Tangis dan Rindu di Balik Pintu Rumah Sakit: Pertemuan Narvella dan Nathania yang Bikin Hati Remuk
8 mins read

Tangis dan Rindu di Balik Pintu Rumah Sakit: Pertemuan Narvella dan Nathania yang Bikin Hati Remuk

Sahabatku Adalah Inspirasiku (Chapter 1 bagian 7)

VakansiInfoNathalia menutup pintu dari luar dan pergi ke kamar lain tanpa menimbulkan suara. Di dalam kamar, yang terdengar hanya detak jantungku dan juga suara detak jam. Aku memberanikan diri untuk berjalan mendekat. Nathania menatapku tanpa berkedip. Saat aku berdiri di samping ranjangnya, dia tersenyum lembut.

“Halo, Vella.”

“Hai, Nathania.”

Aku membenarkan tas yang ku gendong sejak tadi. Aku menarik kursi yang berada di ruangan luas itu dan duduk di atasnya. Nathania menatap wajahku dengan seksama. Aku balik menatapnya, tanpa sadar senyum kami terbit. Tawa ringan keluar dari belahan bibirnya.

“Kamu banyak berubah dari terakhir kali kita ketemu, Vella.”

Dia meraih tangan kananku dan menggenggamnya. Mengusapnya pelan, “kamu jauh lebih berani. Jauh lebih percaya diri, dan jauh lebih dingin.”

“Dingin?”

“Aku ngerasa kamu jadi lebih dingin dan pendiam. Walau aku tahu kamu nggak sebegitu pendiam saat berhadapan dengan Narisa.”

“Kamu kenal Narisa?”

“Dia adik sepupuku.”

“Begitu ya, aku baru tahu.”

Raut wajah Nathania berubah serius. “Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu, Vella.”

“Apa itu?”

Nathania melepaskan genggaman tangan kami. Aku menatap tanganku, rasanya kosong, seolah aku akan segera kehilangan sesuatu yang berharga. Nathania menarik tutup salah satu laci meja dan mengambil sebuah benda berbentuk bulat dengan pita dan tangkai bunga mawar putih di atasnya. Dia menyerahkan benda itu padaku. Senyumnya mengembang sempurna.

“Selamat ulang tahun yang ke 14 tahun, Narvella Lazendra.”

Tanganku sedikit gemetar saat menerima benda itu. Aku tidak kuasa menahan air mataku. Ini adalah pertama kalinya aku menerima hadiah dari seseorang yang berharga di hari ulang tahunku.

Nathania mengulurkan tangannya dan mengusap air mataku. Sorot matanya hangat dan senyumnya begitu manis hingga aku merasa bahkan ratusan cokelat Silverqueen tidak cukup untuk menandingi manisnya senyum Nathania.

Aku menyentuh tangannya, tersenyum tipis. “I love the gift, even though I don’t know what’s in it. Thank you, Nathania. I love you.”

“Aku suka hadiah ini, meskipun aku tidak tahu isinya. Terima kasih, Nathania. Aku sayang kamu.”

“I love you more, Vella.”

Aku melepaskan genggaman tanganku. “Boleh aku peluk kamu?”

“Apa sih yang nggak boleh buat Vella kesayanganku ini?”

Aku terkekeh kecil dan menghambur ke pelukannya. Tangannya bergerak pelan mengusap punggungku. “Aku kangen banget sama kamu, tapi aku nggak bisa bilang itu. Gimana kalau ternyata cuma aku yang kangen sama kamu? Kamu kan bukan tipe orang yang akan mengungkapkan perasaan kamu meskipun kamu mau, Vella.”

Aku memeluknya lebih erat, bergumam pelan. “Aku juga kangen kamu, Nathania. Aku kangen banget sama kamu, sampai aku nggak tahu harus lampiaskan perasaan ini ke siapa.”

“Bagus deh kalau gitu, karena ternyata bukan aku doang yang kangen. Jadi kita sama-sama sakit karena nggak tahu harus lampiaskan perasaan ini ke siapa.”

Tawa kecil lolos begitu saja. Aku melepaskan pelukan kami dan menggenggam tangannya. Aku tidak tahu kenapa perasaan buruk ini tidak kunjung hilang tapi untuk saat ini aku hanya ingin fokus padanya. Aku tidak mau dia merasa tidak dihargai karena aku memikirkan hal lain saat sedang bersama dengannya.

Baca Juga  Smackdown, Soto, dan Syahwat Fashion (1)

“Gimana perkembangan novel kamu?”

“Lumayan lancar, walau kadang aku kehabisan ide dan rehat sejenak sebelum mulai lanjut lagi.”

Nathania mengangguk mengerti. “Itu mah masalah yang sering di alami para penulis gak sih? Kamu juga kan penulis, jadi itu wajar. Kalau kamu terus-menerus dapet ide di waktu dekat, bisa-bisa kamu tenggelam dalam dunia imajinasi kamu karena ide yang mengalir deras sampai berubah jadi lautan kata.”

