Delegasi Uni Eropa Kunjungi Minahasa Utara, Kolaborasi Konservasi Laut dan Ekonomi Biru Semakin Kuat
2 mins read

Delegasi Uni Eropa Kunjungi Minahasa Utara, Kolaborasi Konservasi Laut dan Ekonomi Biru Semakin Kuat

VakansiInfo, Minahasa Utara – Minahasa Utara kembali menjadi perhatian dunia. Delegasi Uni Eropa bersama para duta besar dan pejabat tinggi dari sejumlah negara Eropa melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung implementasi program pelestarian keanekaragaman hayati laut serta penguatan ekonomi biru yang telah berjalan sejak 2019.

Program Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle merupakan kerja sama antara Kementerian Kehutanan RI, Uni Eropa, KfW German Development Bank, serta Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program.

Indonesia Miliki Peran Strategis

Sebagai pusat Segitiga Terumbu Karang dunia, Indonesia memiliki kekayaan ekosistem laut yang sangat besar. Sulawesi Utara, khususnya Minahasa Utara, menjadi salah satu kawasan prioritas karena memiliki terumbu karang, padang lamun, hingga hutan mangrove yang berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir.

Dalam kunjungan tersebut, para delegasi juga berdialog dengan masyarakat dari Desa Gangga Dua, Bahoi, Lihunu, Tarabitan, Bulutui, dan Galo-Galo.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, mengatakan bahwa pelestarian lingkungan harus berjalan berdampingan dengan pembangunan ekonomi masyarakat.

Baca Juga  Ekonomi Biru, Jalan Baru Optimalisasi Potensi Mangrove Jakarta

Ribuan Hektare Kawasan Laut Terlindungi

Sejak dimulai pada 2019, program ini telah memperkuat pengelolaan 21 kawasan konservasi laut seluas lebih dari 1,63 juta hektare.

Selain menjaga ribuan hektare terumbu karang, mangrove, dan padang lamun, program ini juga mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan terhadap 27 spesies ikan penting.

Salah satu hasil nyata terlihat di Desa Gangga Dua, di mana pendapatan nelayan meningkat lebih dari dua kali lipat setelah diterapkan sistem penutupan musim penangkapan ikan.

Dorong Ekowisata dan Pemberdayaan Masyarakat

Tidak hanya fokus pada konservasi, program ini juga mendorong lahirnya berbagai usaha ekonomi berbasis masyarakat.

Kelompok masyarakat mengembangkan produk olahan hasil laut, usaha perempuan pesisir, hingga ekowisata berbasis masyarakat seperti snorkeling, homestay, dan jasa pemandu wisata.

Bahkan Desa Lihunu berhasil masuk dalam daftar 500 Desa Wisata Terbaik Indonesia (ADWI).

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga mulai menyiapkan sistem pembiayaan berkelanjutan agar pengelolaan kawasan konservasi dapat terus berjalan tanpa bergantung pada bantuan jangka pendek.

Hingga kini program tersebut telah memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 5.700 masyarakat serta menjangkau sekitar 24.500 penerima manfaat tidak langsung. (Eff)

About The Author