Kasus Lupus di Indonesia Masih Tinggi, AstraZeneca Dorong Deteksi Dini dan Akses Terapi Modern
3 mins read

Kasus Lupus di Indonesia Masih Tinggi, AstraZeneca Dorong Deteksi Dini dan Akses Terapi Modern

👁️ 0 views

VakansiInfo, Jakarta – Penyakit lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Data menunjukkan sekitar 1,4 juta masyarakat Indonesia hidup dengan lupus, dengan tingkat mortalitas mencapai 8,1 persen atau termasuk salah satu yang tertinggi di dunia.

Sayangnya, banyak pasien baru mengetahui dirinya mengidap lupus ketika kondisi sudah cukup berat dan terjadi kerusakan organ. Padahal, deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi kunci penting agar pasien tetap bisa menjalani hidup yang produktif dan berkualitas.

Dalam momentum Hari Lupus Sedunia, AstraZeneca Indonesia kembali menegaskan komitmennya melalui kampanye bertajuk “From Burden to Living Well”. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lupus, mempercepat diagnosis dini, sekaligus memperluas akses terapi yang lebih modern dan terarah bagi pasien SLE di Indonesia.

Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay mengatakan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting agar gejala lupus dapat dikenali lebih cepat.

“Melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak pasien SLE di Indonesia dapat memperoleh diagnosis lebih dini, penanganan yang tepat, dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.

Lupus Disebut Penyakit Seribu Wajah

Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat dalam tubuh sendiri. Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ seperti kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat.

Baca Juga  Rahasia Rumah Selalu Rapi, Ternyata Cuma Butuh 5 Menit di Pagi Hari

Karena gejalanya sangat beragam dan sering menyerupai penyakit lain, lupus kerap dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah”.

Menurut Sandra Sinthya Langow, pasien lupus bisa mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga gangguan organ vital.

“Gejalanya dapat muncul perlahan maupun tiba-tiba, sehingga proses diagnosis sering kali memerlukan waktu panjang,” jelasnya.

Kondisi ini membuat banyak pasien terlambat mendapatkan penanganan optimal. Dalam sejumlah kasus, pasien baru didiagnosis ketika telah mengalami komplikasi serius atau kerusakan organ permanen.

Tak Hanya Fisik, Lupus Juga Berdampak Psikologis

Selain berdampak pada kesehatan fisik, lupus juga mempengaruhi kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Data menunjukkan sekitar 82 persen pasien lupus mengalami penurunan produktivitas akibat kelelahan berkepanjangan.

Tak hanya itu, sebagian pasien bahkan terpaksa berhenti bekerja atau mengalami gangguan psikologis akibat perjalanan penyakit yang panjang dan melelahkan.

Karena itu, edukasi publik mengenai gejala lupus dinilai sangat penting agar masyarakat lebih waspada dan segera memeriksakan diri jika mengalami tanda-tanda yang mencurigakan.

Penanganan Lupus Kini Lebih Modern dan Terarah

Seiring perkembangan dunia medis, penanganan lupus kini tidak hanya fokus mengatasi flare atau kekambuhan, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi jangka panjang dan mencegah kerusakan organ.

Baca Juga  WINGS Care Rilis So Fresh Minyak Angin Aromatherapy, Rahasia Anti Tepar Saat Mudik Lebaran

Salah satu inovasi terbaru adalah penggunaan Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia untuk pasien lupus dengan kategori sedang hingga berat. Terapi ini bekerja dengan menargetkan jalur Interferon Tipe I yang diketahui berperan dalam proses peradangan pada lupus.

Feddy menyebut pendekatan terapi yang lebih terarah memberi harapan baru bagi pasien lupus agar dapat menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.

“Dengan terapi optimal dan pemantauan rutin, pasien memiliki peluang lebih besar mencapai remisi lebih dini dan terlindungi dari risiko kerusakan organ jangka panjang,” jelasnya.

Melalui kampanye “From Burden to Living Well”, AstraZeneca Indonesia berharap semakin banyak pasien lupus dapat memperoleh akses diagnosis, terapi, dan edukasi kesehatan yang lebih baik sehingga mampu menjalani kehidupan secara lebih sehat, aktif, dan produktif. (Mur)

About The Author