Mendengarnya membahas tentang novel, aku teringat sesuatu. “Oh iya, aku juga punya sesuatu untuk kamu.”

“Apa tuh?”

Aku membuka ritsleting tasku dan menarik keluar buku diary ku. Aku menyerahkan buku itu padanya. “Aku membuat cerita ini khusus untuk kamu, hanya perlu beberapa bab lagi untuk mencapai ending.”

Nathania menerimanya, bertanya bingung. “Kenapa kamu memberikannya padaku? Bukankah seharusnya kamu menyelesaikan ceritanya dulu? Kamu mau buat aku mati penasaran ya?”

“Haruskah aku menyelesaikan cerita itu untukmu sekarang? Kebetulan juga ada beberapa ide yang belum aku tuangkan.”

“Nggak udah maksain diri gitu lah. Btw, cerita dalam buku yang dulu kamu kasih ke aku, aku suka banget sama alurnya. Kamu hebat banget karena bisa nyiptain alur serumit itu. Awalnya aku kira cuma tentang persahabatan biasa tapi ternyata jauh lebih gelap dari itu.”

Nathania menarik keluar sebuah buku dari balik bantalnya. “Sampai sekarang pun masih aku simpen loh. Aku juga suka baca ulang kalau ada waktu luang. Walau udah baca berkali-kali, tetep aja nggak bikin bosen. Berkali-kali juga aku dibuat kesel, sama seneng juga sih.”

Aku terdiam sepersekian detik. Aku tidak tahu jika dia masih menyimpan buku itu sampai sekarang. Perasaan senang membanjiri hatiku hingga rasanya aku akan ikut tenggelam jika Nathania tidak menarik tanganku.

“Kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa kan? Aku terlalu bawel ya hari ini? Aku nggak banyak ngomong lagi deh. Vel? Jangan diem aja dong!”

Aku tersentak pelan. “Aku nggak kenapa-napa kok, Tha. Aku suka kamu yang bawel, lebih asyik di ajak ngobrol. Aku cuma nggak nyangka aja, ternyata kamu masih simpen buku itu sampai sekarang. Aku nggak tahu harus ngomong apa sampai rasanya aku mau pergi aja karena malu denger pujian dari kamu.”

Mata Nathania berbinar cerah, “beneran nih? Kamu malu karena aku puji? Kalau orang lain yang puji kamu, kamu malu juga atau nggak?”

“Nggak, karena aku nggak kenal mereka.”

“Kalau ayah atau ibu kamu yang puji, gimana?”

“Itu beda cerita, Thania.”

Nathania terdiam, beberapa saat kemudian tertawa lebar. “Akhirnya kamu manggil aku pake nama itu lagi, Vella. Aku seneng banget!” serunya dan membawaku ke dalam pelukannya.

Baca Juga  Cerpen Sahabatku Adalah Inspirasiku: Kisah Persahabatan, Rindu, dan Janji yang Tertunda

Kali ini giliranku yang mengusap punggungnya. Dia melepaskan pelukannya dan mencubit kedua pipiku. “Udah nggak kaku lagi sekarang?”

“Nggak, udah terobati juga kangennya.”

“Jangan gitu dong, Vella. Kamu harus terus kangen sama aku, biar adil! Masa aku doang sih yang masih kangen sama kamu meskipun kita udah ketemu dan ngobrol banyak? Kapan-kapan kita main lagi ya?”

Aku tidak tahu kapan waktu itu akan datang lagi. Waktu saat aku bisa bermain denganmu dan membicarakan banyak hal. Bukan hanya kamu, Nathania. Aku juga merasakan hal yang sama. Apakah perasaan rindu yang sudah dipendam selama bertahun-tahun ini akan terobati begitu saja hanya karena kita bertemu satu kali?

Aku harap perasaan buruk ini hanya perasaan saja dan tidak akan menjadi kenyataan. Itulah yang aku harapkan, tapi memang tidak semua harapan akan terkabul begitu kita meminta. Begitupun dengan aku yang terlalu sibuk berharap sampai lupa melihat kenyataan yang ada di depan mata.

Rananzy Ninxy Halstera Sahabatku adalah Inspirasiku

Profil Penulis

Rananzy Ninxy Halstera adalah seorang pelajar SMA yang memiliki ketertarikan besar dalam dunia kepenulisan, khususnya cerita fiksi bertema persahabatan, kehidupan remaja, dan emosi yang mendalam. Sejak usia muda, ia telah mulai mengekspresikan ide dan perasaannya melalui tulisan, menjadikan setiap karyanya terasa personal dan penuh makna.

Melalui cerita-ceritanya, Rananzy berusaha menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang hubungan antar manusia, kehilangan, serta perjalanan menemukan jati diri. Gaya penulisannya yang sederhana namun menyentuh membuat pembaca mudah terhubung dengan setiap karakter yang ia ciptakan.

Ke depan, Rananzy memiliki impian untuk menerbitkan novel pertamanya dan terus berkembang sebagai penulis yang mampu menginspirasi banyak orang melalui karya-karyanya. (Red)

About The Author