Sawala Dasa Wacana #15 Menggali Makna Kemerdekaan dari Kearifan Lokal Sunda
6 mins read

Sawala Dasa Wacana #15 Menggali Makna Kemerdekaan dari Kearifan Lokal Sunda

VakansiInfo, Bogor – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, semangat memaknai kemerdekaan tidak hanya hadir melalui upacara dan berbagai kegiatan seremonial. Di Kabupaten Bogor, sebuah ruang diskusi justru mengajak masyarakat melihat kembali arti kemerdekaan melalui budaya dan kearifan lokal.

Daya Putra Bangsa kembali menggelar Sawala Dasa Wacana #15 pada Senin (10/8/2026) lalu. Diskusi yang berlangsung mulai pukul 13.30 WIB hingga selesai ini digelar di Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Mengangkat tema “Menggali Nilai Kemerdekaan dalam Khazanah Kearifan Lokal/Sunda, Menuju Terbangunnya Kesadaran dan Karakter Masyarakat Merdeka”, forum tersebut menjadi ruang terbuka untuk membicarakan kembali hubungan antara kemerdekaan, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat saat ini.

Sekitar 15 peserta dari berbagai komunitas hadir dalam diskusi. Mereka berasal dari Balad Bapak Aing, Bokor Kasundaan, Komunitas Petani Apung, Srikandi, relawan Daya Putra Bangsa, hingga perwakilan media.

Sejumlah narasumber turut memberikan perspektifnya, yakni A. Gunawan dari Padepokan Garuda, Angga dari Teater Ranggon Unida, serta Rahmat Iskandar yang dikenal sebagai pemerhati sejarah Kota Bogor.

Memaknai Kemerdekaan Lebih dari Sekadar 1945

Heri Cokro selaku tuan rumah Sawala Dasa Wacana menilai kemerdekaan tidak semestinya hanya dipahami sebagai peristiwa politik yang ditandai Proklamasi 17 Agustus 1945.

Menurutnya, kemerdekaan juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk berdiri di atas kaki sendiri, menjaga integritas, serta membangun kehidupan bersama yang beradab dan harmonis.

Nilai-nilai tersebut, kata Heri, sebenarnya telah lama hidup dalam budaya Nusantara, termasuk dalam khazanah budaya Sunda.

“Dengan mengangkat tema ini, Sawala Dasa Wacana #15 terus berupaya konsisten dan berkomitmen menjadi salah satu ruang reflektif yang menghubungkan semangat kemerdekaan dengan akar budaya Nusantara,” ujar Heri.

Ia menilai penggalian kembali akar budaya penting agar masyarakat tidak berhenti pada pengenalan identitas secara formal. Lebih jauh, nilai budaya perlu dihidupkan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Heri juga menyoroti Pancasila yang menurutnya tidak cukup hanya ditempatkan sebagai slogan kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila, kata dia, semestinya dapat terlihat dalam tata kelola negara sekaligus menghadirkan keadilan sosial.

“Pancasila ternyata lebih sering dipahami sekadar slogan berbangsa dan bernegara, tetapi sering kali tidak hadir dalam realitas pengelolaan tata negara yang melahirkan keadilan sosial bagi seluruh anggota bangsa,” katanya.

Baca Juga  Ribuan Warga Sambut Dedi Mulyadi di Kirab Mahkota Binokasih Kota Bogor

Sawala Dasa Wacana #15 Menggali Makna Kemerdekaan dari Kearifan Lokal Sunda

Budaya Bisa Menjadi Kekuatan Pemersatu

Dari kalangan muda, Angga melihat kondisi bangsa saat ini membutuhkan perubahan yang lebih menyeluruh.

Ia menilai perubahan yang berjalan secara kecil-kecilan dan sporadis belum tentu mampu menghasilkan dampak besar pada tingkat nasional. Dibutuhkan gagasan bersama yang dapat menjadi energi sekaligus menyatukan berbagai kelompok masyarakat.

“Gerakan mahasiswa hari ini terfragmentasi dan terkotak-kotakkan. Bahkan terjadi transaksi gerakan. Semua ini karena tidak ada wacana atau bahan bakar bersama yang mampu mempersatukan,” ungkap Angga.

Menurutnya, budaya memiliki peluang menjadi salah satu sumber kekuatan bersama karena dekat dengan kehidupan masyarakat dan tidak mudah direduksi hanya menjadi kepentingan kelompok tertentu.

“Di sini saya pikir mata air budaya menemukan momentum untuk digali menjadi kekuatan pemersatu. Budaya yang kita miliki mengalami penjajahan moral dan pengaburan sejarah yang melemahkan jati diri kebangsaan generasi muda,” katanya.

