
78% Penderita Penyakit Kronis Khawatir Cacar Api, Namun Minim Konsultasi Dokter
VakansiInfo, Jakarta – Penyakit cacar api atau Herpes Zoster masih menjadi ancaman serius bagi kelompok usia dewasa, khususnya mereka yang hidup dengan penyakit kronis. Survei global terbaru yang dirilis oleh GSK mengungkap adanya kesenjangan antara tingkat kekhawatiran masyarakat dan tindakan pencegahan yang dilakukan.
Sebanyak 78% responden mengaku khawatir cacar api dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara 72% takut penyakit ini berujung pada rawat inap jangka panjang. Namun, lebih dari separuh responden (54%) belum pernah mendiskusikan risiko tersebut dengan tenaga medis.
Risiko Tinggi, Kesadaran Masih Rendah
Survei yang melibatkan lebih dari 6.000 responden usia 50–70 tahun di 10 negara ini menunjukkan bahwa kelompok dengan penyakit kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami cacar api beserta komplikasinya.
Meski demikian, sekitar 25% responden masih beranggapan bahwa kondisi kronis yang mereka miliki tidak memengaruhi daya tahan tubuh maupun risiko terkena cacar api. Hampir separuh lainnya juga belum memahami bahwa penyakit kronis dapat memperburuk gejala jika terinfeksi.
Padahal, secara global, cacar api diperkirakan dapat menyerang 1 dari 3 orang dewasa sepanjang hidupnya.
Penyakit Kronis Picu Lonjakan Risiko
Sejumlah studi menunjukkan bahwa penyakit kronis berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko cacar api. Risiko meningkat hingga:
- 41% pada penderita PPOK atau asma
- 38% pada penderita diabetes
- 34% pada penyakit kardiovaskular
- 29% pada penyakit ginjal kronis
Di Indonesia, risikonya bahkan lebih tinggi pada kelompok tertentu, seperti pengidap HIV/AIDS yang memiliki risiko hingga 3,22 kali lipat, diikuti kanker (2,17 kali) serta penyakit autoimun.
Menurut Nurwestu Rusetiyanti, kelompok dengan sistem imun lemah memang paling rentan.
“Risiko cacar api lebih tinggi pada kondisi imunokompromi, termasuk HIV/AIDS, kanker, usia lanjut, serta faktor genetik dan jenis kelamin,” jelasnya.
Dampak Nyata: Ganggu Produktivitas hingga Beban Biaya
Dampak cacar api tidak hanya bersifat medis, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Sebanyak 42% penderita melaporkan nyeri berat yang mengganggu aktivitas, sementara 33% menyebut produktivitas harian mereka terdampak signifikan.
Di Indonesia, beban ekonomi penyakit ini juga cukup besar. Data menunjukkan:
- 390.000 kasus tercatat dalam periode 2015–2022
- Biaya penanganan mencapai Rp27,1 miliar pada 2021
- Biaya rawat inap bisa mencapai Rp10 juta per kasus
Angka ini menegaskan bahwa cacar api bukan sekadar penyakit ringan, melainkan memiliki implikasi serius terhadap sistem kesehatan dan ekonomi.
Pencegahan Dinilai Masih Kurang Optimal
Reswita Dery Gisriani menilai rendahnya kesadaran menjadi tantangan utama dalam pengendalian penyakit ini.
“Banyak orang belum menyadari bahwa penyakit kronis dapat melemahkan sistem imun. Padahal, faktor ini meningkatkan risiko cacar api, terutama seiring bertambahnya usia,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa cacar api sebenarnya dapat dicegah, namun membutuhkan pemahaman yang lebih baik mengenai faktor risiko serta langkah preventif, termasuk konsultasi medis secara rutin.
Dorongan Edukasi dan Intervensi Dini
Kampanye global seperti Shingles Action Week mendorong perubahan pendekatan dari sekadar peningkatan kesadaran menjadi aksi nyata, yakni mendorong masyarakat untuk lebih proaktif berkonsultasi dengan dokter.
Dengan meningkatnya angka penyakit kronis dan populasi lansia, cacar api diperkirakan akan menjadi tantangan kesehatan yang semakin relevan di masa depan.
Tanpa intervensi yang lebih masif—baik dari sisi edukasi maupun layanan kesehatan—risiko komplikasi dan beban ekonomi akibat penyakit ini berpotensi terus meningkat. (Ati)



