
Tak Cukup Harmonis! Menaker Yassierli Warning: Tanpa Kolaborasi, Industri Bisa Kalah
VakansiInfo, Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, akhirnya buka suara soal stigma lama yang kerap memicu gesekan di dunia kerja: serikat pekerja dianggap sebagai “lawan” perusahaan.
Dengan nada tegas, ia membalik persepsi tersebut.
“Serikat pekerja bukan musuh perusahaan,” tegasnya.
Pernyataan ini disampaikan saat penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) ke-XVI antara manajemen PT Bridgestone Tire Indonesia dan serikat pekerja di Karawang, Jawa Barat—sebuah momen yang disebutnya jauh lebih penting dari sekadar seremoni.
Di tengah tekanan ekonomi global yang makin brutal, Yassierli menilai pola lama hubungan industrial sudah tidak cukup. Harmonis saja tidak cukup. Dunia kerja butuh lompatan besar: kolaboratif dan transformatif.
Artinya jelas—pekerja dan perusahaan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Selama ini, hubungan “harmonis” sering berhenti pada kesepakatan di atas kertas. Tapi menurut Menaker, realitas industri hari ini jauh lebih keras: efisiensi, inovasi, dan daya saing jadi taruhan utama.
Tanpa kerja sama yang nyata, keduanya bisa sama-sama tumbang.
Di sinilah peran serikat pekerja berubah drastis. Bukan pengganggu, melainkan pengawal hak sekaligus mitra strategis yang menjaga stabilitas perusahaan dari dalam.
PKB pun disebut sebagai “senjata utama” untuk meredam konflik sebelum meledak. Dengan aturan yang jelas, potensi gesekan bisa ditekan, sementara produktivitas justru terdorong naik.
Lebih jauh, Yassierli mengingatkan bahwa tantangan global tidak bisa dihadapi dengan ego sektoral. Perubahan industri, tekanan efisiensi, hingga kompetisi internasional menuntut satu hal: soliditas.
Jika pekerja dan perusahaan gagal bersatu, dampaknya bukan hanya pada bisnis—tetapi juga masa depan tenaga kerja nasional.
“PKB harus jadi fondasi lingkungan kerja yang adil, produktif, dan berdaya saing,” tutupnya.
Pesannya jelas: ini bukan lagi soal hubungan baik—ini soal bertahan atau tertinggal. (Mur)



