Vakansiinfo – Pada tahun 2019, Komisi EAT Lancet menerbitkan laporan yang menyoroti pentingnya pola makan berkelanjutan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan global sambil menjaga kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan (planetary health diet). Laporan ini menekankan perlunya transformasi pola makan secara signifikan pada tahun 2050. Termasuk meningkatkan konsumsi makanan sehat seperti buah-buahan, sayuran, legum, kacang-kacangan lebih dari dua kali lipat. Serta mengurangi konsumsi pangan kurang sehat hingga lebih dari 50%.
Namun, tantangan besar masih di hadapi, terutama karena banyak populasi dunia menghadapi beban kekurangan gizi yang signifikan. Selain itu, upaya memenuhi kebutuhan mikronutrien dari makanan sumber tanaman saja seringkali tidak mencukupi. Sehingga peran makanan sumber hewani perlu di pertimbangkan dengan hati-hati berdasarkan konteks lokal dan regional.
Menjelang penerbitan Laporan EAT Lancet 2 pada tahun 2025. Organisasi GAIN dan EAT, bersama dengan Kenya dan Indonesia sebagai anggota platform Food and Land Use Coalition (FOLU). Bekerja sama untuk memastikan rekomendasi laporan tersebut dapat di terapkan. Sebagai bagian dari kolaborasi ini, di adakan proyek kompetisi lokal. Untuk mendorong pergeseran pola makan berkelanjutan yang relevan secara kontekstual dan di terima oleh masyarakat.
Sama seperti di Kenya, di Indonesia, inisiatif ini di wujudkan melalui “2024 Dietary Shift – DISH Competition” yang bertujuan mengidentifikasi solusi inovatif untuk pola makan sehat dan berkelanjutan. Kompetisi ini berfokus pada peningkatan konsumsi buah, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan makanan laut, serta pengurangan konsumsi gula, lemak jenuh, dan makanan olahan. Selain itu, pola konsumsi daging, unggas, dan produk susu di evaluasi sesuai kapasitas produksi yang berkelanjutan di setiap wilayah.
Kompetisi DISH di Indonesia berlangsung pada Oktober-November 2024 dengan 411 peserta yang mendaftar. Proses penjurian melibatkan lima pakar dengan latar belakang akademisi di bidang kesehatan, pangan, dan kebudayaan, chef, serta praktisi bisnis, 15 peserta terpilih berhasil menghadirkan solusi inovatif yang sejalan dengan Planetary Health Diet dari Laporan EAT-Lancet. Tidak hanya sekedar memberikan kontribusi pada upaya menangani tantangan gizi rangkap tiga, yaitu kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan defisiensi mikronutrien, kompetisi ini diharapkan juga mempromosikan pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Untuk mempublikasikan hasil kompetisi dan mendorong tindakan nyata dari berbagai pihak, acara Finale Kompetisi DISH 2024 di adakan. Di harapkan, kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran publik dan memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan pola makan sehat dan berkelanjutan di Indonesia.
(Eff)