahun. Risiko juga meningkat pada penderita obesitas, mereka yang jarang beraktivitas fisik, serta masyarakat yang tinggal di daerah beriklim panas.

“Banyak orang mengira batu saluran kemih hanya menyebabkan rasa sakit. Padahal, bila tidak ditangani dengan baik, batu dapat menimbulkan penyumbatan saluran kemih, infeksi berat, penurunan fungsi ginjal, bahkan meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis,” jelas dr. Teguh.

Baca Juga  Manfaat Teh Hijau Untuk Kesehatan Tubuh

Nyeri Hebat yang Tak Boleh Diabaikan

Gejala paling khas batu saluran kemih adalah nyeri hebat yang muncul secara tiba-tiba di daerah pinggang. Rasa sakit tersebut dapat menjalar ke perut bagian bawah, selangkangan, hingga alat kelamin. Bahkan, intensitas nyerinya kerap disamakan dengan nyeri persalinan.

Selain nyeri, penderita juga dapat mengalami mual, muntah, urine bercampur darah, nyeri saat buang air kecil, hingga demam apabila telah terjadi infeksi.

Menariknya, tidak semua penderita merasakan keluhan. Dalam beberapa kasus, batu justru ditemukan secara tidak sengaja saat seseorang menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebagai langkah awal. Bila diperlukan, pemeriksaan dilanjutkan menggunakan Non-Contrast CT Scan (NCCT) yang saat ini menjadi standar emas dalam menentukan ukuran, lokasi, serta karakteristik batu.

Teknologi Modern, Minim Sayatan

Kemajuan teknologi membuat penanganan batu saluran kemih kini jauh lebih nyaman dibanding beberapa tahun lalu.

Pada batu berukuran kecil, dokter dapat memberikan terapi obat untuk membantu batu keluar secara alami. Namun apabila batu menyebabkan penyumbatan, infeksi, nyeri berulang, atau ukurannya cukup besar, tindakan aktif menjadi pilihan terbaik.

RS Premier Bintaro menyediakan berbagai metode terapi sesuai kondisi pasien, mulai dari Shock Wave Lithotripsy (SWL/ESWL) yang memanfaatkan gelombang kejut dari luar tubuh, Ureteroscopy (URS) dan Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS) menggunakan endoskopi dan laser tanpa sayatan kulit, hingga Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) serta Mini-PCNL untuk menangani batu ginjal berukuran besar melalui sayatan yang sangat kecil.

Baca Juga  Manfaat Menggosok Gigi Sebelum Tidur

Salah satu perkembangan terbaru yang kini digunakan adalah Thulium Fibre Laser, teknologi laser generasi baru yang mampu menghancurkan batu secara lebih efektif dengan waktu tindakan yang lebih singkat.

Selain itu, penggunaan sistem suction modern juga membantu menjaga tekanan di dalam ginjal selama prosedur sehingga risiko infeksi dapat ditekan dan proses pemulihan pasien berlangsung lebih cepat.

Mencegah Batu Datang Kembali

Menurut dr. Teguh, keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari berhasil atau tidaknya batu dikeluarkan, tetapi juga dari upaya mencegah batu kembali terbentuk.

Karena itu, pasien dianjurkan menjalani evaluasi metabolik setelah tindakan untuk mengetahui penyebab terbentuknya batu.

“Pengobatan tidak berhenti setelah batu berhasil dikeluarkan. Kami melakukan evaluasi metabolik agar penyebab pembentukan batu dapat diketahui sehingga kekambuhan bisa dicegah. Minum air putih yang cukup, menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi garam, serta menerapkan pola makan seimbang merupakan langkah sederhana yang sangat penting,” ujar dr. Teguh.

Melalui layanan urologi yang didukung teknologi modern dan tenaga medis berpengalaman, RS Premier Bintaro terus berkomitmen memberikan pelayanan yang komprehensif, mulai dari diagnosis, terapi, hingga edukasi pencegahan kekambuhan agar kualitas hidup pasien tetap terjaga. (Eff)

About The Author