Rumah Kedua yang Mengubah Hidup Meisya
5 mins read

Rumah Kedua yang Mengubah Hidup Meisya

VakansiInfo, Jakarta – Tiga tahun lalu, Meisya Wulandari melangkahkan kaki ke sebuah sanggar dengan perasaan yang jauh dari harapan. Saat itu, remaja yang masih duduk di bangku SMP tersebut bukan datang untuk memulai perjalanan baru. Ia justru berniat mengakhiri semuanya bahkan sebelum sempat mencoba.

Di balik senyumnya, Meisya memendam beban yang tak ringan. Persoalan keluarga membuatnya merasa harus tumbuh lebih cepat dari usianya. Sang ayah bekerja sebagai perajin mebel dengan penghasilan yang pas-pasan, sementara ibunya lebih sering menghadapi berbagai persoalan rumah tangga seorang diri. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia juga menyaksikan banyak remaja seusianya terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

Semua itu membuatnya merasa harus selalu kuat demi keluarganya.

Suatu hari, seorang teman mengajaknya bergabung dengan AFTAC (Accor Foundation Technical Academy Center), program tanggung jawab sosial (CSR) Accor Group yang dijalankan melalui Sanggar Atpak. Meisya sempat mengira tempat itu hanyalah bimbingan belajar biasa.

Namun sebelum benar-benar memulai, ia memutuskan untuk mengundurkan diri.

Keputusan itu justru mempertemukannya dengan Tonton, seorang pekerja sosial sekaligus mentor di sanggar.

Tidak ada bujukan ataupun nasihat panjang. Tonton hanya mengajaknya berbincang dan mendengarkan setiap cerita yang selama ini dipendam Meisya.

Setelah percakapan itu selesai, Tonton mengucapkan satu kalimat sederhana.

“Kamu bisa melakukan banyak hal di sini yang mungkin belum pernah kamu dapatkan di rumah.”

Bagi sebagian orang, kalimat tersebut mungkin terdengar biasa. Namun bagi Meisya, itulah titik balik yang perlahan mengubah jalan hidupnya.

Menemukan Potensi yang Selama Ini Tersembunyi

Hari demi hari di Sanggar Atpak membuka pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia memang belajar matematika, bahasa Inggris, dan komputer. Namun pelajaran yang paling membekas justru datang dari percakapan-percakapan setelah kelas usai.

Di ruang sederhana itu, Meisya mulai belajar mengenal dirinya sendiri.

Ia mencoba memainkan gitar dengan lebih serius, mengikuti latihan taekwondo, bernyanyi, hingga menulis puisi. Kemampuan bermain gitar yang awalnya hanya menjadi hobi bahkan membuatnya dipercaya mengajarkan teman-temannya.

Sedikit demi sedikit, rasa percaya diri yang selama ini tersembunyi mulai tumbuh.

“Di sini saya sadar ternyata saya punya banyak kemampuan yang sebelumnya tidak pernah saya tunjukkan kepada siapa pun,” ujar Meisya.

Tak hanya menemukan bakat, ia juga mulai berani berbicara terbuka kepada kedua orang tuanya mengenai apa yang selama ini dirasakan.

Baginya, sanggar mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar mengejar nilai sekolah, tetapi juga memahami diri sendiri dan menghadapi kehidupan.

Rumah Kedua yang Selalu Menerima

Seiring berjalannya waktu, Sanggar Atpak tak lagi terasa seperti tempat belajar.

Tempat itu berubah menjadi rumah kedua.

Sebuah ruang yang menerimanya tanpa menghakimi, tanpa menanyakan latar belakang keluarganya, dan tanpa memaksanya menjadi orang lain.

Selalu ada teman untuk berbagi cerita dan mentor yang bersedia mendengarkan setiap kegelisahan.

Tak jarang Meisya baru pulang ketika malam mulai turun.

Awalnya, sang ibu sempat khawatir melihat putrinya sering berada di luar rumah hingga larut. Namun setelah beberapa kali mengikuti pertemuan orang tua di sanggar, kekhawatiran itu berubah menjadi rasa percaya.

Kini, sang ibu justru merasa tenang ketika mengetahui Meisya berada di sana.

Kepercayaan tersebut bukan tanpa alasan.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Meisya menyaksikan sendiri bagaimana sejumlah remaja kehilangan masa depan akibat pergaulan bebas. Beberapa di antaranya bahkan harus menikah di usia muda karena hamil di luar nikah.

Bagi keluarganya, sanggar menjadi ruang aman yang membantu menjaga masa depan Meisya.

Kesempatan yang Membuka Jalan Masa Depan

Perjalanan Meisya di AFTAC terus menghadirkan berbagai kesempatan.

Ia dua kali terpilih sebagai Best Student AFTAC dan memperoleh kesempatan mengikuti program pembelajaran di Yogyakarta maupun Bali.

Di sekolah, ia juga aktif mengikuti organisasi dan berbagai kompetisi.

Prestasi dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) melalui lomba cipta puisi yang diraih selama dua tahun berturut-turut menjadi bukti bahwa kesempatan mampu melahirkan perubahan besar dalam hidup seseorang.

Namun bagi Tonton, pencapaian bukanlah tujuan utama.

Sebagai pekerja sosial, ia melihat satu hal yang jauh lebih penting dalam diri Meisya.

Rasa ingin tahu.

“Dia selalu berani bertanya. Banyak anak sebenarnya memiliki potensi, tetapi tidak semuanya berani menunjukkannya,” ujarnya.

Menurut Tonton, tugas seorang pendamping bukan menciptakan anak-anak hebat, melainkan membantu mereka menemukan kemampuan yang selama ini tertutup oleh berbagai keadaan.

“Saya hanya membantu membuka apa yang sebenarnya sudah ada di dalam diri mereka,” katanya.

Ingin Menjadi Sosok yang Menguatkan Orang Lain

Kini, di usia 18 tahun, Meisya telah memiliki cita-cita yang lahir dari perjalanan hidupnya sendiri.

Ia ingin melanjutkan pendidikan di bidang kesejahteraan sosial.

Bukan semata karena profesi tersebut menarik, melainkan karena ia pernah merasakan bagaimana kehadiran satu orang yang mau mendengarkan mampu mengubah hidup seseorang.

Ia ingin menjadi orang yang melakukan hal serupa bagi mereka yang sedang berjuang.

“Saya ingin membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan seperti yang pernah saya alami. Jangan sampai mereka merasa sendirian,” tuturnya.

Bagi Meisya, perubahan besar tidak selalu diawali oleh peristiwa yang luar biasa.

Terkadang, semuanya bermula dari keputusan sederhana untuk bertahan satu hari lebih lama.

Dari sebuah sanggar yang sederhana, ia menemukan lebih dari sekadar tempat belajar. Ia menemukan rumah kedua, orang-orang yang percaya pada kemampuannya, dan keyakinan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh dari mana seseorang berasal, melainkan oleh siapa yang bersedia memberikan kesempatan untuk tumbuh. (Nda)

About The Author