“Dapur Sumur Tutur”: Putri Ayudya Angkat Luka Perempuan Lintas Generasi di Panggung Intim
2 mins read

“Dapur Sumur Tutur”: Putri Ayudya Angkat Luka Perempuan Lintas Generasi di Panggung Intim

👁️ 3 views

VakansiInfo, Jakarta – Di sebuah ruang panggung yang hening, satu suara perlahan memecah sunyi. Bukan sekadar dialog, tapi bisikan yang terasa akrab—tentang ibu, tentang anak perempuan, tentang luka yang diwariskan tanpa pernah benar-benar dibicarakan.

Melalui pertunjukan monolog “Dapur Sumur Tutur”, Putri Ayudya menghidupkan tiga generasi perempuan dalam satu tubuh. YangTi, Ibuk, dan Mbak—tiga suara, tiga zaman, tapi satu benang merah: perempuan yang hidup di antara tradisi dan perubahan.

Dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya, karya ini bukan hanya pertunjukan, tapi pengalaman yang terasa personal. Penonton tidak sekadar melihat, tapi ikut “pulang” ke dalam ingatan masing-masing.

Ketika Tradisi Tak Lagi Sekadar Warisan

Cerita bermula dari momen sakral: seribu hari wafatnya seorang Eyang. Namun di balik ritual itu, tersimpan percakapan batin yang selama ini tertahan.

Banyak perempuan tumbuh dengan nilai yang diwariskan begitu saja—tanpa ruang untuk bertanya, apalagi menolak. Tradisi menjadi sesuatu yang dijalani, bukan dipahami.

Di sinilah “Dapur Sumur Tutur” menemukan nadinya.

Baca Juga  Menelusuri Warisan Legenda Nusantara: Kisah Penuh Makna dari Berbagai Daerah di Indonesia

Karya ini berbicara tentang generational trauma—luka yang tak terlihat, tapi terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Perempuan, Beban, dan Peran yang Tak Pernah Selesai

Di era modern, perempuan sering disebut lebih “bebas”. Namun pertanyaannya: bebas untuk siapa?

Lewat sudut pandang tiga generasi, pertunjukan ini mengungkap realitas yang masih relevan:

  • Perempuan sebagai pengurus keluarga
  • Perempuan sebagai penjaga tradisi
  • Perempuan sebagai penanggung beban emosional

Isu sandwich generation dan ageism pun ikut disorot—ketika perempuan berada di tengah, menanggung orang tua sekaligus masa depan.

Dari Dapur ke Panggung, Dari Diam ke Suara

Judul “Dapur Sumur Tutur” bukan tanpa makna.

Dapur dan sumur dulu identik dengan ruang domestik perempuan. Tapi kini, ruang itu berubah menjadi tempat bertutur—tempat perempuan mulai bersuara.

“Ini bukan hanya cerita, tapi refleksi,” ungkap Putri Ayudya.
“Sebagian berasal dari pengalaman personal, sebagian dari riset tentang perempuan Jawa dan luka yang sering tidak disadari.”

Pertunjukan yang Menggugah, Bukan Sekadar Menghibur

Diproduseri oleh Nosa Nurmanda dan disutradarai oleh Ben Bening, pertunjukan ini mengandalkan kekuatan akting, dipadukan dengan tata cahaya, visual, dan musik yang memperdalam emosi.

Baca Juga  Tari Keroncong Nusantara, Langkah Strategis Menuju Warisan Budaya Dunia

Selama satu jam, penonton diajak bukan hanya menyaksikan—tapi merasakan.

Dan mungkin, tanpa sadar, menemukan potongan diri mereka sendiri di dalamnya. (Eff)

About The Author