Karena itu, pekerjaan berikutnya bukan hanya mengenang budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan merumuskannya sebagai kekuatan bersama untuk menghadapi tantangan zaman.

Sejarah dan Budaya sebagai Fondasi Jati Diri

Pandangan tersebut sejalan dengan A. Gunawan. Ia mengingatkan bahwa salah satu cara melemahkan sebuah bangsa adalah memutus hubungan masyarakat dengan sejarah dan budayanya.

“Kalau ingin melemahkan suatu bangsa, hilangkan sejarahnya, hilangkan budayanya,” tegas Gunawan.

Ia menilai masyarakat Indonesia selama ini terlalu sering terjebak dalam sejarah formal yang ditulis dari perspektif para pemenang. Padahal, kebudayaan juga menjadi sumber penting untuk memahami sekaligus membentuk jati diri bangsa.

Gunawan kemudian mengaitkan kebudayaan dengan lahirnya Pancasila sebagai formulasi nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam perspektif budaya Sunda, ia juga mengangkat gagasan “ngadeugkeun Pajajaran anyar” serta simbol “Garuda medarkeun endog” yang ditafsirkannya sebagai metafora mengenai lahirnya kembali nilai-nilai keindonesiaan melalui Pancasila.

“Saat ini Pancasila terpasung. Esensi Pancasila tidak pernah digali. Kita hanya menerima secara tekstual. Kita kehilangan ruang dialog dan diskusi tentang dasar negara dan pandangan hidup,” ujarnya.

Menurut Gunawan, forum seperti Sawala Dasa Wacana dapat menjadi ruang untuk membuka kembali percakapan mengenai Pancasila secara kritis, kontekstual, dan dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.

Ketika Makna Merdeka Masih Dipertanyakan

Sementara itu, Rahmat Iskandar menyoroti kesenjangan antara Pancasila sebagai dasar negara dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  Angkat Suara Kaum Muda Bogor, Sawala Dasa Wacana Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Daerah

Menurutnya, Pancasila masih terlalu sering hadir sebagai jargon, sementara penerapannya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

Rahmat kemudian menceritakan pengalamannya ketika menyaksikan kirab kemerdekaan dan berbincang dengan seorang pedagang kecil.

“Di negara Pancasila saya melihat kepincangan, sedangkan di negara non-Pancasila saya melihat keadilan yang utuh,” tuturnya.

Ia juga mengutip perkataan seorang pedagang kopi yang ditemuinya saat menyaksikan kirab kemerdekaan.

“Ah, merdeka apa, kita belum merdeka. Yang merdeka justru para penguasa,” demikian ungkapan pedagang tersebut sebagaimana diceritakan Rahmat.

Bagi Rahmat, kalimat sederhana itu menggambarkan adanya jarak antara kemerdekaan yang dirayakan melalui berbagai simbol dengan pengalaman sebagian masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Kemerdekaan, menurutnya, tidak cukup hanya diwujudkan melalui upacara, bendera, dan perayaan. Kemerdekaan harus benar-benar dapat dirasakan, terutama oleh masyarakat kecil.

Mencari Cara Baru Menghidupkan Pancasila

Diskusi Sawala Dasa Wacana #15 kemudian berkembang menjadi pembicaraan mengenai bagaimana menemukan kembali makna esensial Pancasila.

Para peserta menilai Pancasila perlu dihadirkan sebagai bagian dari kesadaran hidup, bukan sekadar hafalan.

Pengalaman Penataran P4 pada masa lalu juga menjadi salah satu pembahasan. Pengalaman tersebut dinilai meninggalkan kesan indoktrinasi sehingga diperlukan formula baru dalam pendidikan dan penghayatan Pancasila.

Pancasila diharapkan tidak berhenti sebagai teks yang dihafalkan, tetapi menjadi nilai yang dipahami, didalami, dimaknai, dan diterapkan dalam kehidupan.

Dalam perspektif diskusi tersebut, kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan secara politik. Kemerdekaan juga berarti memiliki kesadaran diri, karakter, kedaulatan dalam berpikir, serta kemampuan mewujudkan keadilan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan kesejahteraan.

Nilai-nilai tersebut perlu hadir dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari tata kelola kekuasaan, politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, teknologi, hingga pengelolaan kebhinekaan.

Sawala Dasa Wacana #15 akhirnya ditutup dengan sebuah pertanyaan reflektif yang menjadi benang merah seluruh diskusi:

“Sudahkah kita merasa merdeka dan berpancasila?”

Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan seharusnya tidak berhenti sebagai peristiwa sejarah yang dirayakan setiap Agustus.

Lebih dari itu, kemerdekaan perlu terus dihidupkan melalui kesadaran, karakter, kerja, dan karya setiap warga bangsa, dengan tetap berpijak pada akar budaya serta nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

(Ckr03/red)

About The Author