Operasi Diam-Diam Robot Gedeg yang Gagal Total
Bukan soal jatuhnya, tapi siapa yang nonton.
VakansiInfo – Sore itu, nyaris saja terjadi tragedi besar.
Si Robot Gedeg—yaitu saya sendiri, Acilo—dalam usia emas tiga tahun, hampir terjun bebas ke dalam aliran sungai kecil yang entah kenapa terasa seperti Grand Canyon bagi tubuh saya yang mungil.
Headline-nya bisa jadi:
“Balita Tersandung Petualangan.”
“Anak Kecil Ditemukan Sedang Menantang Arus.”
Padahal saya juga pernah mengalami insiden tragis lainnya. Misalnya waktu nyangkut di kolong ranjang gara-gara nguber mobil-mobilan. Bukan sekali dua kali. Tapi yang paling epik adalah saat saya mencoba merangkak ke tempat Ka Ucrit sembunyiin boneka serem—dan saya nggak bisa mundur. Nangis, sambil bawa Hot Wheels di mulut. Kayak anak anjing yang nyerah dalam perang.
“Dia ketahan perutnya!”
“Bukan! Ini strategi!” (teriak saya… dalam hati.)
Tapi sore itu beda. Lebih dramatis. Lebih cinematic.
Untungnya, malaikat penolong datang.
Seorang wanita muda muncul dari arah rumah depan. Dia lari sambil gendong bayi baru lahir—bayinya anteng, mungkin belum sadar lagi diajak sprint sore-sore. Si ibu langsung nahan saya sebelum semesta ambil keputusan yang lebih tragis.
“Ya ampun, dek! Jangan main di situ, nanti keceemplung!”
Logat Jawa-nya medhok, suaranya lembut. Khas ibu muda yang manis parasnya.
Saya cuma senyum dan bilang,
“A-a-a-aaa…”
(Mungkin maksudnya: “Terima kasih telah menyelamatkan masa depan bangsa.”)
Emak Yan keluar rumah. Liat saya udah di ujung kali, hampir kepleset, dan diselamatkan sama tetangga yang baru.
Dua ibu muda, dua anak kecil.
Yang satu masih ngulet di gendongan.
Yang satu lagi (saya) jalannya miring, bajunya lucu, identitasnya sering dipertanyakan.
“Oh… saya kira tadi anak perempuan. Soalnya lucu banget sih, putih, bersih, bajunya juga imut.”
Emak ketawa:
“Sering banget dikira cewek. Kalau ke pasar malah diciumin mbak-mbak.”
Saya berdiri tegak di situ.
Sedikit gemetar. Sedikit mikir: Kenapa identitas saya selalu dipertanyakan?
Ternyata ibu muda itu istri Pak Rendra, tetangga depan rumah.
Mereka baru pindah. Sejak hari itu, Emak punya teman ngobrol baru. Saya?
Punya saksi mata baru untuk setiap misi gagal:
Jafar, bayi pendiam yang nyimak semua kejadian dari balik gendongan.
Hari-hari berlalu.
Tiap subuh, Pak Karna berangkat kerja pakai setelan pabrik. Katanya sih merancang mimpi-mimpinya. Emak Yan cantik selalu nganterin sampai pintu.
Kadang nyuruh si insinyur bodoh itu buat nyisir rambut dengan gaya koboy.
“Ntar kalo gue ganteng, banyak yang naksir, lu marah lagi,”
kata Pak Karna sambil ngaca.
Emak nyengir. Tersipu.
Sementara itu, saya terjebak di rumah.
Ka Ucrit sibuk baca, main boneka, nari, nyanyi…
“Membosankan!”
Saya duduk sambil ngunyah, bosen banget.
Saya pengen liat kali. Liat Ican. Jalan-jalan kayak kemarin.
Dan saya mulai misi lagi… diam-diam.
Satu langkah demi satu langkah.
Langkah krekok. Jalan oleng.
Sampai—bruk! Jatuh lagi di undakan kecil antara pintu dan teras.
“I’m ok. No problem. Lanjutkan misi.”
Saya nengok kiri, nengok kanan.
“Berapa langkah lagi ke jembatan?”
Tapi… penjaga datang.
“Kamu ngapain di situ?”
Saya nyengir.
Ka Ucrit keluar bawa belanjaan.
“Mah, ini belanjaannya.”
“Itu si Acilo keluar lagi, bawa masuk aja.”
Saya pun digendong masuk.
Robot Gedeg kembali ke markas.
Misi: gagal. Lagi.
Tapi Emak cuma ketawa kecil:
“Biarin aja…
…mungkin nanti dia bakal jadi petualang besar.”
(atau tukang gali sumur.)
(Acil)