VakansiInfo, Jakarta – Pergantian pelatih tim nasional hampir selalu menghadirkan dua hal sekaligus: harapan dan tanda tanya. Ketika PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia pada awal 2026, reaksi publik pun langsung beragam. Namanya mungkin belum terlalu akrab di telinga sebagian suporter, namun rekam jejaknya berbicara jauh lebih lantang dibanding sekadar popularitas.
John Herdman bukan tipe pelatih dengan gaya flamboyan atau janji-janji besar. Ia dikenal sebagai pembangun fondasi—sosok yang terbiasa bekerja dari bawah, merapikan struktur tim, lalu menumbuhkan kepercayaan diri secara bertahap. Sebagian besar kariernya dihabiskan di level sepak bola internasional, khususnya dalam membentuk identitas tim nasional yang sebelumnya tidak diperhitungkan sebagai kekuatan utama.
Namanya mulai mendapat perhatian luas saat menangani tim nasional Kanada. Herdman mencatat sejarah dengan membawa tim nasional wanita dan pria Kanada sama-sama tampil di Piala Dunia, sebuah pencapaian langka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bersama tim wanita, ia sukses meraih dua medali perunggu Olimpiade pada 2012 dan 2016. Sementara di tim pria, ia mengakhiri penantian panjang Kanada selama 36 tahun untuk kembali tampil di Piala Dunia 2022.
Namun, keunggulan Herdman tidak hanya terletak pada hasil akhir. Ia dikenal sebagai pelatih yang menaruh perhatian besar pada pembangunan budaya tim—mulai dari disiplin, kebersamaan, hingga keyakinan bahwa tim mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Di Kanada, ia mewarisi skuad yang terpecah dan diliputi keraguan. Dalam beberapa tahun, tim tersebut bertransformasi menjadi kelompok yang solid, kompetitif, dan memiliki identitas permainan yang jelas.
Pendekatan Herdman terbilang sederhana, namun tegas. Ia bukan pelatih yang gemar memamerkan taktik rumit ke publik. Fokusnya justru pada hal-hal mendasar: kebiasaan kecil di ruang ganti, komunikasi yang jelas di lapangan, serta konsistensi dalam proses latihan. Banyak pemain yang pernah bekerja di bawah asuhannya menyebut Herdman sebagai sosok yang mampu membangkitkan keyakinan, bahkan saat dunia luar belum sepenuhnya percaya pada kemampuan mereka.
Kini, tantangan serupa menantinya di Indonesia. Ia datang ke negara dengan gairah sepak bola yang luar biasa, ekspektasi publik yang tinggi, serta sejarah panjang pergantian pelatih. Herdman hadir bukan sebagai penyelamat instan, melainkan sebagai arsitek tim untuk jangka menengah hingga panjang, membawa pengalaman membangun tim dari nol.
Perjalanan ini tentu tidak akan singkat. Kritik kemungkinan datang lebih cepat daripada pujian. Namun jika melihat pola kariernya, Herdman bukan pelatih yang tergesa-gesa mengejar hasil cepat tanpa fondasi yang kuat. Ia memilih membangun arah yang jelas, lalu membiarkan hasil mengikuti proses.
Bagi Timnas Indonesia, penunjukan John Herdman dapat dibaca sebagai sinyal perubahan pendekatan—dari sekadar mengejar hasil sesaat, menuju proses pembangunan yang lebih terstruktur. Waktu akan menjawab sejauh mana visinya dapat terwujud. Namun satu hal pasti, Garuda kini dipimpin oleh pelatih yang terbiasa bekerja di bawah tekanan ekspektasi nasional, dan memahami bahwa membangun tim bukan soal bicara lantang, melainkan soal kerja konsisten dan berkelanjutan. (Acil)



