Talang Air Senoboyo di Sleman, Jejak Teknologi Irigasi dari Masa Lampau
2 mins read

Talang Air Senoboyo di Sleman, Jejak Teknologi Irigasi dari Masa Lampau

VakansiInfo, Sleman – Sebuah pilar beton setinggi sekitar lima meter masih berdiri di tengah hamparan persawahan Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Struktur yang tersisa dari Talang Air Senoboyo ini menjadi saksi sejarah perkembangan teknologi pengairan yang pernah menopang pertanian dan perkebunan tebu di wilayah Sleman barat.

Meski tidak lagi berfungsi, bangunan tersebut menyimpan cerita tentang sistem irigasi yang dibangun sebelum sejumlah proyek pengairan besar di Yogyakarta, seperti Selokan Van der Wijck yang dibangun pada rentang 1909–1931 dan Selokan Mataram pada masa pendudukan Jepang pada 1944.

Pada masanya, Talang Air Senoboyo berperan penting dalam mengalirkan air dari Sungai Krasak menuju lahan perkebunan tebu dan area pertanian. Keberadaannya mencerminkan upaya masyarakat dan pengelola perkebunan saat itu dalam memanfaatkan sumber air untuk mendukung kegiatan agraris.

Mengalirkan Air dari Sungai Krasak

Tokoh masyarakat setempat, Sudiharjono (88), menuturkan bahwa sistem pengairan Senoboyo bermula dari aliran Sungai Krasak. Air dari kawasan pegunungan tersebut dialirkan melalui saluran yang melintasi sejumlah padukuhan, mulai dari Jetis, Celep, Pokoh, Mlinting, Karang, Kemusuh, hingga Bulan.

Baca Juga  Berangkat Pagi, Tiba Malam: Cerita Perjalanan Sindikasi Media Network ke Sleman

Aliran air kemudian menuju Talang Air Senoboyo sebelum diteruskan ke wilayah yang membutuhkan pasokan air. Sebagian jejak saluran pengairan yang dahulu digunakan untuk membawa air menuju talang masih dapat ditemukan di lapangan.

Dari titik tersebut, air dialirkan ke kawasan perkebunan tebu di Padukuhan Susukan, Somokaton, dan Bedilan. Sistem yang sama juga menopang lahan pertanian di Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan.

Konstruksi talang menunjukkan rancangan yang disesuaikan dengan kondisi geografis setempat. Di bagian atas pilar beton terdapat saluran air terbuka dengan lebar sekitar 50 sentimeter dan kedalaman 90 sentimeter.

Ketika jalur air harus melintasi lembah Sungai Jlegong, sistem pengairan ini menggunakan pipa besi berdiameter besar untuk meneruskan aliran air ke sisi lainnya. Teknologi tersebut memungkinkan air tetap menjangkau lahan di seberang sungai meski terhalang bentang alam.

Rusak akibat Gerusan Sungai

Perjalanan Talang Air Senoboyo akhirnya terhenti akibat perubahan kondisi alam. Memasuki dekade 1970-an, arus Sungai Jlegong disebut perlahan mengikis fondasi penyangga talang.

Baca Juga  ARTOTEL Group Optimalkan Wyndham Garden dan Ramada, Bidik Pasar Wisata Yogyakarta–Borobudur

Erosi dan pergeseran tanah membuat pilar tidak lagi mampu menopang struktur di atasnya. Pipa besi yang berfungsi sebagai jembatan air pun roboh dan terputus, sehingga sistem pengairan tersebut tidak dapat beroperasi kembali.

Kini, yang tersisa hanyalah pilar beton di tengah persawahan Tempel. Meski tidak lagi menjalankan fungsi pengairan, struktur tersebut menjadi penanda perjalanan sejarah pertanian di Sleman, sekaligus pengingat bahwa pengelolaan air telah menjadi bagian penting kehidupan agraris masyarakat sejak masa lampau.

Keberadaan Talang Air Senoboyo menyimpan nilai sejarah yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh, terutama terkait perkembangan teknologi irigasi dan perannya dalam menopang pertanian serta perkebunan di wilayah Sleman barat. (Mur)

About The Author