Sab. Agu 30th, 2025

Ngempeng, Nimpuk, dan Kambing yang Bikin Baper

Ngempeng, Nimpuk, dan Kambing yang Bikin Baper
Kenangan absurd masa kecil bareng rRobot KW nimpuk kambing gara-gara susu botolnya jatuh dan terguling sendirian, sementara si kambing malah nyusu santai sambil ngeloyor—Emak cuma bisa geleng-geleng liat keributan nggak penting di sore yang tenang.

VakansiInfo – Setelah malam itu kami pulang dengan perut kenyang dan pipi diguyur angin becak turbo, hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Tapi buat Acilo, si Robot Gedeg, tidak ada yang benar-benar “biasa”. Bahkan duduk selonjoran sore hari pun bisa berubah jadi perang dunia kecil.

Terasa begitu sangat lambat waktu yang berlalu kala itu. Satu per satu langkah si Robot Gedeg kian melaju… meski gerakannya sih kayak kura-kura albino. Lelet beud, lelet yang ada nadanya.

Sementara itu, Pak Karna tampak asik dengan perannya sebagai insinyur bodoh yang sibuk ngoprek entah apa, mungkin sedang mengukur kelembapan udara dengan penggaris segitiga. Emak Yan sudah mulai terbiasa tinggal di desa. Pagi-pagi nyapu halaman, masak di dapur sambil sesekali mencuci, bahkan kadang kelihatan lagi motongin sayur sambil ketawa-ketawa sendiri nonton sinetron di radio.

Ka Ucritt? Aduh jangan ditanya. Di sekolah belajar, di rumah juga belajar. Hobi yang langka. Hahaha.

Lalu, si Robot Gedeg ngapain? Jalan-jalan dong ah. Keluar masuk rumah, ngelongok ikan di bawah jembatan, lalu kembali mengompol dengan penuh percaya diri. Dan tentu saja, nenteng botol susu ke mana-mana, udah kayak tentara nenteng senjata wajib. Kadang nyedot, kadang cuma digenggam erat, seolah itu benda paling berharga di dunia—ngempeng deluxe edition.

Sore itu, dia duduk selonjoran di depan rumah. Rasanya adem, sejuk, dan tenang. Angin dari arah hutan bambu berdesir pelan, daunnya berbisik-bisik, seolah sedang bergosip tentang siapa yang tadi pagi nyuci baju pakai deterjen tetangga.

Dia duduk di depan pagar kayu rumah. Rumah paling pojok di dalam gang, bentuknya standar, tapi hook tanahnya cukup luas. Di depan rumah, pohon hias panjang-panjang berwarna kuning tumbuh berjajar. Ditemani pohon jeruk limo kecil yang durinya kayak punya dendam masa lalu. Di pojok dekat jembatan menuju hutan bambu, ada pohon belimbing sayur—favorit keluarga. Di seberangnya, berdiri gagah rumah Pak Rendra, rumah panjang bertembok putih beton, pagar hitam ukir-ukiran lengkap dengan garasi dan pohon belimbing juga.

Baca Juga  Kemenkominfo Gelar Literasi Keuangan Untuk Hindari Jebakan Pinjaman Online

Setelah puas menikmati semilir angin dan memandangi ujung gang seolah sedang menanti kiriman wesel pos, si Robot Gedeg menoleh ke belakang. “Seger juga kali ya mandi di kucuran Aer di samping hutan bambu itu?” pikirnya. Tapi dia cepat sadar, “bisa rusak nih onderdil gue kalau nyemplung sekarang.”

Belum selesai dia menikmati indahnya sore, kupingnya tiba-tiba menangkap suara familiar: “Mbee… mbee…”

Suara ini… dia pernah dengar! Flashback langsung muter di kepalanya.

Dari arah jembatan, muncul sesosok makhluk kecil berbulu putih. Seorang anak kambing, atau domba—ah, pokoknya jenis yang suka lari kencang dan susah ditangkap.

Dengan sigap, si Robot Gedeg berdiri dari duduk santainya. Botol susunya jatuh terguling di antara tanah dan batu-batu kecil. Dia menatap anak kambing itu. Anak kambing itu menatap balik. Mata bertemu mata. Kaya mau adu domba.

