
Kemenkes Ingatkan Burnout pada Caregiver Demensia, Generasi Y dan Z Perlu Waspada
VakansiInfo, Jakarta – Menjadi caregiver bagi orang dengan demensia membutuhkan perhatian, kesabaran, dan energi yang tidak sedikit. Di tengah tuntutan pekerjaan dan keluarga, kondisi tersebut berisiko membuat caregiver mengalami kelelahan fisik maupun emosional atau burnout.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahwa menjaga kesehatan caregiver merupakan bagian dari upaya memastikan orang dengan demensia mendapatkan perawatan yang aman.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyampaikan hal tersebut dalam webinar pencegahan burnout pada caregiver demensia Generasi Y dan Z di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
“Keselamatan pasien atau keselamatan orang yang dirawat itu dimulai dari keselamatan caregiver. Caregiver yang sehat adalah fondasi dari perawatan yang aman,” ujar Imran.
Beban Berlapis Generasi Y dan Z
Persoalan ini menjadi semakin relevan karena Indonesia memasuki fase penduduk menua. Hampir 12 persen penduduk Indonesia saat ini berusia di atas 60 tahun dan jumlahnya diproyeksikan mencapai sekitar 20 persen pada 2045.
WHO memperkirakan sekitar 57 juta orang di dunia hidup dengan demensia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahun. Di Indonesia, jumlah orang dengan demensia diproyeksikan mencapai 4 juta orang pada 2050.
Imran menegaskan bahwa demensia bukan bagian normal dari proses penuaan.
Bagi keluarga, kondisi tersebut dapat menghadirkan tanggung jawab baru. Caregiver harus membantu orang yang dirawat menghadapi perubahan kognitif, perilaku, dan emosi, sekaligus memastikan keselamatan serta membantu mengakses layanan kesehatan.
Bagi Generasi Y dan Z yang berada dalam posisi sandwich generation, beban tersebut dapat berlangsung bersamaan dengan pekerjaan, kehidupan keluarga, dan kebutuhan sehari-hari.
“Mereka dapat harus merawat orang tua dengan demensia di tengah tuntutan pekerjaan, membangun keluarga, dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya,” kata Imran.
Jangan Abaikan Tanda Burnout
Menurut Imran, persoalan caregiver sering kali tidak terlihat karena kelelahan dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab keluarga.
Padahal, jika berlangsung terus-menerus, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi burnout. Ketika caregiver mengalami burnout, kualitas dan keamanan perawatan juga dapat ikut terdampak.
Kemenkes pun menyampaikan tiga langkah yang dapat dilakukan caregiver.
Pertama, menjaga keselamatan diri. Istirahat yang cukup, aktivitas fisik, dan dukungan emosional perlu menjadi bagian dari rutinitas.
Kedua, membangun jejaring dukungan. Keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, dan teknologi dapat dilibatkan agar tanggung jawab perawatan tidak dibebankan kepada satu orang.
Ketiga, melakukan deteksi dini terhadap perubahan kondisi lansia maupun tanda-tanda kelelahan pada diri sendiri.
“Jangan abaikan tanda-tanda burnout,” pesan Imran.
Caregiver Sehat, Perawatan Lebih Aman
Imran mengatakan keselamatan pasien tidak hanya menyangkut prosedur medis. Perhatian terhadap kesehatan orang yang memberikan perawatan juga menjadi bagian dari budaya keselamatan.
“Dan jika mereka sehat (caregiver), kuat, dan didukung, maka perawatan akan lebih aman, lebih manusiawi, dan lebih bermutu,” ujarnya.
Karena itu, edukasi mengenai caregiver perlu terus diperkuat. Kebutuhan orang dengan demensia penting diperhatikan, tetapi kebutuhan orang yang mendampinginya juga tidak boleh dilupakan.
“Dengan begitu kita tidak hanya bertanya apa yang dibutuhkan orang dengan demensia tetapi juga apa yang dibutuhkan orang yang merawatnya. Caregiver sehat, perawatan pun selamat,” tutupnya. (Mur)



