Self-Healing, Cara Berdamai dengan Luka Batin dan Belajar Menyayangi Diri
4 mins read

Self-Healing, Cara Berdamai dengan Luka Batin dan Belajar Menyayangi Diri

VakansiInfo, Jakarta – Ketika tubuh sakit, kita tahu apa yang harus dilakukan. Minum obat menjadi pilihan ketika kondisi tubuh membutuhkan pengobatan. Vitamin dikonsumsi untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, sementara vaksin digunakan sebagai salah satu upaya perlindungan terhadap penyakit tertentu.

Namun, bagaimana dengan luka yang tidak terlihat?

Luka batin tidak selalu tampak dari luar. Seseorang bisa terlihat baik-baik saja, tersenyum dan menjalani aktivitas seperti biasa, tetapi di dalam dirinya masih menyimpan kesedihan, kemarahan, kekecewaan atau pengalaman masa lalu yang belum selesai.

Karena itu, merawat diri tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Pikiran dan perasaan juga membutuhkan perhatian.

Mengenali Luka yang Belum Selesai

Salah satu langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri adalah berani melihat kembali persoalan yang masih mengganjal.

Dalam psikologi dikenal istilah unfinished business, yakni emosi dan pengalaman masa lalu yang belum benar-benar terselesaikan. Meski berusaha dilupakan, pengalaman tersebut terkadang masih memengaruhi cara seseorang berpikir dan merasakan sesuatu.

Dampaknya bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari kesedihan yang sulit hilang, amarah yang terus tersimpan, penyesalan, rasa kesepian hingga kegelisahan.

Menyimpan emosi bukan berarti membuatnya hilang. Justru, emosi yang terus ditekan dapat kembali muncul ketika seseorang berada dalam situasi tertentu.

Maka, mengenali apa yang dirasakan menjadi bagian penting dari proses berdamai dengan diri sendiri.

Kita Punya Kemampuan untuk Menolong Diri

Dalam perjalanan hidup, hampir setiap orang pernah mengalami pengalaman yang menyakitkan.

Ada yang pernah mendapat perkataan kasar, direndahkan, mengalami tekanan dari lingkungan, menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari pasangan atau menghadapi kegagalan yang meninggalkan luka.

Baca Juga  Teknik Grounding: Cara Sederhana Kembali ke Saat Ini Saat Cemas Melanda

Perasaan marah, takut, kecewa, sedih dan gelisah kemudian tersimpan di dalam diri.

Namun, seseorang tidak selamanya harus menjadi korban dari pengalaman tersebut.

Kita memiliki kemampuan untuk mengambil kembali kendali atas diri sendiri. Salah satunya dengan belajar menerima apa yang telah terjadi dan perlahan melepaskan beban yang selama ini dibawa.

Memaafkan juga dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Memaafkan bukan berarti membenarkan tindakan orang lain, melainkan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk tidak terus hidup dalam luka masa lalu.

“All healing is first a healing of the heart.” — Carl Townsend

Self-Healing Bukan Berarti Melupakan

Istilah self-healing semakin sering digunakan ketika berbicara mengenai kesehatan mental dan proses pemulihan diri.

Secara sederhana, self-healing dapat dipahami sebagai proses membantu diri sendiri untuk bangkit dari pengalaman yang menyakitkan dengan mengenali pikiran dan perasaan yang muncul.

Proses ini bukan berarti memaksa diri melupakan masa lalu.

Sebaliknya, seseorang diajak memahami apa yang terjadi, menerima perasaan yang muncul dan belajar melihat pengalaman tersebut dari sudut pandang yang lebih sehat.

Ketika kita mampu menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sempurna, pengalaman sulit dapat perlahan dimaknai sebagai bagian dari perjalanan.

Bukan berarti rasa sakit langsung hilang. Namun, cara kita merespons rasa sakit tersebut dapat berubah.

Belajar Menjadi Pribadi yang Resilien

Proses berdamai dengan diri sendiri juga dapat membantu seseorang menjadi lebih resilien.

Resiliensi merupakan kemampuan untuk menghadapi kesulitan, kegagalan dan berbagai pengalaman berat dengan tetap berusaha bangkit dan melanjutkan kehidupan.

Baca Juga  Mengelola Stres di Era Serba Cepat: Strategi Efektif untuk Menjaga Kesehatan Mental

Orang yang resilien bukan berarti tidak pernah sedih atau kecewa. Mereka tetap dapat merasakan emosi tersebut, tetapi belajar untuk tidak membiarkan pengalaman buruk sepenuhnya mengendalikan hidupnya.

Ketika seseorang mulai berdamai dengan dirinya, ia dapat kembali hadir secara lebih utuh dalam kehidupan sehari-hari.

Di lingkungan keluarga, pekerjaan maupun pertemanan, ia dapat belajar melihat persoalan dengan perspektif yang lebih luas.

Merawat Diri Dimulai dari Hal Sederhana

Menyembuhkan luka batin bukan perjalanan yang selalu mudah dan cepat.

Ada kalanya seseorang membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya sendiri. Ada pula kondisi ketika dukungan orang lain atau bantuan profesional dibutuhkan.

Namun, langkah awal dapat dimulai dari hal sederhana: berani mengakui apa yang sedang dirasakan.

Belajar mendengarkan diri sendiri juga penting.

Telinga bukan hanya untuk mendengar perkataan orang lain, tetapi juga untuk memahami suara hati. Mata bukan sekadar melihat keadaan di sekitar, tetapi juga belajar memahami apa yang layak untuk diperhatikan. Begitu pula dengan mulut, yang perlu belajar membedakan mana perkataan yang sebaiknya disampaikan dan mana yang lebih baik ditahan.

Pada akhirnya, merawat diri berarti belajar menghargai diri sendiri.

Kita tidak bisa mengubah semua hal yang pernah terjadi. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana akan menjalani hari ini dan hari-hari berikutnya.

Karena berdamai dengan masa lalu bukan tentang menghapus semua luka, melainkan belajar hidup tanpa terus-menerus dikendalikan olehnya. (Ati)

About The Author