
Kesenjangan Pembiayaan UMKM Capai US$50,8 Miliar, IIA dan Bappenas Dorong Investasi Berdampak
VakansiInfo, Jakarta – Indonesia Impact Investment Summit 2026 menyoroti kesenjangan pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia yang diperkirakan mencapai US$50,8 miliar per tahun untuk kelompok usaha yang membutuhkan modal US$100.000 hingga US$2 juta.
Forum yang digelar Indonesia Impact Alliance (IIA) bersama Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta pada 21 Oktober 2026 itu mempertemukan sekitar 200 investor, pimpinan bisnis, dan perwakilan pemerintah. Kegiatan ini mendapat dukungan Pemerintah Australia melalui Investing in Women dan KINETIK.
Pembahasan berfokus pada perluasan akses modal bagi usaha yang sedang berkembang, termasuk bisnis yang mendukung penghidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Menurut pemetaan ekosistem IIA pada 2024, sebanyak 55% usaha yang disurvei membutuhkan pembiayaan dalam rentang US$100.000 hingga US$2 juta. Namun, laporan tersebut menyebut sebagian besar dana investasi berdampak menetapkan nilai investasi minimum sekitar US$1 juta.
Kondisi ini membuat sejumlah usaha kesulitan mendapatkan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhannya. Kelompok tersebut dikenal sebagai missing middle.
UMKM dan Tantangan Akses Modal
UMKM menyumbang sekitar 60% produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja Indonesia, berdasarkan angka yang dikutip dalam siaran pers penyelenggara.
Meski berperan besar dalam perekonomian, banyak usaha yang sedang berkembang masih menghadapi hambatan dalam mengakses modal. Kebutuhan pembiayaan mereka sering kali terlalu besar untuk skema pendanaan mikro, tetapi belum memenuhi batas minimum sebagian investor.
Direktur Eksekutif IIA, Atika Benedikta, mengatakan pembiayaan perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tahap pertumbuhan usaha. Penyedia modal lokal atau perantara pembiayaan dapat membantu menghubungkan pelaku usaha dengan investor yang memiliki skema sesuai kebutuhan.
Melalui forum ini, IIA berharap pemilik modal, investor, dan pendukung ekosistem dapat bekerja sama untuk memperluas pendanaan bagi usaha berdampak, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Perluas Pendanaan bagi Usaha yang Dipimpin Perempuan
Akses modal juga menjadi perhatian bagi usaha yang dipimpin perempuan. Siaran pers IIA mengutip data BPS tahun 2025 yang menyebut usaha yang dipimpin perempuan mencakup 64,5% UMKM di Indonesia.
Investasi berperspektif gender menjadi salah satu pendekatan yang dibahas untuk mempertimbangkan aspek gender dalam pengambilan keputusan investasi. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas akses pendanaan bagi usaha yang dipimpin perempuan sekaligus membuka peluang finansial bagi investor.
Bappenas Soroti Investasi Berkelanjutan
Bappenas menilai investasi berdampak dapat membantu menjawab kebutuhan pembiayaan pembangunan berkelanjutan Indonesia yang dalam siaran pers diperkirakan mencapai US$1,7 triliun hingga US$8,7 triliun.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, mengatakan forum tersebut diharapkan tidak hanya memobilisasi modal swasta, tetapi juga mempercepat manfaat pembangunan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pemerintah mendorong pembiayaan campuran, kolaborasi lintas sektor, dan mekanisme pengurangan risiko untuk memperluas peluang investasi. Sejumlah bidang yang disoroti antara lain transportasi ramah lingkungan, energi terbarukan, kesehatan, pendidikan, dan usaha mikro.
Selain akses modal, kesiapan usaha menerima investasi juga menjadi tantangan. COO Instellar Impact, Adisti Chandra, mengingatkan bahwa mengikuti program akselerator belum tentu membuat suatu usaha memenuhi persyaratan investor. Kinerja bisnis, tata kelola, skala, dan kesiapan usaha tetap menjadi pertimbangan dalam proses pendanaan.
Indonesia Impact Investment Summit 2026 diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat hubungan antara investor dan pelaku usaha. Tindak lanjut melalui penilaian usaha dan pembahasan skema pembiayaan menjadi penting agar pertemuan tersebut menghasilkan akses modal yang lebih sesuai bagi bisnis yang sedang berkembang. (Eff)



