You are currently viewing Happening Art Unik Warnai Kegiatan Diskusi Publik Pitulasan #4 Bersama Dedie A Rachim
Foto: Istimewa Jangkar Jiwa Media Ckr03

Vakansiinfo – Kembali terjadi kehebohan warga atas di tampilkan nya pementasan Happening Art berjudul “Aspirasi Tak Boleh Mati”, kehebohan kali ini terjadi di perkampungan Sukasari RW 01-02/RW 002 Bogor Timur, Kota Bogor pada Jumat siang (17/05/2024).

Bagaimana tidak, tiba-tiba saja di ruas gang-gang sempit perkampungan ada sosok mummy yang berkeliling kampung membawa gentong bertuliskan “aspirasi rakyat”.

Happening Art Unik Warnai Kegiatan Diskusi Publik Pitulasan #4 Bersama Dedie A Rachim
Foto: Istimewa Jangkar Jiwa Media Ckr03

Sosok itu (di perankan Heri_cokro) berhenti di hadapan siapa saja meminta aspirasi dari mereka untuk di masukkan ke dalam gentong aspirasi. Warga yang awalnya kaget, bahkan ada beberapa anak yang berlari menjauh melihat sosok berbalut kain putih. Serupa mummy berjalan tertatih seperti zombie, menghampiri mereka. Wajahnya pun tampak seperti dalam tengkorak yang cukup ngeri untuk di lihat. Akan tetapi setelah agak lama, baru warga mengerti, dan mereka berlomba-lomba memasukan aspirasinya kertas untuk di masukan dalam gentong.

Aspirasi warga tersebut di bawanya ke arah Taman Malelang Sukasari. Di mana sedang di laksanakan Diskusi Publik Pitulasan #4 yang menghadirkan pembicara utama Dedie A Rachim Mantan Wakil Wali Kota Bogor.

Diskusi publik bulanan setiap tanggal 17 yang di gagas Komunitas Pekerja seni Bogor. Memang mengangkat tema “Membaca Paradigma Kota Bogor Antara Identitas, Perencanaan dan Lokal Genius Dalam Kacamata Dedie A Rachim.” Dalam rangka membingkai kegiatan ini, happening art di maksudkan untuk di sampaikan kepada Dedie A Rachim. Yang kebetulan juga menjadi bakal calon Wali Kota Bogor.

Setelah sampai di lokasi diskusi, mummy aspirasi (sebagai simbol aspirasi rakyat yang mati suri) menghadap sosok penguasa berwajah ganda (di perankan Lanang Kusasih). Sebelah kiri wajahnya merah, sebelah kanan putih. Sosok mummy aspirasi menyampaikan aspirasi rakyat kepada sosok tersebut yang di sambut hangat oleh sisi wajah putih. Kemudian di simpan begitu saja oleh sisi wajah berwarna merah. Memang seringkali aspirasi rakyat itu di anggap penting dan berharga saat para penguasa belum memiliki kekuasaan. Akan tetapi segera di lupakan saat kekuasaan sudah di dapatkan.

Baca Juga  Delegasi OIC-CA 2023 Senang Ikut Rayakan Tradisi dan Budaya Dayak di Ajang Kaltim Fest 2023
Happening Art Unik Warnai Kegiatan Diskusi Publik Pitulasan #4 Bersama Dedie A Rachim
Foto: Istimewa Jangkar Jiwa Media Ckr03

Akhirnya sang mummy kembali membawa aspirasi rakyat dan menuju ‘panggung kekuasaan’ (tempat para pembicara duduk) dan langsung membacakan sendiri aspirasi tersebut agar di dengar oleh semua orang termasuk simbol penguasa yang duduk di atas singgasana.

Pragmentasi happening art ini di mainkan oleh Heri_cokro, Lanang Kusasih dan Tohir Kulikulo ini cukup memberikan gambaran. Bahwa kekuasaan seringkali membutakan seseorang yang dengan kekuasaannya ia berbuat sewenang-wenang. Pesan happening art ini memang di tujukan kepada calon wali kota yang akan berkontestasi pada Pilkada/Pilwalkot Kota Bogor mendatang.

