
Pekan Genting 2026 Perluas Intervensi Stunting, Keluarga Didorong Lebih Mandiri
VakansiInfo, Jakarta – Pencegahan stunting tidak cukup hanya dilakukan melalui pemenuhan nutrisi. Pemerintah mulai memperluas pendekatan dengan mendorong pemberdayaan ekonomi keluarga sebagai salah satu bentuk intervensi bagi keluarga yang berisiko stunting.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari Pekan Genting 2026, yang kembali digelar untuk memperkuat Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).
Deputi Bidang Pergerakan dan Peran Serta Masyarakat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Wahyuniati, mengatakan keluarga perlu mendapatkan dukungan yang dapat membantu mereka menjadi lebih mandiri.
“Kalau kita sebut, kita bisa memberikan kail, tidak umpan terus,” ujar Wahyuniati saat memberikan arahan pada peluncuran Pekan Genting 2026 secara daring melalui Zoom dari Jakarta, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, tidak semua keluarga membutuhkan bentuk bantuan yang sama. Karena itu, kondisi keluarga perlu dipetakan terlebih dahulu agar dukungan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan.
Keluarga berisiko stunting yang membutuhkan dukungan ekonomi nantinya dapat dihubungkan oleh Tim Pengendali Genting (TPG) dengan mitra yang memiliki kapasitas untuk memberikan intervensi.
Bukan Hanya Soal Nutrisi
Selama ini, sebagian besar dukungan dari para mitra masih berupa edukasi dan bantuan nutrisi.
Namun, kebutuhan keluarga sebenarnya bisa jauh lebih beragam. Ada keluarga yang membutuhkan rumah layak huni, dukungan ekonomi, akses layanan kesehatan, maupun pendampingan terkait pola asuh dan pemenuhan gizi.
Hingga akhir Juli 2026, capaian Genting secara nasional telah mencapai sekitar 73 persen.
Melalui Pekan Genting 2026, pemerintah berupaya memperkuat pemetaan kebutuhan tersebut sehingga mitra dapat mengetahui keluarga mana yang membutuhkan dukungan tertentu, sekaligus lokasi dan bentuk intervensinya.
Edukasi Tetap Penting
Meski pendekatan diperluas, edukasi tetap menjadi fondasi dalam pendampingan keluarga.
Wahyuniati menyebut keluarga perlu mendapatkan pemahaman mengenai perilaku hidup sehat, nutrisi anak, pola asuh, akses layanan kesehatan, gizi, hingga keamanan pangan.
“Edukasi ini menjadi fundamental. Apapun intervensi yang kita berikan harus didasari dengan edukasi yang baik,” katanya.
Pertemuan langsung antara Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan keluarga menjadi salah satu cara untuk memahami kondisi secara lebih menyeluruh.
Dari pertemuan tersebut, pendamping dapat mengidentifikasi persoalan yang dihadapi keluarga dan mengkomunikasikan kebutuhan tersebut kepada mitra yang tepat.
Pendampingan Harus Berkelanjutan
Pekan Genting 2026 merupakan pelaksanaan tahun kedua setelah kegiatan serupa digelar pada 2025.
TPK dan kader turun langsung menemui keluarga untuk melakukan validasi kondisi, mengidentifikasi kebutuhan, sekaligus memberikan edukasi.
Pendampingan tersebut diharapkan tidak berhenti setelah satu bantuan diberikan. Kondisi keluarga perlu terus dipantau agar intervensi dapat disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan.
Dengan cara ini, Genting diharapkan tidak hanya membantu keluarga berisiko stunting dalam memenuhi kebutuhan jangka pendek.
Lebih dari itu, program ini diharapkan dapat mendorong keluarga menjadi lebih berdaya, memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan secara mandiri, dan membangun kehidupan keluarga yang lebih sehat secara berkelanjutan. (Mur)