Mungkin dalam hati anak kambing bilang, “Minggir, Bro. Gue mau lewat.” Dan dalam hati si Robot Gedeg membalas, “Mau lari ke mana lu? Kemarin udah makanin pohon belimbing ayah gue!”

Namun sebelum tatapan itu mencapai babak final, suara dari arah belakang menggelegar, “MBEEEHH!” Langkah kaki kecil-kecil mulai berdatangan dari jembatan. Sekawanan kambing dan domba menyerbu, seperti sedang reunian alumni kandang.

Robot Gedeg kaget, “Wah curang, lu bawa temen!” Beberapa kambing dewasa menatap sangar ke arahnya. Salah satu kambing remaja bahkan loncat dari belakang dan hampir menabraknya. Si Robot Gedeg jatuh terduduk, kaget bukan main. Tapi meski ketakutan, dalam hatinya dia berseru, “Takkan kubiarkan kalian melewati jembatan ini tanpa melewati gue dulu! Hahaha!” (Tertawanya agak gemeter sih.)

Dan benar saja, kawanan kambing lewat dengan bangga. Yang terakhir, si kambing kecil yang tadi pertama muncul, jalan lempeng melewati Robot Gedeg, seolah berkata, “Kasian deh lu, jatoh.”

Baca Juga  Pentingnya Literasi Digital Cegah Cyberbullying

Si Robot Gedeg menatap ke arah si kambing kecil yang kini mendekati induknya. Beberapa langkah kemudian, kambing kecil itu mulai menyusu. Sesaat, si Robot Gedeg cuma bengong.

Dia memandangi kambing kecil yang tampak tenang, nyaman, dan damai menyusu di bawah lindungan induknya. Mata si Robot Gedeg melirik botol susunya yang tadi jatuh. Botol itu sekarang berdebu, terguling sendirian tanpa pelindung. Hatinya mencelos sedikit.

“Tapi enakan gue, bisa nyedot sambil tiduran,” katanya dalam hati, membesarkan diri.

Tiba-tiba kawanan kambing dan domba itu mulai menyerbu halaman rumah!

Robot Gedeg kaget, “Wah, mereka nyerbu!” Kambing-kambing dewasa mulai menggigiti daun pohon belimbing dan tanaman hias kuning panjang. Beberapa anak kambing sibuk menyusu sambil jalan pelan.

Wah, yang satu itu seumuran gue kayaknya, pikir si Robot Gedeg. Tapi ya beda nasib… yang satu dapet susu dari induk, yang satu botolnya udah guling-guling.

Tanpa pikir panjang, dia langsung meraih batu-batu kecil di depan rumah dan melemparnya ke arah kawanan kambing.

Plak! Pluk! Plak! Pluk! Kayak hujan mortir dari artileri 102 milik TNI AD.

Dari arah dapur, suara teriakan memecah udara: “SIAPA ITU!?”

Emak.

Niatnya mau ngusir kambing, tapi batu-batunya malah nyasar ke kaca nako sama pintu rumah.

“Yah…” gumam si Robot Gedeg.

Emak berlari keluar, wajahnya setengah kaget, setengah jengkel. “Aduh! Itu kambing siapa sih! Rese-rese amat dari kemaren! Kagak dijagain apa yaak?!”

Dia melihat daun-daun pohon belimbing udah habis. “Abis dah pohonnya si Pak Karna…” gumamnya.

Lalu, matanya mencari. “Lah, si Acilo ke mana?”

Dia keluar pagar, nengok kanan, dan… Ternyata di ujung jembatan, si Robot Gedeg masih duduk sambil megang batu.

“Oh… lu ya yang nimpukin kambing tadi?” Emak menahan tawa.

“Udah sini balik dulu, Komandan Mortir,” katanya sambil nyengir.

Lalu emak menggandeng tangan si Robot Gedeg, kembali ke dalam rumah—kalah dari kawanan kambing, tapi menang di hati emak.

(Acil)

Related Post