Diskusi Publik Pitulasan #4

Selepas happening art kegiatan di lanjutkan dengan diskusi publik pitulasan #4  yang menghadirkan Dedie A Rachim Sebagai Pembicara utama. Dengan pemateri pendamping Yusak Farhan pengamat politik dari Citra Institute Institute sekaligus Dekan Fisip Unpam, Ki Agus Pranamulia sebagai budayawan, Bram Sunantha sebagai Jurnalis dengan di pandu moderator Eko Prayitno seorang aktifis sosial sekaligus Ketua DPD APPSI Kota Bogor.

Happening Art Unik Warnai Kegiatan Diskusi Publik Pitulasan #4 Bersama Dedie A Rachim
Foto: Istimewa Jangkar Jiwa Media Ckr03

Dalam diskusi publik tersebut terungkap segala macam permasalahan kota Bogor dari berbagai sudut pandang yang di sampaikan para pembicara.

Seperti yang di sampaikan Bram Sunantha, dia meneropong banyaknya ketimpangan yang terjadi karena tampaknya ada kebijakan yang kurang terkoordinasi sehingga memunculkan banyak masalah di lapangan. Yang seolah tidak bisa di selesaikan bahkan hingga bertahun-tahun. Bram memang seorang jurnalis yang seringkali kritis dalam menyampaikan pendapatnya.

Di lain sisi, secara kultural, generasi baru gen Z saat ini sudah mulai tidak memiliki wawasan dan kepedulian terhadap kearifan lokal. Baik dalam bentuk budaya kesantunan, penguasaan bahasa Sunda, ketidak pahaman pada busana serta jenis kuliner lokal yang di miliki masyarakat Bogor, khusunya urang sunda.

Baca Juga  Peduli Lingkungan, Jangkar Jiwa Dan Trotoar Kreatif Pentaskan Happening Art, Di bantaran Kali Ciliwung Pada Kegiatan Pitulasan #3

Mereka lebih mengetahui dan menggunakan segala bentuk pangan, pakaian, bahasa hingga sikap dan perilaku yang mengacu pada budaya asing. Seperti yang di ungkap Ki Prana Mulia, dirinya merasa miris dengan realitas yang ada. Dan berharap ada kebijakan konkrit untuk melestarikan serta mengembangkan nilai-nilai, nilai dan bentuk budaya lokal yang kian pudar.

“Jadi nilai nilai kearifan lokal harus kita bangun kembali. Memang ini akan menjadi pertarungan nilai kearifan lokal dengan globalisasi.” Ujar Agus

Pengamat politik dari Citra Institut Yusak Farhan menyampaikan apresiasi kepada Dedie A.Rachim yang bisa hadir diskusi publik.  “Kehadiran Kang Dedie menunjukan komitmen yang kuat terhadap seni dan budaya Kota Bogor.” Kata Yusak

Kalau bicara Kota Bogor, kata Yusak, Bogor kaya  akan seni dan budayanya  sejak  jaman pra kolonial, era kolonial, sampai era modern sekarang. Makanya ketika tema diskusi publik yang mengangkat “Lokal Genius” sangat tepat dalam mengusung isu  isu kebudayaan dalam menghadapi gempuran  budaya budaya lain.

Setiap permasalahan yang di ajukan dalam diskusi yang mengarah pada tata kelola kota beserta anasir-anasir lainnya dapat di jawab oleh Dedie A Rachim dengan baik. Berbasis empiris, rasional serta kearifan kepemimpinan yang menurutnya tidak mudah untuk di tuntaskan. Maka dirinya berazam untuk mencalonkan diri sebagai Wali Kota Bogor. Antara lain untuk menuntaskan segala persoalan itu seraya mengajak semua warga kota ikut terlibat menyampaikan aspirasinya. Dan terbuka untuk silaturahmi dengan segala lapisan masyarakat. “Oleh karena itu,” kata Dedie, tagline #bogorberes yang di angkat karena beberapa persoalan di Kota Bogor yang sebelumnya belum tuntas sudah  bisa di bereskan.

“Insya Allah kedepan persoalan -persoalan lainnya yang belum beres akan kita bereskan.” Tegas Dedie di sambut tepuk tangan meriah dari warga yang hadir dalam kegiatan ini.

(ckr03)